KURIKULUM

KURIKULUM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS MATA UNHAS

 

  1. PENDAHULUAN

 

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan.

Kurikulum dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Dalam hal ini, bagian mata FK-UH menyusun kurikulum agar dapat menghasilkan spesialis mata yang dapat bersaing secara nasional dan regional. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu bekal kompetensi bagi calon spesialis yang harus disusun dalam suatu kurikulum pendidikan. Sebagaimana seharusnya, kurikulum bersifat dinamis, berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman serta kebutuhan masyarakat luas.

Kurikulum Dokter Spesialis Indonesia, sebenarnya telah tercantum dalam bentuk katalog yang sudah disahkan melalui kongres nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Indonesia IX tahun 1999. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perubahan dan subtansi katalog model lama, yang ternyata dalam katalog (lama) tersebut sebenarnya merupakan gabungan antara katalog (dengan sistem baru) dan kurikulum lama. Salah satu standart yang digunakan dalam menyusun kurikulum bagian mata adalah standart Principles and Guidelines of a Curriculum for Education of the Ophthalmic Specialist yang disusun oleh ICO (International Council of Ophthalmology) yang berisikan standar-standar kompetensi internasional. dan standar kompetensi spesialisa mata yang dikeluarkan oleh Kolegium Oftalmologi Indonesia

 

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) No. 20 tahun 2003 telah menetapkan bahwa pendidikan profesi ada dibawah Departemen Pendidikan Nasional, namun demikian peran masyarakat, dalam hal ini Perhimpunan Dokter Spesialis melalui kolegium Ilmu Kesehatan sangat diperlukan. Oleh karenanya dalam menyusun kurikulum ini, bantuan pemikiran dan berbagai kelompok studi yang dianggap palling mengetahui secara rinci subtansi, yang berkaitan dengan sub — bidang ilmu tersebut.

Standar kompetensi yang diambil oleh bagian mata FK-UH adalah standar yang diambil dengan mempertimbangkan penyakit-penyakit yang ada dalam masyarakat yang semakin berkembang dewasa ini seperti penyakit2 degeneratif misalnya Age Related Macular Degeneration dan Diabetic Retinopathy dimana kecenderungan insidensnya meningkat dan penyakit2 infeksi. Tidak lupa pula mempertimbangkan penyakit-penyakit mata terkait dengan kondisi lokal, Utamanya di Sulawesi Selatan seperti tuberculosis, leprosy dan infeksi HIV serta komplikasinya yang melibatkan organ mata..

Berdasarkan pertimbangan di atas, kurikulum yang diambil oleh bagian mata FK-UH bertujuan bukan hanya menyiapkan spesialis-spesialis mata yang kompeten dan siap terjun dimasyarakat, namun juga memiliki daya saing di tingkat ASEAN maupun Asia.

 

 

 

II.TUJUAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS MATA

2.1.Tujuan Umum Pendidikan Dokter Spesialis

Tujuan Umum Pendidikan Dokter Spesialis adalah setelah melalui proses belajar berdasarkan kurikulum akan menghasilkan Dokter Spesialis yang

  1. Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehtan sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
  2. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidangnya serta mempunyai ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup memahami dan memecahkan masalah kesehatan secara ilmiah dan dapat mengamalkan ilmu kesehatan kepada masyarakat yang sesuai dengan bidang keahliannya secara optimal.
  3. Mampu menentukan, merencanakan dan melaksanakan pendidikan dan penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu ketingkat yang lebih tinggi,
  4. Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etika ilmu dan etika profesi.

 

2.2.Tujuan Umum Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata

Mengacu kepada tujuan Program Pendidikan Dokter Spesialis dan menyadari akan tanggung jawab sebagai warga negara Indonesia yang mengabdi dalam bidang pelayanan kesehatan mata, serta mengerti dan merasakan tuntutan masyarakat, program pemerintah untuk taraf kesehatan rakyat dan kemajuan ilmu teknologi maka tujuan program adalah menghasilkan dokter spesialis mata yang mempunyai ciri-ciri

  1. Mempunyai sikap dan perilaku Pancasila dan menjunjung tinggi etika kedokteran Indonesia dan etika profesi
  2. Mempunyai kompetensi akademis profesional spesialitik untuk memberikan pelayanan kesehatan mala.
  3. Mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dengan memakai sumber-sumber belajar yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjurus ketingkat akademik yang tertinggi,
  4. Mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan secara mandiri sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat

 

2.3.Tujuan Khusus Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata

  1. Memiliki pengetahuan, ketrampilan sikap dan dedekasi dalam melaksanakan pelayanan kesehatan mata untuk menurunkan angka kebutaan.
  2. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dalam mengawasi gawat darurat di bidang pelayanan kesehatan mata.
  3. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dibidang mata secara promotif, kuratif dan rehabilatif.
  4. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dalam melaksanakan penelitian di bidang Ilmu Penyakit Mata dengan memegang teguh etika penelitian.
  5. Mampu mendidik, membina dan bekerjasama dengan institusi I organisasi yang memberikan pelayanan kesehatan mata
  6. Melakukan pelayanan kesehatan mata sesuai standar pelayanan medik dan etika profesi dan etika keilmuan

 

 

2.4. Tujuan Tahap Pendidikan

Program pendidikan ini dibagi dalam beberapa tahap, masing-masing tahap mempunyai tujuan pendidikan yang bulat dan dicapai melalui pengalaman belajar/isi pendidikan tertentu. Tahap pendidikan bukan merupakan pembagian berdasarkan tahun, akan tetapi merupakan tahap/pembagian berdasarkan kemampuan yang dicapai mencakup pengetahuan dan pengertian, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, ketrampilan teknikal dan sikap profesional.

Tahap I. Pengayaan Dasar

Rumusan umum perilaku (sasaran belajar) yang ingin dicapai pada tahap pendidikan ini adalah pengayaan pengetahuan dasar sebagai berikut:

  1. Memahami pengetahuan anatomi, faal dan patologi, disamping pengetahuan materi klinik umum dan khusus sebagai sarana ilmiah.
  2. Memahami teori umum dan khusus sebagai sarana ilmiah.
  3. Memahami mikrobiologi dan imunologi dasar
  4. Menguasai dan terampil menggunakan alat-alat diagnostik mata.
  5. Mampu menggunakan kepustakaan sebagai sumber pengetahuan dan mampu
  6. menyajikan naskah ilmiah.
  7. Menguasai dasar oftalmologi komunitas
  8. Mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugasnya.

 

Tahap II. Pembinaan profesi I

Pada tahap ini yang ingin dicapai (sasaran belajar) adalah

  1. Mampu menggunakan alat pemeriksaan khusus pada sub divisi
    • Refraksi
    • Penyakit Mata Luar / Kornea
    • Vitreo Retina
    • Neuro—Oflalmologi
    • Glaukoma
    • tplastik rekontruski
    • pediatric oftalmologi
  1. Mampu negenal gejala dan tanda penyakit dalam proses pemeriksaan.
  2. Mampu membuat sari kepustakaan dalam bentuk naskah ilmiah dan menyajikannya.
  3. Mampu melakukan dan identifikasi masalah mata di masyarakat

 

Tahap III Pembinaan Profesi II

  1. Mampu menegakkan diagnosa, melakukan pengelolaan medik operatif dan mengatasi gawat darurat pada tingkat kemampuan tertentu pada kelainan – kelainan sebagai berikut
    • Refraksi
    • Penyakit Mata Luar / Infeksi dan imunologi
    • Lensa, Kornea dan Bedah Refraklif
    • Uvea
    • Vitreo Retina
    • Glaukorna
    • Neuro- oftalmologi
    • Onkologi dan orbita
    • Plastik-Rekonstruksi / orbita
    • Oftalmologi Pediatrik
    • Strabismus
  2. Mampu menyusun rencana, melakukan penelitian dan menyusun laporan penelitian deskriptif
  3. Mampu menentukan saat rujukan
  4. Merencanakan pemecahan masalah kesehatan mata di masyarakat
  5. Mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugasnya.

 

Tahap IV. Pengelolaan Penderita. secara utuh dan mandiri (akademik)

  1. Mampu melakukan penderita mata secara menyeluruh dan mandiri
  2. Melakukan penelitian (tesis) prospektif analitik
  3. Melakukan pemecahan masalah kesehatan man di masyarakat (out-reach services)
  4. Mampu menetapkan saat rujukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN

 

  1. Struktur dasar kurikulum

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dan dengan menggunakan program pendidikan yang berciri seperti diuraikan pada bab sebelumnya, struktur dasar Program Studi Magister dan Program Dokter Spesialis seyogyanya terdiri dari 3 (tiga) bagian sebagai berikut :

 

Bagian pertama   : Pendidikan dasar ilmiah

Bagian kedua     : Pendidikan bidang kekhususan (Mata)

Bagian ketiga     :  Rangkaian kegiatan ilmiah yang berhubungan dengan riset ilmiah dan penguasaan keterampilan keprofesian.

 

MPA      : Materi penerapan akademikMPK      : Materi penerapan keprofesian

 

 

MDU       : Materi dasar umumMDK           : Materi dasar khusus

 

 

 

 MKK        : Materi keahlian khusus

 

 

Bagian Ketiga
Bagian Kedua
Bagian Pertama
PENGUASAAN KETERAMPILAN/ KEGIATAN ILMIAH – RISET
PENDIDIKAN BIDANGKEKHUSUSAN
PENDIDIKAN DASARILMIAH

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk memperlihatkan tercakupnya bidang pencapaian pendalaman akademik sebagai seorang magister dan bidang pencapaian keterampilan keprofesian sebagai seorang spesialis serta untuk menghitung beban studi, kurikulum dibagi dalam kelompok materi pendidikan.

Program Studi bidang lain dalam pengelompokkan tersebut memakai sebutan mata kuliah (MK). Namun untuk program pendidikan dokter spesialis istilah MK ini tidak selalu cocok karena kegiatan dalam proses program pendidikan dokter spesialis banyak menggunakan latihan kerja (praktek) terutama pada pelatihan keprofesian.

 

Pengelompokan Materi Pendidikan adalah sebagai berikut :

  • Materi Dasar Umum (MDU)
  • Materi Dasar Khusus (MDK)
  • Materi Keahlian Khusus (MKK)
  • Materi Penerapan Akademik (MPA)
  • Materi Penerapan Keprofesian (MPK)

 

  1. Beban studi

Beban studi masing-masing kelompok materi pendidikan dapat dilihat pada tabel.

 

No Beban Studi (SKS) Jumlah
Akademik Keprofesian
Materi SKS Materi SKS
1 MDU 7     7
2 MDK 10     10
3 MKK 23     23
4 MPA1 8     8
5     MPA2 12 12
6     MPK 46 46
  Total 48   58 106

Beban Studi Kelompok Materi Pendidikan

  1. Materi Dasar Umum (MDU) 7 SKS

Materi Dasar Umum adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan bagi setiap ilmuwan agar menjadi seorang penggagas dan peneliti. Materi ini merupakan materi dasar yang tidak menyangkut bidang ilmu Kedokteran secara langsung.

