You are here: Home
Patologi Anatomi PDF Print E-mail
Written by aaa   
Wednesday, 05 January 2011 11:05

Patologi anatomi ialah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ, jaringan, dan sel. Di banyak negeri, dokter yang berpraktek patologi dilatih dalam patologi anatomi dan patologi klinik, diagnosis penyakit melalui analisis laboratorium pada cairan tubuh.

 

Patolog anatomi mendiagnosis penyakit dan memperoleh informasi yang berguna secara klinis melalui pemeriksaan jaringan dan sel, yang umumnya melibatkan pemeriksaan visual kasar dan mikroskopik pada jaringan, dengan pengecatan khusus dan imunohistokimia yang dimanfaatkan untuk memvisualisasikan protein khusus dan zat lain pada dan di sekeliling sel. Kini, patolog anatomi mulai mempergunakan biologi molekuler untuk memperoleh informasi klinis tambahan dari spesimen yang sama. Di Indonesia, jumlah dokter patologi anatomi belum banyak, hanya sekitar 220 orang.[1] Dokter spesialis ini diberi gelar SpPA.

 

1.Patologi bedah

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Patologi bedah

Patologi bedah adalah daerah praktek terpenting dan memakan waktu bagi kebanyakan patolog anatomi. Patologi bedah melibatkan pemeriksaan kasar dan mikroskopik spesimen bedah, seperti biopsi yang dibawa oleh dokter bukan bedah seperti dokter penyakit dalam, kulit, dan radiolog intervensi.

Sitopatologi

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sitopatologi

Sitopatologi adalah cabang ilmu patologi anatomi yang berurusan dengan pemeriksaan mikroskopis atas sel seseorang secara keseluruhan yang diperoleh dari usapan atau aspirasi jarum tajam. Sitopatolog dilatih untuk melakukan aspirasi jarum tajam dari organ, massa, ataupun kista yang terletak di permukaan, dan sering bisa memuat diagnosis segera dalam kehadiran pasien dan dokter yang mengajukan konsul. Dalam kasus uji tapis seperti apus Papanicolaou, sitoteknolog yang bukan dokter sering diminta melakukan tinjauan awal, dengan kasus yang satu-satunya positif maupun tak pasti yang diuji oleh patolog.

 

2.Patologi molekuler

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Patologi molekuler

Patologi molekuler adalah cabang ilmu yang tumbuh dalam patologi anatomi yang berfokus pada penggunakan teknik berdasar asam nukleat seperti hibridisasi in situ, reaksi berantai polimerase transkriptase balik, dan mikroarray asam nukleat untuk studi penyakit khusus pada jaringan dan sel. Patologi molekuler menerima beberapa aspek praktis patologi anatomi dan klinik, dan kadang-kadang dianggap bidang "lintas ilmu".

 

3.Patologi autopsi

Artikel utama untuk bagian ini adalah: autopsi

Patolog anatomi umum dilatih melakukan autopsi, yang digunakan untuk menentukan berbagai faktor yang menyebabkan kematian seseorang. Otopsi penting dalam pendidikan medis para klinikus, dan dalam usaha untuk memperbaiki dan memverifikasi kualitas perawatan medis. Diener adalah tokoh bukan dokter yang membantu patolog pada porsi otopsi diseksi kasar. Otopsi mewakili kurang dari 10% beban kerja patolog di Amerika Serikat.[2] Namun, autopsi adalah pusat persepsi publik di bidang ini, khususnya karena penggambaran patolog di acara televisi seperti Quincy, M.E. dan Silent Witness.

