|
BEDAH OTAK CARA BARU DENGAN GELOMBANG SUARA WASHINGTON - Pencitraan menggunakan ultrasound telah umum dimanfaatkan untuk berbagai jenis kepentingan screening. Namun teknologi ini lebih sering digunakan untuk melihat keadaan calon bayi di dalam rahim seorang ibu. Ultrasound adalah perputaran gelombang tekanan suara dengan frekuensi lebih besar dari batas tertinggi pendengaran manusia. Hasil penelitian menyatakan bahwa ultrasound efektif dipakai untuk praktik pengobatan. Hal ini kemudian mengilhami tim dokter di Swiss untuk menciptakan perangkat ultrasound untuk menghilangkan jaringan otak yang rusak tanpa harus melakukan operasi bedah otak. “Dengan cara ini, pasien tidak perlu menjalani pembedahan otak yang berisiko tinggi. Penghilangan jaringan otak yang rusak bisa dilakukan tanpa harus memotong dan menjahit kulit kepala atau sampai melubangi tengkorak kepala,” kata Neal Kassel dari University of Virginia seperti dikutip dari Softpedia, Rabu (29/7/2009). Penggunaan teknologi ini dibantu dengan perangkat Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang akan memberikan gambaran target jaringan otak rusak yang akan dihilangkan. Metode high-intensity focused ultrasound (HIFU) bekerja dengan menciptakan gelombang ultrasound yang sangat kuat dari sebuah alat khusus. Balok ultrasound kemudian diarahkan dengan tepat pada jaringan otak rusak yang telah ditandai. Pada saat suhu ultrasound memanas, hal ini akan turut pula memanaskan masing-masing area dari pusat jaringan yang dikenai ultrasound. Kemudian, panas ini akan membakar semua sel penyakit dalam area tersebut. Uji coba yang sukses dilakukan pada sembilan orang pasien penderita kerusakan otak dan masalah sakit kepala, membuktikan metode pengobatan ini aman diterapkan pada manusia. Gelombang Otak Sebagai Password Para peneliti Kanada kini sedang mengembangkan teknik yang dapat menggunakan gelombang otak untuk mengunci pintu atau memperoleh akses ke layanan bank. Urusan teknik pengamanan menggunakan keunikan tubuh manusia telah banyak dikembangkan para ahli, misalnya sidik jari. Bahkan beberapa perusahaan telah menawarkan pengenalan citra iris (bagian mata) di banyak negara yang ingin menerapkan paspor biometrik. Tapi Julie Thorpe, seorang peneliti di Carleton University di Ottawa mempunyai ide yang lebih gila. Menurutnya, tidak perlu digunakan kartu rahasia, nomor pin, dan bentuk pengaman fisik lainnya untuk mengakses ATM, mengakses data di komputer, atau memasuki gedung dan ruangan rahasia. “Penggunanya juga akan mudah sekali mengingat password-nya,” kata Thorpe. Ia berharap dapat mengembangkan alat pengaman pertama yang membaca gelombang otak sebagai kode tersebut. Idenya memang sangat potensial untuk dikomersialisasikan, dengan asumsi sinyal-sinyal dari otak selalu berbeda antara satu orang dengan lainnya meskipun mereka memikirkan hal yang sama. “Sinyal otak unik seperti halnya sidik jari,” katanya. Ia bekerja sama dengan mahasiswa kedokteran dan peneliti teknologi keamanan Paul Van Oorschrot di Ottawa untuk mewujudkan ide tersebut. Penelitiannya juga bertujuan mengembangkan alat bantu bagi para penderita paralisis untuk mengendalikan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Para penderita paralisis kehilangan kemampuan menggerakaan tubuhnya karena otot-ototnya lumpuh sehingga satu-satunya harapan adalah memanfaatkan gelombang otaknya. Untuk mengubah gelombang otak menjadi perintah komputer yang mengendalikan berbagai peralatan tentu sulit meskipun mungkin. Tapi, menggunakan perbedaan gelombang tersebut untuk menggantikan fungsi password jauh lebih mudah. “Anda dapat menggunakan suara musik atau memori saat kanak-kanak sebagai password bahkan