 

Materi Dasar Umum sekurang-kurangnya terdiri dari :

  1. Filsafat Ilmu Pengetahuan 2 SKS
  2. Etika Pro fesi             1 SKS
  3. Metode Penelitian 2 SKS
  4. Biostatistik dan Komputer Statistik 2 SKS

 

  1. Materi Dasar Khusus (MDK) 10 SKS

Materi Dasar khusus adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang kedokteran agar mampu memecahkan masalah, menjadi pengembang ilmu dan pada gilirannya dapat menerapkan keprofesiannya dengan kualitas yang tinggi.

Materi Dasar Khusus sekurang-kurangnya terdiri dari :

  1. Biologi Molekuler                      2 SKS
  2. Farmakologi Klinik                      1 SKS
  3. Epidemiologi Klinik dan Evidence Based Medicine             2 SKS
  4. Imunologi                      2 SKS
  5. Administrasi Kesehatan dan Rekam Medik                      1 SKS
  6. Genetika                      2 SKS

 

Materi Dasar Umum dan Materi Dasar Khusus dapat merupakan program bersama dengan Program Studi Klinik bidang-bidang lain sebagai dasar pencapaian kompetensi spesialis dengan kemampuan magister.

 

 

 

 

 

  1. Materi Keahlian Khusus (MKK) 23 SKS

Materi Keahlian Khusus adalah materi pendidikan yang memberikan pengetahuan keahlian bidang Ilmu Kesehatan Mata agar ilmuwan IKA (magister) pakar dalam bidangnya. Materi Keahlian Khusus terdiri dari materi pendidikan dari berbagai subdisiplin dalam lingkup Ilmu Kesehatan Mata, sekurang-kurangnya terdiri dari :

  1. Model Rawat Inap                                     1 SKS
  2. Embriologi Mata             1 SKS
  3. Anatomi Mata 1 SKS
  4. Fisiologi Mata 1 SKS
  5. Tes Pemeriksaan Mata                         1 SKS
  6. Refraksi                                     2 SKS
  7. Infeksi dan Imunologi 2 SKS
  8. Glaukoma 2 SKS
  9. Vitreo Retina             2 SKS
  10. Lensa Katarak 2 SKS
  11. Tumor dan Rekonstruksi 2 SKS
  12. Neurooftalmologi 2 SKS
  13. Pediatri dan Strabismus 2 SKS
  14. Oftalmologi Komunitas 2 SKS

 

  1. Materi Penerapan Akademik (MPA) 16 SKS

Materi Penerapan Akademik ialah kegiatan akademik dengan menerapkan ilmu yang didapat sebelumnya. Materi ini merupakan rangkaian kegiatan ilmiah yang langsung berhubungan dengan keilmuan yang ditekuni. Berbagai jenis kegiatan ini bertujuan untuk membina pengetahuan, sikap dan tingkah laku ilmuan, menguasai metode riset ilmiah, mampu membuat tulisan ilmiah dan menulis tesis ilmiah dalam mendukung keterampilan keprofesian sebagai dokter spesialis Mata.

 

 

 

 

Materi Penerapan Akademik terdiri dari dua kelompok :

4.a. MPA-1 : 8 SKS

Yang berhubungan langsung dengan persyaratan Magister sebagai berikut :

  • Proposal Penelitian 2 SKS
  • Tesis 6 SKS

4.b. MPA – 2 : 8 SKS

Yang berhubungan dengan pencapaian kemampuan keprofesian dengan dukungan keilmuan yang akut misalnya :

  • Journal Reading 3 SKS
  • Sari Pustaka 2 SKS
  • Laporan Kasus 1 SKS
  • Tinjauan Pustaka                                     2 SKS

 

  1. Materi Penerapan Keprofesian (MPK) 56 SKS

Materi Penerapan Keprofesian ialah pelatihan keprofesian dengan menerapkan ilmu yang didapat sebelumnya secara nyata melalui berbagai kegiatan keprofesian klinik ilmu Kesehatan Mata sehingga terjadi pembina sikap dan tingkah laku profesi dan tercapainya kemampuan keprofesian dokter spesialis Mata. Proses pelatihan keprofesian dilaksanakan baik di Rumah Sakit Pendidikan Utama maupun di berbagai Rumah Sakit Mitra agar mendapatkan materi latihan berupa kasus-kasus dengan jumlah dan variasi yang sesuai dengan tingkat kompetensi dan kemahiran yang ingin dicapai.

Pelatihan keprofesian bertujuan untuk mencapai keterampilan (kompetensi) profesional berkualitas tinggi yang didukung oleh pengetahuan akademik yang tangguh dan mantap (scientist physician). Dengan kompetensi seperti tersebut diatas pelayanan kesehatan akan bertaraf dan berkualitas tinggi sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Strategi yang dipilih ialah pelatihan keprofesian dengan cara kerja praktek di bangsal untuk pasien rawat inap dan di poliklinik untuk pasien rawat jalan melalui pendekatan Kedokteran Berbasis Bukti (Evidence-Based Medicine), serta kegiatan di masyarakat untuk berlatih penerapan pendekatan pediatri sosial. Pelatihan keprofesian secara komprehensif dilaksanaan pada tahap junior dan dimantapkan sehingga mencapai kemampuan dokter spesialis pada tahap senior.

Materi Penerapan Keprofesian terdiri dari :

  • Stase Refraksi                                     4 SKS
  • Stase Lensa dan Katarak 6 SKS
  • Stase Infeksi dan Imunologi 6 SKS
  • Stase Glaukoma 6 SKS
  • Stase Vitreo Retina 6 SKS
  • Stase Pediatrik dan Strabismus 4 SKS
  • Stase Tumor                                     4 SKS
  • Stase Plastik Rekonstruksi 4 SKS
  • Stase Neuro Oftalmologi 4 SKS
  • Tahap Mandiri di RS Jejaring Mata 6 SKS

 

Secara umum aktivitas dalam pelatihan keprofesian tersebut meliputi :

  • Tatalaksana Pasien Gawat Darurat (Emergency Ophthalmology)
  • Tatalaksana Pasien Rawat Inap (Inpatients Ophthalmology)
  • Tatalaksana Pasien Rawat Jalan (Ambulatory Ophthalmology).
  • Prosedur Mata Spesialistik (Ophthalmology Specialistic Procedures).

 

Dalam bagian kurikulum ini juga tercantum Prosedur Mata Sub Spesialistik (Ophthalmology Sub Specialistic Procedures).

 

Melalui kerja praktek selain untuk mencapai keterampilan profesional (skill) PPDS juga mendapatkan penguatan (strengthening) dalam penguasaan keilmuan (knowledge) melalui kegiatan Materi Penerapan Akademik seperti diuraikan di atas.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. ISI KURIKULUM

 

  1. Materi Pendidikan
    1. Materi Dasar Umum (MDU)

1.1.Filsafat Ilmu Pengetahuan

  • Pengertian filsafat
  • Ilmu pengetahuan sebagai alat kritik bagi semua pengetahuan
  • Metafisika, Ontologi, Epistemologi, Logika
  • Arti dan tujuan Ilmu Pengetahuan
  • Tradisi Ilmu Pengetahuan
  • Ilmu Pengetahuan

 

1.2.Etika Profesi

  • Etika profesi dan profesionalisme
  • Etika dan Estetika

 

1.3.Metodologi Penelitian

  • Ilmu dan Penelitian
  • Dasar-dasar penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan
  • Sampel dan populasi
  • Pengukuran dalam penelitian
  • Usulan proposal penelitian
  • Disain penelitian
  • Studi cross-sectional
  • Studi kasus kontrol
  • Studi kohort
  • Analisis kesintasan
  • Uji diagnostik
  • Uji klinis
  • Meta analisis
  • Besar sampel
  • Pemilihan uji hipotesis
  • Masalah etika penelitian
  • Penulisan hasil penelitian dan rujukan
  • Telaah kritis literatur

 

1.4.Biostik dan Komputer Statistik

  • Pengertian statistik
  • Vital statistik
  • Pengolahan data
  • Teori probabilitas
  • Ukuran dan teknik sampling
  • Statistik inferens
  • Penarikan kesimpulan
  • Dasar uji kemaknaan
  • Uji perbedaan 2 mean
  • Uji perbedaan lebih 2 mean
  • Uji perbedaan 2 proporsi
  • Uji non parametik
  • Korelasi & regresi linier
  • Multi variate analysis

 

1.5.Pelatihan penggunaan komputer

Meliputi: penggunaan berbagai paket komputer misalnya:

  • Program Epi Info
  • Program Eped dan check
  • Program entry
  • Program strata

 

 

  1. Materi Dasar Khusus (MDK)

Biologi Molekuler

·         Fungsi hidup, biomolekuler, sel

  • Faktor-faktor psikoklinis
  • Protein
  • Bioenergetika
  • Oksidasi biologi
  • Metabolisme
  • Membran biologis
  • Komunikasi antara sel
  • Gradien dalam makhluk hidup
  • Strategi lokomotif
  • Replika dan ekspresi
  • Pengantar farmakologi klinik
  • Farmakokinetik
  • Faktor-faktor yang mengubah respons
  • Efek samping obat
  • Interaksi obat
  • Analisis manfaat, resiko dan ekonomi dalam penggunaan obat
  • Penerapan pengobatan rasional dalam pelayanan
  • Terapi antimikroba
  • Toksikologi klinik

     2.1.Farmakologi klinik

 

2.2.Epidemiologi, Epidemiologi Klinik dan Kedokteran Berbasis Bukti (KBB)

  • Pengantar Epidemiologi, Epidemiologi Klinik dan KBB
  • Nilai p dan Interval Kepercayaan
  • Normalitas dan Kausalitas
  • Pengantar Penggunaan Komputer
  • Searching clinic
  • Diagnosis
  • Terapi
  • Prognosis
  • Harm
  • Clinical Guidelines
  • Meta Analisis
  • Health Technology Assessment
  • Clinical Decision Making
  • Cost-Benefit Analysis
  • KBB dan Clinical Governance
  • KBB dan Clinical Audit
  • Dasar-dasar administrasi kesehatan
  • Definisi rekam medik
  • Isi rekam medik
  • Nilai rekam medik dalam bidang :
    • Legal
    • Administrasi
    • Keuangan
    • Riset
    • Pendidikan
    • Dokumentasi

2.3.Administrasi Kesehatan dan Rekam Medik

 

2.4.Genetika Kedokteran

  • Sitogenetika
  • Genetika molekul
  • Genetika biokimia
  • Genetika klinik
  • Epidemiologi genetika
  • Imunogenetika
  • Genetika perkembangan
  • Genetika populasi

 

Kompetensi Inti dan Subkompetensi

 

Sebagai tambahan dari kognitif spesialis dan teknik skill yang dideskripsikan di kurikulum ini, beberapa inti kompetensi yang diharapkan dari spesialis mata, sebagaimana spesialis lainnya, sebagaimana diformulasikan oleh the Accreditation Council for Graduate Medical

Education (ACGME). Website: www.acgme.org.