 

4.Patologi forensik

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Patologi forensik

Patolog forensik menerima pendidikan subspesialis dalam menentukan penyebab kematian dan informasi lain yang relevan secara hukum dari tubuh seseorang yang mati dalam keadaan non-medis maupun kemungkinan kejahatan. Autopsi mencakup kebanyakan, namun tak semua kerja patolog forensik yang berpraktek, dan patolog forensik adakalanya berkonsultasi

 

Irosis merupakan 10 teratas penyebab kematian di dunia Barat, terutama disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol, kontributor utama lainnya adalah hepatitis kronis, penyakit saluran empedu, dan kelebihan zat besi. Tiga mekanisme patologik utama yang berkombinasi untuk menjadi sirosis adalah kematian sel hati, regenerasi, dan fibrosis progresif. Mekanisme akhir yang menyebabkan kematian pada sebagian besar pasien dengan sirosis adalah (1) gagal hati progresif, (2) komplikasi yang terkait dengan hipertensi porta, atau (3) timbulnya karsinoma hepatoselular.

Last Updated on Tuesday, 11 January 2011 10:47
 
Job Descriptions PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 16 December 2010 11:45

Ketua Bagian/ SMF
1. Memimpin Bagian/ SMF dengan mengkoordinasikan serta bertanggung jawab dalam penyelenggeraan fungsi Bagian/ SMF (pelayanan, pendidikan dan penelitian).
2. Merencanakan pengembangan Bagian/ SMF untuk di masa yang akan datang.
3. Menetapkan status Staf Bagian selaku staf pengajar menurut jenjangnya sebagai pembimbing,pendidikan atau pengajar dan penilai sesuai kualifikasi dalam kurikulum.
4. Mendelegasikan tugas kepada seluruh Pejabat dan Staf di SMF Bagian Patologi Anatomi sesuai tugas dan wewenangnya dalam struktur organisasi.
5. Memantau penyelenggaraan kegiatan Pendidikan, Pelayanan dan Penelitian yang dilakukan oleh staf SMF Bagian Patologi Anatomi.
6. Memperhatikan sarana dan prasarana (perangkat proses pendidikan) baik di ruang rawat inap,poliklinik, perpustakaan dan ruang pertemuan sesuai kebutuhan.
7. Mengupayakan suasana kerja yang kondusif dan kekeluargaan
8. Memperhatikan kesejahteraan Staf dan Residen .
9. Mempersiapkan Akreditasi Bagian dan SMF sebagai Pusat Pendidikan Spesialis.

Sekretaris

1. Melaksanakan kegiatan administrasi Bagian/ SMF dengan memperhatikan surat – surat masuk dan membuat surat – surat keluar baik internal maupun eksternal.
2. Mengagendakan pertemuan – pertemuan dan kegiatan Bagian/ SMF.
3. Menelaah absensi staf
4. Bertanggung jawab kepada Ketua Bagian/ SMF

Bendahara

1. Bertanggung jawab mengumpulkan dan menyimpan dan mencatat seluruh sumber – sumber dana yang masuk ke Bagian/ SMF.
2. Mengeluarkan dan mencatat pengeluaran dana untuk kepentingan Bagian/ SMF atas persetujuan Ketua Bagian/ SMF.
3. Mendistribusikan honor – honor Staf.
4. Membuat laporan keuangan secara berkala.
5. Bertanggung jawab kepada Ketua Bagian/ SMF.

Ketua Program Studi (KPS) dan Sekretaris KPS
1. Bertanggung jawab atas pengelolaan kegiatan penyelenggaraan program studi PPDS.
2. Merencanakan pelaksanaan program pendidikan PPDS sesuai kurikulum
3. Mengatur tugas pembacaan jurnal, referat, kasus, publikasi local, nasional, proposal penelitian, seminar hasil penelitian.
4. Menentukan jadwal ujian pre-test dan ujian akhir bagi peserta PPDS.
5. Mengatur rotasi peserta PPDS secara periodik.
6. Mengatur dan menentukan pembagian judul dan pembimbing tugas- tugas.
7. Menyelenggarakan seleksi akademik calon peserta PPDS dengan melibatkan seluruh staf pengajar yang terkait.
8. Melaporkan hasil seleksi ke pihak Fakultas Kedokteran setelah mendapat persetujuan dari Ketua Bagian/ SMF berdasarkan hasil rapat staf.
9. Menyelenggarakan penilaian terhadap peserta PPDS bersama seluruh staf pengajar secara kontinyu,memberi teguran, peringatan, dan sanksi kepada peserta yang bermasalah
10 Memantau disiplin dan etika peserta didik.

