Mengenal lebih jauh tentang laboratorium biokimia fakultas kedokteran sesi 2

TATA RUANG DAN INFRASTRUKTUR LABORATORIUM

I.  PENDAHULUAN

Pengelolaan laboratorium memerlukan persyaratan yang spesifik agar laboratorium tersebut mempunyai kualitas sesuai dengan fungsinya. Untuk mengoptimalkan fungsi Laboratorium diperlukan adanya persyaratan tata ruang (lay-out) yang sesuai. Tata ruang merupakan syarat utama dari laboratorium yang berkualitas, dimana unsur-unsur seperti infrastruktur, safety manual, peraturan dasar, dan organisasi laboratorium tertata dengan baik. Tata ruang yang baik akan membuat suasana kerja yang aman dan nyaman. Dengan demikian penataan ruang harus diupayakan seoptimal mungkin, sehingga mendukung seluruh rangkaian aktivitas di laboratorium.

  1. TATA RUANG (LAY-OUT)

Perencanaan tataruang sebenarnya harus dilakukan sebelum laboratorium dibangun. Tata ruang yang tepat dan baik akan mendukung pelaksanaan kerja yang berkualitas. Bangunan laboratorium yang telah ada, diupayakan memenuhi persyaratan tataruang yang benar. Suatu laboratorium yang baik idealnya mempunyai:

  1. pintu masuk (in)
  2. pintu keluar (out)
  3. pintu darurat (emergency – exit)
  4. ruang persiapan (preparation-room)
  5. ruang peralatan (laboratorium – room)
  6. ruang asam (fume-hood)
  7. ruang penyimpanan (storage-room)
  8. ruang staf (staff-room)
  9. ruang teknisi (technician room)
  10. ruang administrasi (administration room)
  11. ruang bekerja (activating-room)
  12. ruang istirahat dan ruang ibadah (rest and pray rooms)
  13. ruang prasarana kebersihan (cleaning services)
  14. ruang peralatan keselamatan kerja (safety equipment room)
  15. toilet
  16. lemari praktikan (locker)
  17. lemari glass (glass-rack)
  18. lemari alat-alat optic (opticals-room)
  19. pintu jendela diberi kawat kassa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk.
  20. Kipas angin (fan)
  21. ruangan ber-AC (AC-room), untuk alat-alat tertentu yang memerlukan temperatur terkontrol (Lihat Lampiran.3).
  • INFRASTRUKTUR LABORATORIUM

Infrastruktur adalah segala sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu laboratorium untuk menunjang pelaksanaan kegiatan operasional. Semua fasilitas fisik maupun non-fisik yang tersedia harus berfungsi dengan baik agar hasil kegiatan laboratorium tercapai secara optimal, baik kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini dimungkinkan apabila semua fasilitas infrastruktur laboratorium yang tersedia mampu menunjang semua kegiatan yang dilakukan.

Sarana dan prasarana laboratorium dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu: sarana umum dan sarana pendukung.

3.1 Sarana Umum

  1. Lokasi dan Kondisi Laboratorium

Lokasi laboratorium seharusnya ditentukan oleh site planing yang terpisah dengan bangunan lainnya, seperti gedung perkantoran, ruang kelas, sarana olahraga, bengkel (work-shop) dll. Laboratorium-laboratorium sebaiknya dibuat dalam satu lokasi dan infrastrukturnya ditata dengan baik sehingga akan memberikan pelayanan kegiatan laboratorium yang memuaskan. Kebersihan dan kerapian dengan tata letak peralatan laboratorium yang sesuai dengan fungsinya akan memudahkan pekerjaan di laboratorium. Kondisi lingkungan laboratorium yang selalu bersih, rapi dan teratur membuat gedung dan peralatan laboratorium tidak cepat rusak, mengurangi biaya perawatan, mengurangi resiko terjadinya pencurian, kebakaran dan penyalahgunaan fungsi laboratorium.

  1. Konstruksi Bangunan

Konstruksi bangunan laboratorium disesuaikan dengan fungsinya, karena setiap laboratorium memerlukan konstruksi khusus, tepat guna dalam menunjang sarana dan prasarana yang ditempatkan didalamnya. Konstruksi bangunan laboratorium memerlukan:

b.1. Pintu, Jendela dan Ventilasi.

Setiap laboratorium harus memiliki pintu masuk, pintu keluar dan pintu darurat. Semua pintu harus ditata sedemikian rupa dan dapat difungsikan dengan baik bila terjadi kebakaran dan kecelakaan (lihat contoh lay-out pada lampiran.3). Pintu harus memiliki ukuran cukup besar agar barang, peralatan, dan pengguna laboratorium dapat keluar dan masuk dengan bebas.