 

Kompetensi inti ini meliputi:

  1. Perawatan pasien
  2. Pengetahuan kedokteran
  3. Pembelajaran dan Peningkatan berbasis Praktek (Problem Base-Learning)
  4. Keterampilan Interpersonal dan Komunikasi
  5. Profesionalisme
  6. Sistem-Based Practice (Praktek Berdasarkan Sistem)

 

  1. Perawatan Pasien

Residen harus mampu untuk menyediakan perawatan pasien yang memadai dan efektif untuk penanganan masalah kesehatan dan promosi kesehatan. Residen diharapkan untuk:

  • Berkomunikasi secara efektif dan mendemonstrasikan perilaku yang peduli dan hormat terhadap pasien dan keluarganya.
  • Mengumpulkan secara efektif informasi penting dan esensial terhadap pasien mereka.
  • Membuat informed concent terhadap intervensi diagnostic dan terapeutik, berdasarkan informasi pasien, ilmu pengetahuan yang up to date dan penilaian klinis.
  • Mengembangkan rencana manajemen pasien.
  • Melakukan konseling dan edukasi pasien dan keluarganya.
  • Menggunakan teknologi informasi untuk mensupport keputusan perawatan pasien dan edukasi pasien.
  • Melakukan prosedur medis dan invasive dengan memperhatikan kompetensi.
  • Menyediakan pelayanan kesehatan dengan tujuan pencegahan masalah kesehatan dan mempertahankan kesehatan.
  • Bekerja dengan professional kesehatan lainnya untuk menyediakan perawatan berbasis pasien.

 

  1. Pengetahuan Kedokteran

Residen harus mempraktekkan pengetahuan terbaru tentang biomedical, klinik, dan hal-hal terkait (contoh epidemiologi dan perilaku sosial). Residen diharapkan untuk:

  • Mempraktekkan sebuah penyidikan dan pemikiran analisis untuk situasi2 klinis.
  • Mengetahui dan mempraktekkan pengetahuan dasar dan ilmu tambahan yang sesuai dengan oftalmologi.

 

  1. Pembelajaran dan Peningkatan berbasis Praktek

Residen harus mampu meneliti dan menilai praktek perawatan pasien mereka, menilai dan memahami bukti ilmiah, dan meningkatkan praktek perawatan pasien mereka. Residen diharapkan untuk :

  • Menganalisis pengamatan praktek dan melakukan aktivitas peningkatan berbasis praktek menggunakan metodologi sistematik;
  • Menempatkan, menilai, dan memahami bukti dari penelitian ilmiah yang berkaitan dengan masalah kesehatan pasien mereka;
  • Memperoleh dan menggunakan informasi tentang populasi pasien mereka sendiri dan populasi yang lebih besar dari mana pasien mereka berasal;
  • Mengaplikasikan pengetahuan mengenai desain penelitian dan metode statistik terhadap penilaian penelitian klinis mereka dan informasi lainnya mengenai efektivitas diagnostik dan terapi;
  • Penggunaan teknologi informasi untuk menangani informasil mengakses informasi medis online; dan mendukung pendidikan mereka sendiri; dan
  • Memudahkan pembelajaran mahasiswa dan profesional perawatan kesehatan lainnya.

 

  1. Keterampilan Interpersonal dan Komunikasi

Residen harus mampu untuk menunjukkan keterampilan interpersonal dan komunikasi yang menghasilkan pertukaran informasi yang efektif dan bekerja sama dengan pasien, keluarga pasien, dan rekan profesional. Residen diharapkan untuk :

  • Menciptakan dan meneruskan hubungan terapi dan sehat secara etis dengan pasien;
  • Penggunaan keterampilan mendengar yang efektif dan menimbulkan dan memberikan informasi menggunakan keterampilan nonverbal, penjelasan, pertanyaan dan penulisan; dan
  • Bekerja secara efektif dengan yang lainnya sebagai anggota atau pemimpin tim perawatan kesehatan atau kelompok profesional lainnya.

 

  1. Profesionalisme

Residen harus menunjukkan komitmen untuk melakukan tanggung jawab profesional, berpatokan pada prinsip etika, dan sensitivitas terhadap populasi pasien yang berbeda. Residen diharapkan untuk :

  • Menunjukkan rasa hormat, perasaan simpati dan integritas; responsif terhadap kebutuhan pasien dan masyarakat yang memperhatikan ketertarikan diri sendiri; tanggung jawab terhadap pasien, masyarakat, dan profesi; dan komitmen terhadap kesempurnaan dan perkembangan profesional yang terus berlangsung;
  • Menunjukkan komitmen terhadap prinsip etika yang bersinggungan dengan ketentuan atau persyaratan perawatan klinis; kerahasiaan informasi pasien, informed consent, dan praktek bisnis; dan
  • Menunjukkan sensitivitas dan responsif terhadap budaya, usia, jenis kelamin, dan ketidakmampuan pasien.
  1. Praktek berbasis Sistem

Residen harus menunjukkan kesadaran dan responsif terhadap konteks dan sistem perawatan kesehata yang lebih besar dan kemampuan untuk secara efektif mengumpulkan sumber daya sistem untuk memberikan perawatan yang merupakan nilai yang optimal. Residen diharapkan untuk bisa:

  • Memahami bagaimana perawatan pasien mereka dan praktek profesional lainnya mempengaruhi profesional perawatan kesehatan lainnya, organisasi perawatan kesehatan dan masyarakat yang lebih besar, dan bagaimana elemen dari sistem ini mempengaruhi praktek mereka sendiri;
  • Mengetahui bagaimana jenis praktek medis dan sistem pemberian berbeda satu sama lain, termasuk metode mengkontrol biaya perawatan kesehatan dan mengalokasikan sumber daya;
  • Praktek perawatan kesehatan yang ekonomis dan alokasi sumber daya yang tidak menurunkan kualitas perawatan;
  • Mengusulkan perawatan pasien kualitas tinggi dan membantu pasien dalam menghadapi kompleksitas sistem; dan
  • Mengetahui bagaimana untuk berpasangan dengan manajer perawatan kesehatan dan penyedia perawatan kesehatan untuk mengakses, mengkoordinasikan, dan meningkatkan perawatan kesehatan dan mengetahui bagaimana aktivitas ini dapat mempengaruhi performa sistem.

 

 

 

 

 

Sikap dan tingkah laku profesional juga membutuhkan mahasiswa yang harus telah mengembangkan gaya perawatan yang berupa :

  • Ramah (yang mencerminkan perasaan simpati dalam menyampaikan berita buruk, bila diperlukan; penanganan kerusakan visual; dan pengenalan dampak kerusakan visual pada pasien dan masyarakat);
  • Reflektif (termasuk pengenalan batas pengetahuan, keterampian, dan pemahamannya);
  • Etika;
  • Integratif (termasuk keterlibatan tim inter-disiplin untuk perawatan mata anak, yang cacat, dan penyakit sistemik, dan lansia); dan
  • Ilmiah (termasuk penilaian kritis dari literatur ilmiah, praktek berbasis bukti dan penggunaan teknologi informasi dan statistik).

 

  1. Materi Keahlian Khusus (MKK)

Tahapan penguasaan Materi Keahlian Khusus dibagi atas 3 tahap, yaitu:

Tingkat Kurikulum Dasar (Tahap I), Standar (Tahap II), dan Tingkat Lanjut (Tahap III)

Kurikulum yang diusulkan dalam semua bab didesain untuk bertindak sebagai garis besar isi untuk pengembangan pengetahuan. Tujuan pembelajaran didesain untuk menekankan penarikan kembali informasi, pemahaman dan aplikasi dari pengetahuan dasar (yaitu anatomi, fisiologi, biokimia, embriologi, farmakologi), aplikasi mekanisme patogenik terhadap masalah klinis, mengadakan dan menginterpreptasikan informasi klinis, laboratorium, dan gambar, perkembangan diagnosis diferensial, implementasi rencana medis dan/atau pembedahan yang layak dan tepat, dan antisipasi, pengenalan dan perawatan komplikasi.

 

 

 

.TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I)

  1. Untuk menjelaskan prinsip dasar dari optik dan refraksi
  2. Untuk mendaftarkan indikasi dan untuk meresepkan bantuan penglihatan tingkat rendah yang paling lazim
  3. Untuk melakukan segmen anterior dasar (misalnya refraksi dasar, retinoskopi dasar, biomikroskopi slit lamp) dan keterampilan pemeriksaan segmen posteor (misalnya pemeriksaan dilatasi fundus, penggunaan pembesaran dan lensa, lensa Hruby, lensa 90 Diopter, tiga lensa kontak mirror Goldman) dan untuk memahami penggunaan alat ophthalmikus dasar (misalnya tonometer, lensometer).
  4. Untuk melakukan triase dan menangani kedaruratan okuler (misalnya sumbatan arteri retina sentralis, arteritis giant cell, kebakaran kimia, angle closure glaucoma akut, endophthalmitis, open globe traumatik).
  5. Untuk melakukan prosedur pembedahan eksternal dan adnexal minor (misalnya eksisi chalazion, pengangakatan benda asing kornea, penggunaan foreign body corneal drill untuk pengangkatan cincin yang jaringan yang rusak, biopsi konjungsional, pemotongan kornea, isolated entropion).
  6. Untuk mengidentifikasi teknik pemeriksaan kunci dan penanganan masalah medis dasar dan yang paling lazim dalam daerah glaukoma subspesialis (misalnya open angle glaucoma primer), kornea (misalnya mata kering, keratitis mikroba), orbitalis dan okuloplastik (misalnya lesi kelopak mata yang lazim, ptosis), retina (misalnya kelainan makuler, terlepasnya retina, retinopathi diabetik), dan neuroophthalmologi (misalnya neuropathi optik, neuropathi motorik okuler, abnormalitas pupil, kerusakan bidang penglihatan).
  7. Untuk menjelaskan indikasi untuk performa dan komplikasi dari pembedahan segmen anterior yang lazim (misalnya ekstraksi katarak, trabekulektomi, iridektomi perifer) dan untuk membantu pembedahan.
  8. Untuk menjelaskan kelainan okuler genetik yang lazim tetapi serius (misalnya distrofi retina dan makuler).
  9. Untuk mengenali penemuan histopatologi ophthalmikus yang paling lazim dan untuk mengenali histopatologis dari lesi okuler yang lazim (misalnya terlepasnya retina, pterygium, corneal button yang diangkat pada ketaroplasti).