Ketua Program Mahasiswa (KPM)
1. Mengatur dan mengkoordinir kegiatan perkuliahan Bagian Patologi Anatomi untuk mahasiswa program S1 dan Profesi.
2. Mengatur dan mengkoordinir kegiatan Praktek Mahasiswa di Bagian Patologi Anatomi.
3. Membuat dan menetapkan tugas dan kewajiban dari mahasiswa
4. Membuat dan mengumpulan soal – soal ujian dari seluruh staf pengajar
5. Mengatur pelaksanaan ujian mahasiswa S1 dan D3.
6. Bartanggung jawab kepada Ketua Bagian / SMF

Last Updated on Thursday, 16 December 2010 11:50
 
Struktur Organisasi PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 16 December 2010 11:44
STRUKTUR ORGANISASI
PATOLOGI ANATOMI FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS /
SMF RS. Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR
Image
DIVISI
1. Reproduksi pria : Prof. dr. Randanan Bandaso, MSc, SpPA(K) - LB
2. Gastroentero Hepatologi : Prof. dr. Syarifuddin Wahid, PhD, SpPA(K)
dr. Sri Rahayu, SpPA (K)
3. Limforetikuler : dr. Gunawan Arsyadi, SpPA(K)
dr. Rina Masadah, SpPA, MPhil
4. Respirasi & Penyakit Tropis : Prof. Dr. dr. Johanna M. Kandouw, SpPA(K)
5. Muskuloskeletal : dr. Djumadi Achmad, SpPA(K)
dr. Upik Anderiani Miskad, PhD
6. Saraf : dr. Cahyono Kaelan, PhD, SpPA(K)
7. Kulit : dr. Mahmud Ghaznawie, PhD, SpPA(K)
dr. Ni Ketut Sungowati, SpPA (K)
8. Kardiovaskuler & Urogenital : Dr. dr. Gatot S. Lawrence, MSc, SpPA(K)
9. Endokrin : dr. Truly D. Dasril, SpPA(K)
10. Reproduksi Wanita dr. Ni Ketut Sungowati, SpPA(K)
dr. Berti Nelwan, SpPA
11. ENT & Mata : Prof. Dr.Solihin Wirasugena, SpPA - LB
dr. Anna Tauran, SpPA(K)
 
Selayang Pandang PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 16 December 2010 11:43

Patologi anatomi adalah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ, jaringan, dan sel. Di banyak negeri, dokter yang berpraktek patologi dilatih dalam patologi anatomi dan patologi klinik, diagnosis penyakit melalui analisis laboratorium pada cairan tubuh.

Patolog anatomi mendiagnosis penyakit dan memperoleh informasi yang berguna secara klinis melalui pemeriksaan jaringan dan sel, yang umumnya melibatkan pemeriksaan visual kasar dan mikroskopik pada jaringan, dengan pengecatan khusus dan imunohistokimia yang dimanfaatkan untuk memvisualisasikan protein khusus dan zat lain pada dan di sekeliling sel. Kini, patolog anatomi mulai mempergunakan biologi molekuler untuk memperoleh informasi klinis tambahan dari spesimen yang sama.

Prosedur yang digunakan dalam patologi anatomi termasuk:

  • Pemeriksaan kasar – pemeriksaan jaringan yang sakit dengan mata telanjang, yang khususnya penting untuk fragmen jaringan yang besar, karena penyakit itu sering dapat dikenali secara visual. Pada tingkat ini jualah patolog memilih daerah yang akan diproses untuk histopatologi. Kadang-kadang mata dapat diberi suryakanta atau mikroskop stereo, khususnya saat memeriksa organisme parasit.
Last Updated on Thursday, 16 December 2010 11:44
Read more...
 

Polls

Joomla! is used for?
 

Who's Online

We have 1 guest online
© 2012 Jl. P Kemerdekaan Km. 10 Makassar