Jendela diperlukan sesuai dengan kebutuhan atau sesuai dengan fungsi yang telah direncanakan. Jendela juga dapat berfungsi sebagai pintu darurat, bila dilengkapi dengan jeruji kawat, maka jeruji tersebut harus dapat mudah dibuka. Ada juga kamar laboratorium yang tidak mempunyai jendela (mis: laboratorium fotografi) yang memang memerlukan ruang gelap.

Ventilasi diperlukan untuk sirkulasi udara didalam laboratorium. Pengaturan ventilasi disesuaikan dengan penempatan jendela dan pintu, agar sirkulasi udara dalam ruangan berlangsung dengan baik. Beberapa ruangan dalam suatu laboratorium sebaiknya dilengkapi fan, exhaust fan serta AC untuk kamar tertentu yang memerlukan kondisi operasional pada suhu rendah misalnya, ruang inkubator dengan temperatur 140-160C atau ruangan yang memerlukan pengendalian kelembaban udara (misal ruang untuk menyimpan barang-barang yang mudah berjamur).

b.2. Meja Laboratorium (Laboratory Benches)

Meja peralatan laboratorium yang ada dapat terbuat dari semen, tegel, plywood, kayu, baja, chipboard , dsb, tergantung dari spesifikasi alat yang akan dioperasikan diatasnya, atau tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan disitu.

 

b.3. Dinding, atap dan langit-langit (ceiling).

Dinding biasanya terbuat dari batu bata, semen, blok semen, kayu, plywood dan sebagainya. Demikian juga atap ada yang terbuat dari genteng, asbes, aluminium, keramik dsb. Sedangkan langit-langit ada yang terbuat dari semen, plywood, asbes, plasterboard/chipboard dsb. Hal ini semuanya disesuaikan dengan fungsi laboratorium yang bersangkutan dan jenis barang yang akan disimpan. Sifat dari bahan bangunan tersebut dapat mengendalikan kelembaban udara dan meredam panas sehingga peralatan laboratorium cepat rusak.

b.4. Sanitasi dan kebersihan.

Laboratorium yang bersih akan memberikan suasana lingkungan kerja yang kondusif “KEEP LUCKY ROOM AND CLEAN”. Selanjutnya didalam laboratorium harus tersedia tempat penyimpanan alat dan bahan yang belum dipakai (gudang), toilet (pria & wanita), area pembelajaran, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan limbah beracun dan limbah bahan kimia serta limbah kering. Hal tersebut memerlukan penanganan khusus, dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan kerja.

3.2 Sarana Pendukung

Fasilitas umum utama yang diperlukan dalam mendukung operasional laboratorium antara lain suplai air, listrik, gas dan untuk kondisi sekarang memerlukan sistem jaringan informasi (internet).

  1. Suplai Air

Air sangat dibutuhkan didalam laboratorium untuk membersihkan alat dan kebutuhan bahan percobaan. Pendistribusian air dengan tekanan yang cukup dibutuhkan pada setiap kran, terutama pada bak pencuci (sink) atau pada tempat lain, misalnya untuk pembuatan air destilasi, air deioniser dsb. Disamping itu, konstruksi saluran pembuangan air harus memenuhi standar teknis. Untuk limbah bahan kimia dan bahan-bahan beracun harus disediakan saluran tersendiri. Ada tempat penampungan khusus, kemudian dilakukan pengolahan dan netralisasi.

  1. Suplai Listrik.

Laboratorium memerlukan listrik sebagai sumber energi yang diperlukan untuk mengoperasikan alat-alat laboratorium. Semua variabel yang terkait dengan pemanfaatan energi listrik seperti : sumber tegangan, stabilitas tegangan, pendistribusian arus, serta jenis bahan instalasi yang digunakan harus diperhatikan dan sesuai standar spesifikasi peralatan yang dipakai. Tegangan listrik dapat disesuaikan kebutuhannya dengan memanfaatkan perangkat regulator atau transformator. Untuk menjaga kontinuitas catu daya listrik perlu disediakan unit pembangkit listrik tenaga diesel (genset) sebagai cadangan. Penyambungan atau percabangan saluran secara tidak tepat harus dihindari karena dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Sebaiknya digunakan pengaman otomatis untuk menjaga keselamatan bangunan laboratorium, peralatan, bahan serta keselamatan manusia.