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II) :

  1. Untuk menjelaskan prinsip optik dan refraksi yang lebih tinggi.
  2. Untuk mendaftarkan indikasi dan penggunaan bantuan penglihatan tingkat rendah yang lebih tinggi
  3. Untuk melakukan segmen anterior yang lebih tinggi (misalnya refraksi yang lebih kompleks, termasuk lensa kontak dan refraksi post-operatif, retinoskopi intermediate, termasuk astigmatisme tingkat sedang, pemeriksaan anak kecil, teknik biomikroskopi slit lamp intermediate) dan keterampilan pemeriksaan segmen posterior (misalnya teknik pemeriksaan dilatasi fundus yang lebih tinggi, termasuk depresi sklera, penggunaan pembesaran dan lensa untuk diagram dan menjelaskan lesi retina).
  4. Untuk mengenali dan merawat kedaruratan okuler (misalnya penyumbatan arteri retina sentralis, arteritis giant cell, kebakaran kimia, angle closure glaucoma akut, endophthalmitis, open globe traumatik), juga komplikasi jangka pendek dan panjang dari kelainan ini.
  5. Untuk melakukan prosedur pembedahan eksternal dan adnexal yang lebih tinggi (misalnya isolated ectropion dan kerusakan entropi terisolasi, pengangkatan lesi kelopatk mata yang kecil, terlokalisasi dan jinak, eksisi pterygium).
  6. Untuk mengidentifikasi teknik pemeriksaan kunci dan penangan masalah pembedahan yang kurang lazim dalam daerah subspesialis glaukoma (misalnya open angle dan closed angle glaucoma sekunder), kornea (misalnya keratitis mikroba jamur dan yang kurang lazim lainnya dan retinopathi diabetik non-proliferatif dan perawatan laser), dan neuro-ophthalmologi (misalnya neuropathi optik yang kurang lazim, palsy supranuklear, myasthenia gravis, kerusakan bidang pandang yang lebih kompleks).
  7. Untuk melakukan pembedahan segmen anterior yang lazim (misalnya ekstraksi katarak, trabekulektomi, iridektomi perifer).
  8. Untuk mengenali, merujuknya bila terindikasi, beberapa kelainan okuler genetik utama (misalnya neurofibromatosis I dan II, sklerosis tuberous, sindrom von Hippel-Lindau, retinoblastoma, retinitis pigmentosa, distrofi makuler).
  9. Untuk mengenali penemuan histopatologi ophthalmikus yang lebih kompleks dan sulit.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI) :

  1. Untuk menjelaskan prinsip optik dan refraksi (misalnya pembedahan pra- dan post-refraktif, aberrasi yang lebih tinggi).
  2. Untuk mendaftarkan indikasi dan penggunaan bantuan penghilangan rendah tingkat tinggi.
  3. Untuk melakukan keterampilan pemeriksaan segmen anterior yang paling tinggi (misalnya refraksi kompleks, retinoskopi tingkat lanjut, biomikroskopi slit lamp tingkat tinggi) dan segmen posterior (misalnya penggambaran terlepasnya retina dan depresi sklera; interpretasi kelainan makuler dengan biomikroskopi slit lamp).
  4. Untuk menangani atau mengawasi mahasiswa yang lebih junior (misalnya mahasiswa kedokteran atau residen kedokteran) dalam penanganan kedaruratan okuler (misalnya penyumbatan arteri retina sentralis, arteritis giant cell, kebakaran kimia, angle closure glaucoma, endophthalmitis).
  5. Untuk melakukan prosedur pembedahan eksternal dan adnexal yang lebih tinggi (misalnya prosedur kelenjar lakrimalis, perbaikan laserasi kelopak mata kompleks, misalnya keterlibatan kanalikuler dan lakrimalis).
  6. Untuk mengidentifikasi teknik pemeriksaan kunci dan penanganan masalah pembedahan dan medis yang kompleks namun lazim dalam daerah glaukoma subspesialis (misalnya open dan closed angle glaucoma primer dan sekunder yang rumit atau post-operatif), kornea (misalnya jenis keratitis mikroba yang tidak lazim atau langka), bedah plastik ophthalmikus (misalnya lesi kelompok mata yang kurang lazim dan lebih kompleks, operasi ulang atau ptosis yang rekuren atau kompleks), retina (misalnya terlepasnya retina kompleks, terlepasnya retina traksional dan retinopathi diabetik proliferatif, vitreoretinopathi proliferatif), dan neuro-ophthalmologi (misalnya neuropathi optik yang tidak lazim, neuroimaging, palsy supranuklear, kerusakan bidang pandang yang tidak lazim).
  7. Untuk melakukan dan merawat komplikasi pembedahan segmen anterior yang lazim (misalnya ekstraksi katarak, trabekulektomi, iridektomi perifer).
  8. Untuk mengenali, menilai, dan merawat, jika memungkinkan, kelainan okuler genetik mayor (misalnya neurofibromatosis I dan II, sklerosis tuberous, sindrom von Hippel-Lindau, retinoblastoma, retinitis pigmentosa, degenerasi makuler).
  9. Untuk mengenali penemuan histopatologi ophthalmikus klasik tetapi tidak lazim atau langka.

Mahasiswa pada semua tingkat latihan seharusnya mampu untuk menjelaskan gambaran kunci dan mengaplikasikan dalam praktek kliis hasil dari pengobatan berbasis bukti dalam ophthalmologi, yang mencakup, tetapi tidak terbatas pada hasil dari percobaan klinis.

Referensi:

The Herpetic Eye Disease Study (HEDS)

The Fluorouracil Filtering Surgery Study (FFSS)

The Normal Tension Glaucoma Study

The Ocular Hypertension Study (OHTS)

The Glaucoma Laser Trial (GLT)

The Optic Neuritis Treatment Trial (ONTT)

The Ischemic Optic Neuropathy Decompression Trial (IONDT)

Studies of the Ocular Complications of AIDS (SOCA)

Branch Vein Occlusion Studies (BVOS)

Macular Photocoagulation Study (MPS)

Age-Related Eye Disease Study (AREDS)

Verteporfin in Photodynamic Therapy (VIP) Study

Treatment of Age-Related Macular Degeneration with Photodynamic Therapy (TAP)

Silicone (oil) Study

The Submacular Surgery Trials (SST)

The Multicenter Trial of Cryotherapy for Retinopathy of Prematurity (CRYO-ROP)

Central Vein Occlusion Studies (CVOS)

Diabetes Control and Complication Trial (DCCT)

Diabetic Retinopathy Study (DRS)

Early Treatment Diabetic Retinopathy Study (ETDRS)

Randomized Trial of Acetazolamide for Uveitis-Associated Cystoid Macular Edema

Collaborative Ocular Melanoma Study (COMS)

 

 

 

 

  1. OPTIK

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

Untuk memahami prinsip, konsep, instrument dan metode untuk topik-topik di bawah ini dan mampu mengaplikasikannya dalam praktik klinik:

 

  1. Optik fisik
  2. Sifat cahaya
  3. Spektrum elektromagnetik
  4. Teori gelombang
  5. Teori partikel foton
  6. Difraksi
  7. Interferensi dan koherensi
  8. Resolusi
  9. Polarisasi
  10. Penyebaran
  11. Transmisi dan absorpsi
  12. Fotometri
  13. Laser
  14. Pencahayaan
  15. Kualitas gambar
  16. Kecerahan dan radians
  17. Perambatan cahaya – media optik dan indeks refraktif

 

  1. Optik geometri
  2. Refleksi (cermin)
  3. Hukum refleksi
  4. Refleksi pada permukaan yang datar (Gambaran dan bidang cermin datar)
  5. Refleksi pada permukaan yang melengkung (Titik fokus dan panjang fokus dari cermin sferis)
  6. Gambaran dan objek sebagai sumber cahaya
  7. Indeks refraktif
  8. Sistem lensa multipel
  9. Refraksi
  10. Hukum refraksi (hukum Snell)
  • Lintasan cahaya dari satu medium ke medium lainnya
  • Indeks refraksi absolut
  • Refleksi internal total
  1. Refraksi pada permukaan datar
  2. Refraksi pada permukaan melengkung
  3. Sudut kritis dan refleksi internal total
  4. Lompatan gambar dan pergeseran

 

 

  1. Prisma
  2. Definisi
  3. Notasi prisma (misalnya diopter prisma)
  4. Penggunaan dalam ophthalmologi (diagnostik dan terapi)
  5. Jenis prisma (datar; paralel, plat)
  6. Aturan prentice
  7. Prisma Fresnel
  8. Refraksi cahaya melalui sebuah prisma
  9. Prisma tipis
  10. Efek lensa prismatic
  11. Lensa sferis
  12. Titik kardinal
  13. Rumus lensa tipis
  14. Rumus lensa tebal
  15. Pembentukan gambar
  16. Vergensi cahaya (diopter; konvergensi; divergensi; rumus vergensi)
  17. Cembung dan cekung
  18. Pembesaran (linear; angular; ukuran relatif; elektronik)
  19. Desentris sferis dan kekuatan prisma
  20. Bentuk lensa
  21. Keseimbangan biokuler
  22. Refraksi pandangan rendah dasar pasien
  23. Lensa astigmatik
  24. Lensa silindris
  • Lensa dan permukaan sfero-silinder
  • Maddox rod
  • Lensa torik
  • Conoid of Sturm
  1. Notasi lensa
  2. Spectacle prescribing
  3. Transposisi sederhana
  4. Transposisi torik
  5. Identifikasi lensa yang tidak diketahui
  6. Netralisasi
  7. Fosimeter
  8. Ukuran lensa Geneva
  9. Penyimpangan lensa
  10. Koreksi penyimpangan yang berkaitan dengan mata (sferis, coma, astigmatisma, distorsi, pantoscopic tilt)
  11. Uj Duchrome
  12. Bahan lensa

 

  1. Optik klinis
  2. Optik mata
  3. Transmisi cahaya oleh media optik
  4. Skematis dan penurunan mata
  5. Respon pupil dan pengaruhnya pada resolusi sistem optik (efek Styles Crawford)
  6. Ketajaman visual
  7. Sensitivitas kontras
  8. Gambaran katoprik
  9. Emmetropia
  10. Akomodasi
  11. Pergeseran Purkinje
  12. Pinhole
  13. Ametropia
  14. Myopi
  15. Hypermetropia (hyperopia)
  16. Astigmatisme
  17. Anisometropia
  18. Aniseikonia (aturan Knapp)
  19. Aphakia
  20. Parameter optik yang mempengaruhi ukuran gambar retina
  21. Masalah akomodatif
  22. Ketidakcukupan
  23. Kelebihan
  24. Rasio AC/A
  25. Kesalahan refraktif
  26. Prevalensi
  27. Lensa kontak
  28. Lensa intraokuler
  29. Prinsip pembedahan refraktif
  30. Koreksi ametropia
  31. Lensa spektakel
  32. Lensa kontak
  33. Lensa intraokuler
  34. Prinsip pembedahan refraktif
  35. Masalah spektakel pada aphakia
  36. Pengaruh spektakel dan koreksi lensa kontak pada akomodasi dan konvergensi (amplitudo, titik dekat, titik jauh)
  37. Kekuatan lensa yang efektif
  38. Jarak verteks bagian belakang
  39. Pembesaran spektakel
  40. Perhitungan kekuatan lensa intraokuler
  41. Presbyopia (yang mengukur near adds)
  42. Bantuan penglihatan rendah
  43. Penambahan bacaan yang tinggi
  44. Lensa pembesar
  45. Bantuan teleskopik – teleskop Galileo, teleskop Keplerian

 

  1. Refraksi klinis
  2. Retinoskopi
  3. Refraksi subjektif
  4. Pengukuran BVD
  5. Uji keseimbangan otot
  6. Kekuatan akomodatif
  7. Pengukuran IPD
  8. Desentrasi lensa dan efek prismatik
  9. Lensa bentuk terbaik
  10. Meresepkan lensa multifokal
  11. Memberi resep untuk anak
  12. Refraksi cycloplegic

 

  1. Instrumen dan uji
  2. Ophthalmoskopi langsung
  3. Ophthalmoskopi tidak langsung
  4. Retinoskopi
  5. Focimeter
  6. Kaca pembesar sederhana (lup)
  7. Lensmeter
  8. Uji cahaya yang silau dan kontras
  9. Meter ketajaman potensial
  10. Refraktor otomatis
  11. Mikroskop slitlamp (termasuk metode pemeriksaan)
  12. Uji stereo
  13. Pengukuran topografi kornea (placido disc, keratometer, topografi kornea otomatis)
  14. Tonometer aplanasi
  15. Mikroskop spekuler
  16. Mikroskop operasi
  17. Prinsip pembesaran lensa
  18. Pasimeter kornea
  19. Layar lensa/diagram Hess
  20. Synophtophore
  21. Lensa yangdigunakan untuk biomikroskop fundus (panfunduskopi, lensa Goldman, lensa Hruby, lensa 90 D, dll)
  22. Kamera fundus
  23. Gonioskopi
  24. Tonometer
  25. Uji penglihatan warna (plat warna Ishihara; plat Hardy-Rand-Rittler, uji Farnsworth-Munsell).