dengan menyodori gambar tertentu, seseorang dapat langsung mengingatnya,” kata Thorpe. Meskipun demikian, ia masih harus memastikan bahwa setiap orang dapat menghasilkan gelombang yang selalu tepat. “Seringkali, tanpa disadari sebuah lagu yang Anda pikirkan mungkin akan mengganggu sinyal sebab banyak sekali proses di dalam otak manusia,” katanya. Selain itu, perangkat komputer untuk memeriksa gelombang otak yang ada saat ini belum terlalu praktis. Electroencaphalogram (EEG) yang digunakan untuk mengukur sinyal-sinyal listrik di otak menggunakan banyak elektroda yang dipasang di kening sehingga untuk sekali pemeriksaan saja membutuhkan waktu lama. Selain itu, pengukuran dengan alat tersebut membutuhkan gel yang harus dioleskan ke kulit kepala agar elektroda tersebut dapat digunakan. Inilah bentuk yang sedang diperbaiki Thorpe sehingga pengukuran gelombang otak dapat dilakukan dengan praktis. Menggerakkan Benda dengan Gelombang Otak Benda-benda digerakkan oleh gelombang otak, tak lagi mustahil. Percobaan ilmiah sudah berhasil membuktikan. Pada tahap awal penerapan prinsip kerja gelombang pikiran sebagai penggerak benda-benda, sistem antarmuka (interface) komputer-otak kini semakin dapat diterapkan. Menurut laporan LiveScience, riset sinyal saraf itu telah mencapai kemajuan yang berarti. Tak heran, penelitian itu menjadi yang paling menarik di bidang rekayasa biomedis. Awal tahun ini, para peneliti melatih empat penderita epilepsi untuk menggerakkan kursor komputer dengan kekuatan pikiran mereka. Para pasien itu tengah menunggu operasi bedah otak. Beberapa lembar tipis elektroda pendeteksi sinyal dipasang pada permukaan otak mereka. Mereka kemudian diminta untuk mengerjakan beberapa tugas, seperti membuka dan menutup telapak tangan serta menjulurkan lidah. Pada saat yang sama, para ilmuwan menilai apakah sinyal-sinyal otak berkaitan dengan gerakan-gerakan itu. Sinyal-sinyal dari gerakan-gerakan tersebut kemudian diselaraskan dengan gerakan kursor di monitor. Misalnya, ketika otak memerintahkan pasien membuka tangan kanan, maka kursor bergerak ke kanan. Pasien juga diminta untuk menggerakkan kursor dari satu titik ke titik lain di monitor. Caranya, dia hanya berpikir tentang pemindahan kursor tersebut. Awalnya, keempat pasien itu merasa kesulitan. Namun, mereka akhirnya mampu mengendalikan kursor dengan pikiran. Setelah beberapa menit, mereka melakukannya dengan tingkat akurasi lebih dari 70 persen. Bahkan, seorang pasien mampu menggerakkan kursor melalui pikirannya dengan tingkat akurasi 100 persen pada akhir percobaan. ”Semua peserta percobaan kami dapat mengendalikan kursor komputer dengan menggunakan sinyal-sinyal otak,” kata Daniel Moran dari Washington University. Penelitian itu membuktikan, sensor-sensor yang ditempatkan di permukaan otak ternyata lebih efektif ketimbang ditanam di jaringan otak atau dikenakan seperti topi. Cara penempatan di permukaan otak itu membuat mereka dapat menerima sinyal lebih stabil dan kuat ketimbang ditanam di jaringan otak atau dikenakan seperti topi. Hanya sedikit riset melibatkan penderita lumpuh total sebagai partisipan penelitian. Salah satunya adalah penelitian di Brown University dan Cyberkinetics Neurotechnology Systems Inc. Studi itu sedang mengembangkan sistem yang disebut BrainGate. Dalam studi ini, sebuah sensor ditanamkan di lapisan luar saraf pemicu gerak primer (tempat otak merespons gerakan). Ukuran alat sensor itu lebih kecil dari uang koin. Sensor tersebut memiliki elektroda setipis rambut yang dimasukkan sekitar satu milimeter di bawah tempurung kepala. Alat itu dapat menangkap sinyal-sinyal elektrik dari saraf-saraf yang memicu gerakan.(livescience-ben-25) |