  1. Suplai Gas.

Suplai gas biasanya dibutuhkan oleh sebagian laboratorium untuk sumber bahan bakar dan juga untuk keperluan percobaan atau penelitian. Bagi laboratorium yang memiliki saluran pipa gas alam (Natural Gas), maka semua ”bunsen” yang dipasang pada pelataran/meja laboratorium dapat langsung dioperasikan. Bagi laboratorium yang menggunakan tabung gas LPG hendaknya tabung ditempatkan pada suatu ruangan khusus dengan kelengkapan selang anti bocor dan alat pengaman lainnya. Di negara-negara maju yang tidak memiliki pipa gas alam, semua tabung gas ditempatkan diluar gedung, diberi pelindung jeruji besi, sehingga hanya pipa gas saja yang masuk kedalam laboratorium untuk menyalakan bunsen atau alat-alat tertentu lainnya, sehingga bahaya ledakan dapat dihindari. Mengingat potensi bahaya ledakan dan kebakaran yang sewaktu-waktu bisa timbul, maka pemanfaatan suplai gas tersebut harus dilakukan secara hati-hati sesuai prosedur standar yang berlaku, termasuk dalam perawatan dan pemeliharaannya.

Perlu diingat bahwa semua infrastruktur yang tersedia ditujukan untuk mencapai kegiatan operasional laboratorium yang optimal, aman, dan terkendali, sehingga semua peralatan yang digunakan dapat berfungsi secara normal dan tahan lama.

IV.  KETERKAITAN antara tata ruang dengan infrastruktur laboratorium dan unsur penunjang lainnya.

Keberadaan tata ruang laboratorium tidak terlepas dari bentuk laboratorium dan infrastruktur yang ada. Sebaik apapun tata ruang yang tersedia jika tidak dibarengi dengan infrastruktur laboratorium yang cukup, maka tata ruang tersebut kurang berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu kiranya perlu ada keterkaitan yang baik antara tata ruang dengan infrastruktur yang tersedia serta unsur penunjang lainnya (lihat lampiran.3).

Adapun keterkaitan tata ruang dengan faktor penunjang lainnya, adalah sebagai berikut :

  1. infrastruktur laboratorium yang baik dan memadai
  2. keberadaan petunjuk keamanan dan keselamatan kerja
  3. peraturan dasar yang dipatuhi
  4. penanganan masalah umum
  5. jenis pekerjaan yang dilakukan
  6. tenaga kerja terlatih dan terampil
  7. peralatan laboratorium yang beroperasi dengan baik dan terkalibrasi.
  8. disiplin yang tinggi dari semua staf yang ada
  9. organisasi laboratorium yang baik
  10. alokasi dana yang tersedia
  11. administrasi laboratorium yang tertata baik
  12. inventarisasi peralatan laboratorium

Manajemen pengelolaan laboratorium yang baik akan dapat mendukung kelancaran dan keberhasilan semua pekerjaan yang dilakukan di laboratorium. Pengelolaan yang baik bersumber pada tata ruang yang baik pula sehingga dalam hal ini tata ruang dapat dianggap sebagai inti aktivitas (core-activities) yang terkait dengan manajemen laboratorium (lihat lampiran.1).

V.           Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan:

Tata ruang laboratorium adalah unsur yang paling dominan didalam implementasi manajemen laboratorium yang baik. Tanpa adanya tata ruang yang tersusun rapi dan terencana, maka fungsi peralatan dan fungsi penunjang di laboratorium tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Infrastruktur laboratorium meliputi sarana dan prasarana seperti sumber air, listrik, gas, dan fasilitas umum (konstruksi bangunan) yang dirancang khusus untuk keselamatan kerja dan efisiensi yang optimal dalam pengoperasiannya.

 

 


  1. Bahan latihan and diskusi untuk tata ruang.

1.   Haruskah semua laboratorium memiliki kelengkapan tata ruang sebagaimana penjelasan terdahulu?

2.   Jelaskan faktor – faktor berpengaruh dalam penyusunan laboratorium?

3.   Bagaimana denah tata ruang di laboratorium Biokimia? Sudah sesuaikah tata ruang laboratorium kita (biokimia fak.kedokteran unhas)? Apakah sesuai fungsi dan aktifitasnya?

4.   Jelaskan seberapa jauh tata ruang di laboratorium Anda dapat disempurnakan?

 

  1. Bahan diskusi untuk infrastruktur
    1. Berapa laboratorium ditempat Anda? Fungsi dan aktivitas apa saja yang dilaksanakan di laboratorium Anda?
    2. Bagaimana kelengkapan infrastruktur di laboratorium Anda?
    3. Elemen infrastruktur yang mana sajakah yang tidak diperlukan keberadaanya di laboratorium Anda?
    4. Apa sajakah infrastruktur di laboratorium Anda yang masih perlu dilengkapi?
    5. Setujukan Anda bahwa laboratorium harus berada pada gedung sendiri? Setuju pulakah Anda pendirian Workshop Sentral/UPT Perawatan dan Pemeliharaan? (yang dapat menangani semua perawatan dan pemeliharaan laboratorium pada tingkat universitas/institute)

Daftar Pustaka

1.        Western Universities Training Centre, 1996, Exit Strategy. Kampus Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia

2.        Parkin, JT., 1993. The Science Laboratory, A General Description of Operational Requirement Western Universities Training Centre, Kampus Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia.