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

Meningkatkan profisiensi keterampilan Tingkat Dasar

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

Untuk mengaplikasikannya, pada tingkat pemahaman tertinggi, informasi optik yang relevan, di atas, dan dan dalam situasi berikut

  1. Refraksi dan meresepkan lensa spektakel dan lensa kontak
  2. Perhitungan lensa intraokuler
  3. Pembedahan katarak
  4. Penggunaan prisma untuk diplopia
  5. Meresepkan bantuan penglihatan rendah

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 3 Clinical Optics

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York,   Oxford University Press

Milder B, Rubin ML: The fine art of prescribing glasses without making a spectacle of yourself, 2nd ed. Gainesville, FL, Triad Publishing Co.

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. RETINOSKOPI DAN REFRAKSI

 

Tujuan keseluruhan

  1. Untuk mengidentifikasi prinsip dan indikasi untuk retinoskopi
  2. Untuk melakukan teknik retinoskopi
  3. Untuk mengidentifikasi opasitas media dengan retinoskopi
  4. Untuk melakukan refraksi terintegrasi berdasarkan hasil retinoskopi

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Untuk menjelaskan jenis kesalahan refraktif utama
  2. Untuk menjelaskan optik ophthalmikus dan prinsip optik refraksi dan retinoskopi.
  3. Untuk melakukan retinoskopi untuk mendeteksi kesalahan refraktif sederhana
  4. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk menggunakan lensa percobaan aqtau phoropter untuk kesalahan refraktif sederhana
  5. Untuk melakukan teknik refraksi subjektif untuk kesalahan refraktif sederhana.
  6. Untuk melakukan teknik refraksi dasar (misalnya untuk myopi, hyperopia, tambahan penglihatan dekat)/
  7. Untuk menjelaskan prinsip dasar dari keratometer.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Untuk menjelaskan jenis kesalahan refraktif yang lebih kompleks, termasuk kesalahan refraktif post-operatif.
  2. Untuk melakukan teknik refraksi yang lebih tinggi (misalnya astigmatisme, refraksi kompleks, bantuan akomodatif asimetris).
  3. Untuk menjelaskan optik ophthalmikus yang lebih tinggi dan prinsip optik dari refraksi dan retinoskopi (misalnya post-keratoplasti, ekstraksi post-katarak).
  4. Untuk melakukan teknik refraksi objektif dan subjektif untuk kesalahan refraktif yang lebih kompleks, termasuk astigmatisme dan kesalahan refraktif post-operatif.
  5. Untuk melakukan teknik retinoskopi yang lebih tinggi untuk mendeteksi kesalahan refraktif yang sederhana dan kompleks
  6. Untuk menjelaskan dan menggunakan teknik yang lebih tinggi menggunakan lensa percobaan atau phoropter untuk kesalahan refraktif yang lebih kompleks, termasuk modifikasi dan perbaikan kesalahan refraktif manifestasi subjektif dan kesalahan refraktif yang lebih kompleks (misalnya astigmatisme tingkat lanjut dan ireguler, jarak verteks).
  7. Untuk menggunakan keratometer untuk deteksi kesalahan refraktif yang lebih tinggi.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Untuk menjelaskan jenis kesalahan refraktif yang lebih kompleks, termasuk kesalahan refraktif post-operatif, post-keratoplasti, dan pembedahan refraktif.
  2. Untuk melakukan teknik refraksi yang paling tinggi (misanya astigmatisme ireguler, pembedahan pra- dan post-refraktif).
  3. Untuk menjelaskan optik ophthalmikus ynag paling tinggi dan prinsip optik dari refraksi dan retinoskopi, termasuk penyimpangan aturan yang lebih tinggi.
  4. Untuk menggunakan optik ophthalmikus yang paling tinggi dan prinsip optik untuk refraksi dan retinoskopi, termasuk penyimpangan yang lebih tinggi.
  5. Untuk melakukan teknik refraksi objektif dan subjektif pada kesalahan refraktif yang paling kompleks, termasuk astigmatisme dan kesalahan refraktif post-operatif.
  6. Untuk melakukan teknik yang paling tinggi menggunakan lensa percobaan atau phoropter untuk kesalahan refraktif yang lebih kompleks, termasuk modifikasi dan perbaikan kesalahan refraktif manifestasi subjektif, retinoskopi cycloplegic dan refraksi, dan refraksi post-cycloplegic, asitmatisme ireguler, post-keratoplasti, dan kasus pembedahan refraktif.
  7. Untuk menggunakan keratometer untuk deteksi kesalahan refraktif tingkat tinggi yang halus atau kompleks.
  8. Untuk menggunakan instrumen dan teknik refraksi yang lebih tinggi (misalnya distometer, refraktor otomatis, topografi kornea otomatis).

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 3 Clinical Optics

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

 

 

 

 

 

 

  1. LENSA KONTAK

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP DASAR):

  1. Tujuan
  2. Untuk melakukan riwayat contact lens (CL) dasar dan pemeriksaan, dan untuk menyadari uji dasar tambahan dan pertanyaan yang dibutuhkan untuk pasien CL dengan kebutuhan yang lebih kompleks.
  3. Untuk melakukan teknik retinoskopi, refraksi, dan over-refraksi pada pasien CL rutin
  4. Untuk menjelaskan optik dari contact lens lunak dan contact lens keras (misalnya CL permeabel gas yang kaku); perubahan kurva dasar, lensa lakrimalis, dan zona optik.
  5. Untuk menjelaskan perubahan peresepan spektakel (Rx) menjadi CL Rx, termasuk metode mengubah mereka dari silinder plus ke minus.
  6. Untuk menjelaskan desain CL dasar, menggunakan terminologi yang tepat.
  7. Untuk menjelaskan teknik dan melakukan penyesuaian CL dasar.
  8. Untuk menjelaskan pemilihan kandidat CL dengan kebutuhan non-kompleks.
  9. Untuk menggunakan instrumen dan uji CL pelengkap (misalnya perangkat percobaan, uji fluorescein).
  10. Untuk melakukan pemeriksaan CL untuk koreksi penglihatan, kesesuaian, dan kenyamanan.
  11. Untuk menjelaskan kontraindikasi untuk penggunaan contact lens.
  12. Keterampilan koginitif
  13. Untuk menjelaskan dasar dari optik ophthalmikus dalam pengananan CL (misalnya pilihan CL, teknik untuk penyesuaian individu).
  14. Untuk mendaftarkan indikasi untuk lensa kontak dalam kasus non-kompleks.
  15. Untuk menjelaskan pilihan CL dan teknik untuk penyesuaian individu dengan kebutuhan CL non-kompleks.
  16. Keterampilan teknis
  17. Untuk melakukan teknik retinoskopi tingkat lanjut pada pasien CL.
  18. Untuk melakukan teknik refraksi tingkat lanjut pada pasien CL, termasuk penyesuaian diagnostik.
  19. Untuk melakukan teknik untuk memeriksa dan menginspeksi lensa kontak.
  20. Untuk menggunakan keterampilan mengajar yang tepat untuk menginstruksikan pasien dalam insersi, pelepasan, dan perawatan lensa kontak yang aman.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Tujuan
  1. Untuk melakukan anamnesa dan pemeriksaan lebih lanjut pada pasien yang memakai kontak lensa, menggunakan pemeriksaan penunjang serta mengajukan pertanyaan yang tepat untuk pasien dengan kontak lensa yang komples (misalnya, keratoconus, yang sulit dicocokkan kontak lensanya).
  2. Untuk melakukan retinoskopi dan refraksi pada pasien kontak lensa dengan keadaan yang lebih kompleks (misalnya keratoconus, pasca-keratoplasty).
  3. Untuk menjelaskan optik yang lebih maju pada lensa kontak lunak (Soft kontak lensa) dan lensa kontak keras (Misalnya, kontak lensa gas permeable); perubahan kurva dasar, lensa lacrimalis, dan zona optik.
  4. Untuk menjelaskan desain kontak lensa yang lebih maju (misalnya, lensa bentuk khusus dan bahan kontak lensa khusus).
  5. Untuk menjelaskan dan melakukan fitting kontak lensa yang lebih rumit (misalnya, post-keratoplasty).
  6. Untuk menjelaskan pemilihan calon pemakai kontak lensa dengan keadaan yang lebih kompleks (misalnya, pasca-bedah).
  7. Untuk menggunakan instrumen kontak lensa tambahan pada pasien dengan kebutuhan yang lebih kompleks (misalnya, pasca-bedah topografi).
  8. Untuk melakukan konfirmasi kontak lensa untuk penglihatan, dan kenyamanan dalam kasus kontak lensa terapeutik.

 

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan konsep optik mata yang lebih baik dalam hal kontak lensa.
  3. Untuk menjelaskan indikasi kontak lensa yang lebih maju (misalnya, lensa terapeutik).

 

  1. Keterampilan teknis
  2. Untuk melakukan teknik retinoskopi yang lebih baik pada pasien kontak lensa.
  3. Untuk melakukan teknik refraksi yang lebih baik pada pasien kontak lensa, termasuk untuk diagnostik
  4. Untuk melakukan teknik-teknik canggih yang memverifikasi dan memeriksa lensa kontak pada pasien dengan kebutuhan kontak lensa yang rumit
  5. Untuk melakukan fitting kontak lensa yang lebih baik pada pasien dengan kebutuhan yang kompleks (misalnya, keratoconus, pada anak, penyakit kornea aktif).
  6. Untuk menjelaskan dan menggunakan instrumen kontak lensa dalam kasus yang lebih kompleks.
  7. Untuk menjelaskan komplikasi kontak lensa yang lebih berat. (Misalnya mikroba keratitis, steril infiltrat, toksisitas pengawet)
  8. Untuk melakukan pemilihan kontak lensa sesuai (misalnya, pemilihan material, modifikasi kontak lensa).
  9. Untuk melakukan topografi kornea untuk menyesuaikan lensa kontak.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Tujuan
  1. Untuk melakukan teknik yang paling maju dalam anamnesa dan pemeriksaan pasien kontak lensa, dan memahami apa tes tambahan dan pertanyaan yang diperlukan selama pemeriksaan kontak lensa (misalnya, pasca-keratoplasty, beberapa operasi, pasca-refraksi, keratoconus, penyakit kornea aktif).
  2. Untuk melakukan retinoskopi dan refraksi pada pasien kontak lensa dalam keadaan yang lebih rumit (misalnya, keratoglobus, keratoconus, setelah trauma okuli [misalnya laserasi kornea] atau setelah       keratoplasti).
  3. Untuk menjelaskan optik yang paling canggih dan aplikasi lensa kontak lunak dan keras
    lensa kontak (misalnya kontak lensa piggyback).
  4. Untuk menjelaskan desain kontak lensa paling maju, menggunakan terminologi yang sesuai (misalnya, khusus fitting, lensa khusus untuk yang sulit fitting pasien).
  5. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan pemasangan kontak lensa paling baik (misalnya, postmultiple keratoplasty atau memperbaiki trauma kornea).
  6. Untuk menjelaskan indikasi dan menerapkan kontak lensa paling kompleks dalam keadaan khusus atau untuk calon dengan kesulitan yang lebih berat (misalnya, pasca pasien bedah, anak)
  7. Untuk menggunakan instrumen kontak lensa tambahan pada pasien dengan kebutuhan yang paling kompleks (misalnya, topografi, tes fluorescein, lensa diagnostik).

 

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan perbedaan antara pilihan materi kontak lensa.

Untuk menjelaskan metode memodifikasi lensa kontak untuk meningkatkan kenyamanan, visi, atau respon fisiologis

  1. Keterampilan teknis
  1. Untuk melakukan modifikasi kontak lensa dalam kasus yang kompleks.

Untuk memilih kontak lensa yang tepat dalam kasus yang lebih kompleks.

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 3 Clinical Optics

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

 

  1. KATARAK DAN LENSA

 

Tujuan Umum

  1. Untuk menjelaskan penilaian dan penanganan, indikasi, dan komplikasi intra- dan post-operatif dari pembedahan katarak dan prosedur segmen anterior yang berkaitan,
  2. Untuk melakukan pemeriksaan lengkap ophthalmologi pre-operatif dari pasien katarak.
  3. Untuk merumuskan diagnosis diferensial dari katarak dan menilai lensa normal dan abnormal
  4. Untuk melakukan refraksi optimal dari pasien pembedahan post-katarak.
  5. Untuk mengembangkan dan melatih pembuatan keputusan klinis dan etis pada pasien katarak.
  6. Untuk mengembangkan teknik komunikasi pasien yang baik mengenai pembedahan katarak.
  7. Untuk melakukan pembedahan katarak rutin dan tingkat lanjut dan penempatan intraocular lens (IOL)
  8. Untuk menangani masalah katarak klinis dan pembedahan dasar dan tingkat lanjut
  9. Untuk mendiagnosis dan menangani komplikasi intraoperatif dan post-operatif secara efektif dari pembedahan katarak
  10. Untuk bekerja secara efektif sebagai anggota tim perawatan medis
  11. Untuk mengembangkan keterampilan mengajar tentang katarak untuk melatih mahasiswa junior.

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan kognitif
  2. Untuk mengidentifikasi penyebab dan jenis katarak yang paling lazim (misalnya polat anterior, sklerotik nuklear kortikal, subkapsuler posterior).
  3. Untuk mendaftarkan riwayat dan langkah-langkah pemeriksaan dasar untuk penilaian katarak pre-operatif.
  4. Untuk menjelaskan langkah-langkah dalam prosedur pembedahan katarak.
  5. Untuk mendefinisikan refraksi dasar atau teknik penyesuaian lensa kontak untuk memperoleh perbaikan pandangan sebelum mempertimbangkan ekstraksi katarak
  6. Untuk menjelaskan etiologi utama dari lensa yang mengalami dislokasi atau subluksasi (misalnya trauma, sindrom Marfan, homocystinuria, sindrom Weill-Machesani, sifilis)
  7. Untuk mengenal teknik ekstraksi katarak intrakapsuler, ektraksi katarak ekstrakapsuler, dan fakoemulsifikasi.
  8. Untuk menjelaskan yang berikut ini :
  9. Optik ophtalmikus dasar yang berkaitan dengan katarak
  10. Jenis kesalahan refraktif pada katarak
  11. Teknik retinoskopi untuk katarak
  12. Teknik refraksi subjektif untuk pasien katarak
  13. Jenis IOLs; perhitungan kekuatan IOL
  14. Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan prinsip dan mekanisme instrumen berikut dalam penilaian katarak :
  15. Lensometer
  16. Autorefraktor
  17. Retinoskopi
  18. Phoropter
  19. Keratometer
  20. Biomikroskop slit lamp
  21. Alat uji cahaya yang silau dan kontras
  22. Meter ketajaman potensial

 

  1. Keterampilan teknis/pembedahan
  2. Untuk melakukan biomikroskopi slit lamp dasar, retinoskopi, dan ophthalmoskopi.
  3. Untuk menilai dan mengklasifikasikan jenis opasitas lensa.
  4. Untuk melakukan teknik refraksi subjektif dan retinoskopi pada pasien dengan katarak.
  5. Untuk melakukan ophthalmoskopi langsung dan tidak langsung pra- dan post-pembedahan katarak.
  6. Untuk melakukan langkah-langkah dasar pembedahan katarak (misalnya insisi, penutupan luka) dalam lab praktek.
  7. Untuk membantu pada pembedahan katarak dan melakukan persiapan pasien, draping steril, dan anestesi
  8. Untuk melakukan langkah-langkah pembedahan katarak berikut ini dalam lab praktek atau di bawah pengawasan langsung, termasuk salah satu atau semua yang berikut ini :
  9. Pembuatan luka
  10. Kapsulotomi/kapsulorrhexis anterior
  11. Instilasi dan pengangkatan viskoelastik
  12. Teknik ekstrakapsuler dan fakoemulsifikasi (misalnya sculpting, membagi dan menangani, phaco-chop)
  13. Irigasi dan aspirasi
  14. Pembersihan kortikal
  15. Implantasi IOL (misalnya anterior dan posterior)

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Keterampilan kognitif
  2. Untuk menjelaskan penyebab paling lazim dari abnormalitas lensa (misalnya sferophakia, lentikonus, lentis ektopia).
  3. Untuk menjelaskan penilaian pra-operatif dari pasien katarak, termasuk :
  4. Penyakit sistemik yang menjadi ketertarikan atau relevansi dengan pembedahan katarak
  5. Hubungan eksternal dan penyakit kornea yang berhubungan dengan katarak dan pembedahan katarak (misalnya abnormalitas kelopak mata, mata kering)
  6. Hubungan glaukoma, uveitis, dan opasitas kapsuler yang berkaitan dengan pembedahan katarak

 

  1. Untuk menjelaskan uji analisis cahaya silau untuk pembedahan katarak
  2. Untuk menjelaskan penggunaan ultrasonografi scan A dan B dalam pembedahan katarak
  3. Untuk menjelaskan instrumen dan teknik ekstraksi katarak, termasuk pembedahan ekstrakapsuler dan fakoemulsifikasi (misalnya trouble-shooting mesin fakoemulsifikasi, mengubah parameter mesin).
  4. Untuk menjelaskan jenis, indikasi dan teknik anestesi untuk pembedahan katarak (misalnya, topikal, lokal, umum)
  5. Untuk menjelaskan indikasi, teknik, dan komplikasi dari prosedur pembedahan, termasuk :
  6. Pembedahan ekstrakapsuler
  7. Pembedahan intrakapsuler
  8. Fakoemulsifikasi
  9. Parasentesis
  10. Penempatan IOL
  11. Untuk menjelaskan riwayat dan teknik implantasi IOL dasar.
  12. Untuk menghubungkan tingkat ketajaman visual dengan opasitas lensa atau kapsuler.
  13. Untuk menjelaskan komplikasi katarak yang lazim dan pembedahan segmen anterior (misalnya peningkatan tekanan intraokuler, hyphema, endophthalmitis, edema makuler cystoid, terlepasnya retina, dislokasi lensa intraokuler, glaukoma yang diinduksi oleh lensa dan uveitis).
  14. Untuk menjelaskan indikasi, prinsip, dan teknik kapsulotomi laser YAG, dan untuk memahami waktu yang tepat untuk kapsulotomi laser YAG.

 

  1. Keterampilan teknis/pembedahan
  2. Untuk melakukan injeksi lokal kortikosteroid, antibiotik, dan anestetikum.
  3. Untuk mengimplementasikan prosedur persiapan dasar untuk pembedahan katarak (misalnya memperoleh informed consent, identifikasi instrumen, teknik steril, pemakaian baju dan sarung tangan, prep dan drape, persiapan pre-operatif lainnya).
  4. Untuk menggunakan mikroskop operasi untuk pembedahan katarak dasar.
  5. Untuk melakukan pembedahan ekstrakapsuler dalam praktek (misalnya lab hewan atau praktek) dan kemudian dalam ruang operasi di bawah pengawasan, mencakup penguasaan keterampilan berikut :
  6. Pembuatan luka
  7. Kapsulotomi/kapsulorrhexis anterior
  8. Instilasi dan pengangkatan viskoelastik
  9. Teknik ekstrakapsuler
  10. Memulai teknik fakoemulsifikasi (misalnya sculpting, membagi dan menangani, phaco-chop)
  11. Irigasi dan aspirasi
  12. Pembersihan kortikal
  13. Implantasi IOL (misalnya anterior dan posterior)
  14. Untuk melakukan parasentesis ruang anterior
  15. Sebagai tambahan untuk melakukan langkah-langkah yang tepat dalam pembedahan katarak, untuk membantu dalam pembedahan katarak, dan melakukan langkah-langkah yang lebih tinggi dalam persiapan pasien dan anestesi.
  16. Untuk menjelaskan aplikasi viskoelastik yang lebih tinggi dalam pembedahan (misalnya kontrol prolapse iris, pengangkatan nukleus yang menurun, viskodiseksi, aspirasi viskoelastik residu/yang tertahan.
  17. Untuk melakukan penilaian post-operatif dari pasien katarak.
  18. Untuk mengenali dan merujuk atau merawat komplikasi postoperatif yang lazim dari pembedahan katarak (misalnya endophthalmitis, peningkatan tekanan intraokuler, edema makuler cystoid, kebocoran luka, uveitis).