  1. ———–, 1994. Design, Lay-Out & Requirement for The Biotechnology lab (Tissue Centre) (with information on basic set up materials & aseptic technic), Western Universities Training Centre, Kampus Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia
  2. ———–, 1995, Western Universities Training Centre, Kampus Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Lokakarya Training Programme, June 1995 – March 1996 Indonesia, General Information.
  3. Djas, F, 1998, Tata Ruang Laboratorium (Laboratory Lay-Out) Penataran Pengelolaan Laboratorium (Laboratoriu Management) Fakultas Kedokteran USU, Medan.
  4. Djas, Fachri, Lahuddin, Saipul Bahri Daulay, 1995. Lab lay-Out & Service. Lokakarya Peralatan Laboratorium bekerja sama dengan WUTC – USU, Fakultas Pertanian USU, Medan.
  5. Djas, Fachri, Lahuddin, Saipul Bahri Daulay, 1997. Lab Lay-Out. Penataran Tenaga Laboran dalam Lingkungan Fakultas Pertanian USU, oleh USU Training Centre Medan.
  6. Dovaston, N.G. & James T. Parkin, 1996. Service and Laboratory lay Out. Seminar/Workshop Lab Management oleh WUTC Team di USU. Kerjasama dengan USU Training Center dan WUTC Universitas Andalas Padang.
  7. Djas, Fachri, Syaipul Bahri Daulay, 2001. Laboratory Infrastructure. Pelatihan Teknisi Laboratorium, USU Medan.
  8. Parkin, James T, 1993. The Science Laboratory, A General Discription of Operational Requirement Western University Training Centre, Kampus Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
  9. Saleh, Nasir, takdir, dan Achirudin, 1995. Lab Infrastruktur, Lokakarya Peralatan Laboratorium Bekerjasama Dengan WUTC-USU, Fakultas Pertanian Medan.

 

 

” Semua laboratorium harus memiliki kelengkapan tata ruang sebagaimana yang telah dipersyaratkan oleh DIKTI.

Denah tata ruang di laboratorium Biokimia menurut kami sudah sesuai dengan tata ruang laboratorium yang dipersyaratkan oleh DIKTI. Dan juga sudah sesuai dengan fungsi dan aktifitasnya. Walaupun masih perlu untuk pembenahan lebih lanjut demi kesempurnaan yang diharapkan.

Laboratorium biokimia fakultas kedokteran unhas memiliki 3 pintu yang terdiri dari pintu masuk, pintu keluar dan pintu emergency. Dua pintu berada di Ruang kegiatan praktikum dan pintu emergency berada diruang storage bahan-bahan kimia (baik cair maupun padat) letaknya ada di ruangan belakang bersebelahan dengan ruang asisten merangkap ruang istrahat/ruang diskusi buat staf/ruang administrasi.

Laboratorium biokimia kami terdiri dari 5 sekat. Sekat pertama adalah ruang penyimpanan peralatan mikroskop, sekat kedua adalah ruangan kegiatan praktikum, sekat ketiga adalah ruang persiapan alat dan bahan sekaligus adalah zone kerja laboran dalam mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh berbagai macam praktikum. Sekat keempat adalah ruang asisten merangkap ruang administrasi lab, ruang istrahat, ruang diskusi staf lab, ruang penginputan data praktikum. Kemudian sekat kelima adalah ruang storage yakni ruang penyimpanan bahan-bahan kimia baik padat maupun cair, serta stok peralatan-peralatan gelas habis pakai.

Kekuarangan yang ada pada laboratorium kami adalah banyaknya fasilitas-fasilitas yang sudah tua, lapuk masih dipaksakan untuk bekerja. Diantaranya lampu yang sudah redup, wastafel yang bocor masih digunakan dengan menaruh ember dibawahx agar tetap digunakan, ada ruangan yang belum ber-ac, kurangnya bangku dan meja untuk melakukan praktikum, ada satu ruangan asam yang tidak berfungsi baik lampu maupun blowernya. Laboratorium kami belum memiliki lemari/loker praktikan, juga belum memiliki fasilitas vacum air untuk mengeringkan peralatan. Untuk P3K lab kami masih kurang diantarax eye wash yang belum pernah diuji cobakan walaupun alatnya itu ada. Dan masih banyak lagi lab kami perlu pembenahan lebih lanjut. Semoga bapak dan ibu pemerhati laboratorium biokimia kami bisa peduli dan membenahi fasilitas dan prasarana laboratorium biokimia demi visi dan misi yang diusung oleh fakultas kedokteran dalam menyambut kelas dunia mendatang. Terima kasih”

 

 

 

Updated: December 3, 2014 — 1:25 AM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagian Biokimia © 2015 Frontier Theme