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Keterampilan kognitif
  2. Untuk mendefinisikan indikasi yang lebih kompleks untuk pembedahan katarak (misalnya pandangan segmen posterior yang lebih baik), menjelaskan performa dan menjelaskan komplikasi dari pembedahan segmen anterior yang lebih tinggi (misalnya pseudoeksfoliasi, pupil yang kecil, katarak yang matang, nukleus yang keras, katarak hitam, post-traumatik, zonular dehiscence), termasuk prosedur yang lebih tinggi (misalnya IOLs sekunder dan indikasi untuk IOLs spesialis, tegangan kapsuler, iris hooks, penggunaan pewarnaan hijau indocyanine dari kapsul anterior).
  3. Untuk menjelaskan instrumen dan teknik ekstraksi katarak, termasuk pembedahan ekstrakapsuler dan fakoemulsifikasi (misalnya trouble-shooting mesin fakoemulsifikasi, mengubah parameter mesin).
  4. Untuk menjelaskan indikasi, teknik, dan komplikasi dari ekstraksi katarak dalam konteks disiplin subspesialis dari glaukoma (misalnya gabungan prosedur katarak dan glaukoma), retina (misalnya pembedahan katarak pada pasien dengan scleral buckles atau atau sebelum vitrectomy), kornea (misalnya ekstraksi katarak pada pasien dengan opasitas kornea), pembedahan plastik ophthalmikus (misalnya ptosis setelah pembedahan katarak), dan pembedahan refraktif (misalnya pembedahan katarak pada mata yang telah menjalani pembedahan refraktif).
  5. Untuk menilai secara bebas komplikasi katarak dan pembedahan implan IOL (misalnya robeknya kapsuler posteror, prolapse vitreous, dislokasi intra-vitreal dari framen katarak, efusi koroidal).
  6. Untuk memahami indikasi dan teknik pembedahan intrakapsuler (misalnya kasus langka yang mungkin membutuhkan prosedur ini, atau pasien yang mungkin telah menjalani prosedur ini sebelumnya).
  7. Untuk menjelaskan indikasi dan instrumentasi dan teknik yang digunakan untuk implan IOL yang dapat dilipat dan tidak dapat dilipat.
  8. Untuk menjelaskan penilaian dan penanganan penyebab endophthalmitis postoperatif yang lazim dan tidak lazim.
  9. Untuk melakukan reposisi, pengangkatan, atau pertukaran IOLs.
  10. Untuk membantu dalam mengajar dan mengawasi mahasiswa tingkat dasar dan standar (misalnya residen tahun pertama dan kedua)/
  11. Untuk menjelaskan aturan pemerintah dan rumah sakit yang diaplikasikan untuk pembedahan katarak.
  12. Keterampilan teknis/pembedahan
  13. Untuk menjelaskan prinsip, indikasi, pergerakan, dan performa dari ultrasonografi scan A dan perhitungan kekuatan IOL.
  14. Untuk melakukan fakoemulsifikasi dalam praktek (misalnya lab hewan atau praktek) dan kemudian dalam ruang operasi, termasuk penguasaan keterampilan berikut :
  15. Pembuatan luka
  16. Kapsulotomi/kapsulorrhexis anterior
  17. Viskoelastis
  18. Teknik fakoemulsifikasi intrakapsuler, ekstrakapsuler (misalnya sculpting, membagi dan menangani, phaco-chop, stop and chop)
  19. Instrumentasi dan teknik irigasi dan aspirasi
  20. Implantasi IOL (misalnya anterior dan posterior, IOLs khusus)
  21. Reposisi, pengangkatan atau pertukaran IOL
  22. Untuk melakukan implantasi IOLs yang dapat dilipat dan tidak dapat dilipat
  23. Untuk melakukan penanganan intraoperatif dan postoperatif dari kejadian yang dapat terjadi selama atau sebagai akibat pembedahan katarak, termasuk :
  24. Kehilangan vitreous
  25. Robeknya kapsuler
  26. Pendarahan segmen anterior atau posterior
  27. Tekanan posterior positif
  28. Terlepasnya choroidal
  29. Pendarahan ekspulsif
  30. Kehilangan anestesi
  31. Peningkatan tekanan intraokuler
  32. Penggunaan medikasi topikal dan sistemik
  33. Astigmatisme
  34. Refraksi postoperatif (sederhana dan kompleks)
  35. Edema kornea
  36. Dehiscence luka
  37. Hyphema
  38. Korteks residual
  39. Penurunan nukleus
  40. Uveitis
  41. Cystoid macular edema (CME)
  42. Peningkatan tekanan intraokuler dan glaukoma
  43. Infeksi intraokluler awal dan akhir postoperative

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 11 Lens and Cataract

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

Rhee DJ, Pyfer MF, Rhee DM: The Wills Eye Manual: Office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease. 3rd ed. Lippincott Williams & Wilkins

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. PENYAKIT KORNEA, PENYAKIT EKSTERNAL DAN BEDAH REFRAKSI

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan anatomi dasar, embriologi, fisiologi, patologi, mikrobiologi, imunologi, genetika, epidemiologi, dan farmakologi kornea, konjungtiva, sklera, kelopak mata, aparatus lakrimalis, dan adneksa mata.
  2. Untuk menjelaskan kelainan bawaan pada kornea, sklera, dan bola mata (misalnya, ‘Peters anomali, microphthalmos, trauma lahir, buphthalmos).
  3. Untuk menjelaskan karakteristik kornea dan degenerasi konjungtiva (misalnya, pterygium, pinguecula, plak senilis dari sklera, keratoconus).
  4. Untuk mengenali degenerasi dan dystrophies kornea umum (misalnya, map-dotfingerprint distrofi, distrofi Meesman itu, Reiss Buckler-distrofi, Francois distrofi, Schnyder distrofi, distrofi stroma kongenital, lattice distrofi, distrofi, granular, distrofi makular, kongenital endotel strophy, distrofi Fuchs ‘, distrofi polymorphous posterior, degenerasi Salzmann s).
  5. Untuk mengenali radang kornea dan infeksi umum (misalnya, herpes simpleks,
    ster, sifilis, keratitis interstisial).
  6. Untuk memahami dasar-dasar optik kornea dan refraksi (misalnya, keratoconus).
  7. Untuk menjelaskan dasar-dasar mikrobiologi okular dan mengenali kornea dan radang konjungtiva dan infeksi (misalnya, stafilokokus hipersensitivitas, keratitis mikroba simpel, trachoma, oftalmia neonatorum, herpes zoster ophthalmicus, herpes simpleks keratitis dan konjungtivitis).
  8. Untuk mengenali presentasi dasar alergi okular (misalnya, phlyctenules, konjungtivitis musiman, konjungtivitis vernal, konjungtivitis alergi dan atopik,
    konjungtivitis papiler).
  9. Untuk mengenali dan mengobati penyakit pada margo palpebra (misalnya, stafilokokus blepharitis, disfungsi kelenjar meibomian).
  10. Untuk menjelaskan, mendiagnosa, dan mengobati (atau merujuk) kekurangan vitamin A (misalnya, Bitot spot, mata kering, memperlambat adaptasi gelap) dan penyakit kornea neurotropik.
  11. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial dasar konjungtivitis akut dan kronis atau “mata merah “(misalnya, keratitis kontak lensa, episkleritis, konjungtivitis, selulitis orbital, gonokokal dan konjungtivitis klamidia).
  12. Untuk menjelaskan mekanisme dasar dari trauma dan toksik segmen anterior (Misalnya,luka bakar alkali, laserasi palpebra, fraktur orbital, dll).
  13. Untuk memahami mekanisme imunologi mata dan mengenali manifestasi peradangan segmen anterior (misalnya mata, merah yang terkait dengan iritis akut dan kronis).
  14. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar farmakologi ocular; anti-infeksi, antiradang
    dan modulasi kekebalan agen (misalnya, indikasi dan kontraindikasi untuk topikal kortikosteroid, non-steroid anti-inflamasi, dan antibiotik).
  15. Untuk mengenali laserasi kornea (perforasi dan non perforasi), pterygium yang mungkin
    memerlukan operasi, benda asing kornea dan konjungtiva.
  16. Untuk mendiagnosa dan mengobati paparan kornea (misalnya dengan, lubrikasi, tarsorrhaphy sementara).
  17. Untuk menjelaskan epidemiologi, diagnosis banding, evaluasi dan pengelolaan umum dari lesi jinak dan ganas pada palpebra, termasuk lesi berpigmen dari konjungtiva dan palpebra (misalnya, Nevi, melanoma, melanosis primer)
  18. Untuk menjelaskan epidemiologi, klasifikasi, patologi, indikasi untuk operasi, dan
    Prognosis malposisi umum dari kelopak mata (misalnya, blepharoptosis, trichiasis,
    distichiasis blefarospasme, entropion, ektropion) dan memahami hubungannya dengan penyakit sekunder dari kornea dan konjungtiva (misalnya, keratitis eksposure).
  19. Untuk mengenali dan menjelaskan pengobatan untuk luka bakar kimia (misalnya, jenis agen, terapi medis).
  20. Untuk mengenali dan menjelaskan etiologi dari hyphema dan microhyphema.
  21. Untuk menjelaskan etiologi dan pengobatan keratitis pungtata superfisial (misalnya, mata kering, keratopathy punctata superficial thygeson), blepharitis, toksisitas, ultraviolet
    photokeratopathy, lensa kontak yang terkait).
  22. Untuk menjelaskan gejala dan tanda, pengujian dan evaluasi, dan pengobatan
    keratopathy eksposure dan mata kering (misalnya, tes Schirmer).
  23. Untuk mengenali manifestasi segmen anterior dari penyakit sistemik (misalnya, penyakit Wilson) dan efek samping farmakologis (misalnya, keratopathy vortex amiodaron).
  24. Untuk mengenali diagnosis diferensial, dan mengevaluasi aniridia dan kelainan
    perkembangan segmen anterior (misalnya,Axenfeld, Rieger, ‘Peters
    anomali dan sindrom lainnya).
  25. Untuk mengenali dan mengobati granuloma piogenik.
  26. Untuk mengenali dan mengobati komplikasi mata dari penyakit infeksi seperti leprosy dan tuberculosis

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
  1. Untuk melakukan pemeriksaan eksternal (dengan iluminasi dan pembesaran) dan slit lamp biomicroscopy, termasuk gambaran segmen anterior.
  2. Untuk anestesi topikal, serta noda topikal khusus dari kornea (misalnya,
    pewarnaan fluorescein dan Rose Bengal).
  3. Untuk melakukan tes sederhana untuk mata kering (misalnya, uji Schirmer).
  4. Untuk melakukan oklusi punctal (sementara atau permanen).
  5. Untuk melakukan pengujian sederhana sensasi kornea (misalnya, usap ujung kapas).
  6. Untuk melakukan tonometri (misalnya, applanation, tonopen, Schiotz, pneumotonometry).
  7. Untuk melakukan teknik sampling untuk infeksi virus, bakteri, jamur, dan protozoa
    (misalnya, menggores kornea dan teknik kultur yang tepat).
  8. Untuk melakukan dan menginterpretasikan staining dari kornea dan konjungtiva (misalnya, teknik dan media kultur, pewarnaan Gram, Giemsa noda, calcofluor putih, asam).
  9. Untuk mengelola defek epitel kornea (misalnya, bebat mata tekan dan bandage contact lens).
  10. Untuk melakukan pengangkatan benda asing atau konjungtiva kornea (misalnya, karat cincin).
  11. Untuk melakukan eksisi pterygium primer.
  12. Untuk melakukan rekonstruksi laserasi palpebra.
  13. Untuk melakukan perbaikan laserasi kornea (misalnya, laserasi linier tidak memanjang sampai limbus).
  14. Untuk melakukan epilasi
  15. Untuk melakukan tarsorrhaphy lateral.
  16. Untuk mengiris / mengalirkan atau menghapus chalazion primer / tembel.
  17. Untuk melakukan biopsi insisi atau eksisi sederhana dari lesi palpebra
  18. Untuk melakukan irigasi luka bakar kimia untuk mata.
  19. Untuk mengobati hyphema dan microhyphema (misalnya,tekanan intraokular yang meningkat dan perdarahan ulang).

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan anatomi yang lebih kompleks, embriologi, fisiologi, patologi,
    mikrobiologi, imunologi, genetika, epidemiologi, dan farmakologi dari kornea,
    konjungtiva, sklera, kelopak mata, aparat lacrimalis, dan adneksa mata.
  3. Untuk menjelaskan kelainan kongenital yang lebih kompleks dari kornea, sklera, dan bola mata (Misalnya, hamartomas dan choristomas).
  4. Untuk menjelaskan, mengenali, mengevaluasi, dan mengobati penipisan kornea perifer (misalnya, inflamasi, degeneratif, dellen, infeksi, imunologi).
  5. Untuk mengenali neoplasma konjungtiva umum (misalnya, jinak, tumor ganas).
  6. Untuk mengenali dan mengobati degenerasi kornea atau konjungtiva (pterygium misalnya, meradang, atipikal, atau berulang, keratopathy band).
  7. Untuk menjelaskan epidemiologi, diagnosis banding, evaluasi, dan pengelolaan Bitot spot.
  8. Untuk menjelaskan diagnosis banding, evaluasi, dan pengelolaan keratitis pungtat superficial Thygeson.
  9. Untuk memahami optik kornea dan refraksi yang lebih kompleks (misalnya, astigmat irregular).
  10. Untuk mengkorelasikan ketajaman visual dengan kepadatan media opacity (misalnya,
    katarak) dan untuk mengevaluasi etiologi kejanggalan antara ketajaman dan temuan dari pemeriksaan media refrakta.
  11. Untuk menjelaskan mikrobiologi okular dan menjelaskan diagnosis diferensial
    infeksi kornea dan konjungtiva (misalnya, kompleks, mixed, atau atipikal
    bakteri, jamur, Acanthamoeba keratitis, virus, atau parasit).
  12. Untuk menjelaskan diagnosis banding, evaluasi, dan pengobatan keratitis interstisial (misalnya, sifilis, virus penyakit, non-menular, imunologi, peradangan).
  13. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial yang lebih kompleks dari “mata merah” (misalnya, autoimun dan gangguan inflamasi menyebabkan skleritis, episkleritis, konjungtivitis, selulitis orbital).
  14. Untuk menjelaskan bagian penting dari trachoma, termasuk epidemiologi, klinis dan
    pembagian stadium, dan komplikasinya (misalnya, sikatriks), pencegahan (misalnya, kebersihan wajah), dan pengobatan topikal dan sistemik antibiotik (terutama di daerah hiperendemik), dan operasi (misalnya, rotasi tarsal).
  15. Untuk menjelaskan mekanisme yang lebih kompleks dari cedera traumatis dan toksik segmen anterior (misalnya, komplikasi jangka panjang gejala sisa luka bakar asam dan alkali, laserasi palpebra yang melibatkan sistem lakrimal, laserasi full thickness).
  16. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial dan manifestasi eksternal yang lebih kompleks
    dari peradangan segmen anterior (misalnya, iritis akut dan kronis dengan dan tanpa sistemik penyakit).
  17. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip farmakologi pada mata yang lebih kompleks dari anti-infeksi, antiradang dan agen modulasi kekebalan (misalnya, penggunaan non-steroid topical dan steroid agen, siklosporin topikal).
  18. Untuk mengenali dan mengobati laserasi kornea (perforasi dan non-perforasi).
  19. Untuk mengenali dan mengobati pterygia berulang, atau atipikal atau yang besar yang mungkin membutuhkan pembedahan.
  20. Untuk menjelaskan dan memperlakukan benda asing kornea dan konjungtiva.
  21. Untuk mendiagnosa dan mengobati paparan kornea yang parah (misalnya, lubrikasi, arsorrhaphy sementara)
  22. Untuk mengenali secara umum dan khusus serta mengobati lesi jinak dan ganas palpebra.
  23. Untuk mengenali dan mengobati malposisi umum dari kelopak mata (misalnya, entropion, ectropion, dan ptosis) yang berlaku untuk penyakit kornea sekunder.
  24. Untuk mengenali dan mengobati erosi kornea berulang.
  25. Untuk mengenali dan memperlakukan korpus alienum, cedera substansi binatang dan tumbuh-tumbuhan.
  26. Untuk mengenali dan mengobati hyphemas yang lebih kompleks (misalnya, indikasi bedah).
  27. Untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengobati konjungtivitis kronis (misalnya, klamidia, trachoma, kontagiosum moluskum, sindrom oculoglandular Parinaud itu, rosacea okular).
  28. Untuk menjelaskan fitur klinis, patologi, evaluasi, dan pengobatan cicatrical okular
  29. Untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengobati komplikasi okular dari penyakit berat, seperti keratopathy paparan kronis, dermatitis kontak, dan sindrom Stevens-Johnson.
  30. Untuk menjelaskan epidemiologi, gambaran klinis, patologi, evaluasi, dan pengobatan
    perifer kornea menipis atau ulserasi (misalnya, degenerasi marjinal Terrien itu, ulkus Mooren , rheumatoid arthritis terkait melting kornea).

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
  2. Untuk melakukan teknik yang lebih canggih, termasuk keratometry, keratoscopy, endotel jumlah sel dan evaluasi, mikroskop specular, dan pachymetry.
  3. Untuk melakukan aplikasi kornea glue.
  4. Untuk melakukan tes yang lebih canggih untuk mata kering (misalnya, modifikasi tes Schirmer, penilaian tear break-up time, pengujian tes fluorescein, pewarnaan Rose Bengal).
  5. Untuk melakukan eksisi pterygium yang lebih kompleks, termasuk graft konjungtiva.

 

 

 

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan anatomi yang paling kompleks, embriologi, fisiologi, histopatologi,
    mikrobiologi, imunologi, genetika, epidemiologi, dan farmakologi dari kornea,
    konjungtiva, sklera, kelopak mata, aparat lacrimalis, dan adneksa mata.
  2. Untuk menjelaskan kelainan bawaan yang paling kompleks dan kurang umum dari kornea, sklera, dan bola mata (misalnya, kornea Plana, keratoglobus).
  3. Untuk mengenali neoplasma kornea dan konjungtiva yang umum dan yang tidak umum, dystrophies dan degenerasi (misalnya, distrofi lattice).
  4. Untuk memahami optik kornea dan refraksi yang paling kompleks (misalnya, post-keratoplasty).
  5. Untuk menjelaskan infeksi okular yang kurang umum dan langka dan menjelaskan diagnosis diferensial dari infeksi kornea dan konjungtiva yang paling rumit (misalnya, amuba, Leishmaniasis, nematoda).
  6. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial yang paling kompleks dari “mata merah” misalnya, pemfigoid, pemfigus, sindrom Stevens-Johnson).
  7. Untuk mendiagnosa dan mengobati luka traumatis dan toksik anterior
    segmen (misalnya, avulsion palpebra, trauma alkali yang berat).
  8. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial dan manifestasi eksternal yang paling
    kompleks atau jarang pada peradangan segmen anterior (misalnya, keratouveitis sifilis).
  9. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip farmakologi paling kompleks anti-infeksi, antiradang dan modulasi agen kekebalan (misalnya, kombinasi terapi dari antivirus dan agen anti-inflamasi).
  10. Untuk mengenali dan mengobati luka kornea yang berat (misalnya, laserasi yang sampai ke limbus).
  11. Untuk mendiagnosa dan mengobati kasus-kasus yang paling parah terkena pada kornea (misalnya, flap konjungtiva).
  12. Untuk memahami okular transplantasi permukaan, termasuk konjungtiva autograft / flap, membran amnion transplantasi, transplantasi sel induk limbal.
  13. Untuk memahami indikasi bedah (misalnya, distrofi Fuchs ‘, aphakic / pseudophakic
    keratopathy bulosa), teknik bedah, dan pengakuan dan pengelolaan komplikasi pasca operasi (khususnya penolakan imunologis-dimediasi) dari transplantasi kornea
    (misal, penetran, lamellar).
  14. Untuk memahami penilaian pra operasi, pemilihan pasien, manajemen operasi, dan
    perawatan pasca operasi teknik bedah refraktif, termasuk keratotomi (radial,
    astigmatik), photoablation (photorefractive, phototherapeutic, LASIK), reseksi kornea, thermokeratoplasty, cincin intracorneal, lensa intraokular phakic, dan ekstraksi lensa jernih

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
  2. Untuk melakukan dan menginterpretasikan teknik kornea paling maju (misalnya, pachymetry, endotel mikroskop, topografi kornea terkomputerisasi).
  3. Untuk memahami dan melakukan fitting kontak lensa yang rumit (misalnya, postkeratoplasty).
  4. Untuk melakukan operasi konjungtiva kompleks lainnya (misalnya, autograft, transplantasi sel induk).

 

Kurikulum pendidikan Sub-Spesialistik:

  1. Untuk melakukan micropuncture stroma.
  2. Untuk membantu dalam operasi kornea lebih kompleks (misalnya, keratoplasty penetrans dan phototherapeutic keratectomy).
  3. Untuk melakukan lebih memperbaiki laserasi tutupnya kompleks.
  4. Untuk melakukan keratectomy dangkal atau lamelar manual.
  5. Untuk melakukan perbaikan laserasi kornea lebih kompleks (misalnya, laserasi perforasi bentuk stellata).
  6. Untuk memperbaiki laserasi dari aparatus lakrimal (misalnya, melakukan intubasi
    dan penutupan primer).
  7. Untuk memperbaiki kasus entropion dan ektropion.
  8. Untuk melakukan flap konjungtiva tipis (misalnya, Gunderson flap).
  9. Untuk melakukan dasar non-laser teknik bedah refraktif (misalnya, keratotomy relaksasi).
  10. Untuk mengelola dan mengobati neoplasma lebih kompleks dari konjungtiva (misalnya, karsinoma, melanoma).

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 8 External Disease and Cornea

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

Rhee DJ, Pyfer MF, Rhee DM: The Wills Eye Manual: Office and emergency room diagnosis and treatment of eye disease. 3rd ed. Lippincott Williams & Wilkins

Galloway NR, Amoaku WMK: Common eye diseases and their management. 2nd ed.Springer Verlag

Gold DH, Weingeist TA (eds): Color atlas of the eye in systemic disease. Philadelphia, Lippincott

MacCumber MW: Management of ocular injuries and emergencies. Philadelphia, Lippincott-Raven

 


  1. UVEITIS

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Keterampilan Teknik
  1. Memaparkan prinsip dasar anamnesis dan pemeriksaan pasien uveitis dan penyakit yang berhubungan (contoh : skleritis, pemfigus)
  2. Memaparkan gejala dan tanda uveitis anterior dan posterior (contoh : mata merah, penglihatan menurun, flare dan sel di bilik mata depan, kekeruhan vitreus, pars planitis, infiltrat koroid atau retina)
  3. Memaparkan berbagai bentuk uveitis (contoh : uveitis akut atau kronik, granulomatous-nongranulomatous, anterior, intermediet, dan posterior)
  4. Memaparkan gambaran khas dan diagnose banding uveitis anterior, termasuk infeksi (bakteri, virus, protozoa, parasit), inflamasi (sarkoid, HLA-B27, Behcet, penyakit vascular kolagen), neoplastik (masquerade syndrome), post bedah, post trauma, sindrom Fuch’s heterochromic, rheumatoid arthritis juvenile,
  5. Memaparkan gmbaran khas dan diagnose banding dari uveitis posterior :
    1. Toxoplasmosis
    2. Sarcoidosis
    3. Pars plaitis
    4. Acute retinal necrosis
    5. Vogt-Koyanagi-Harada syndrome
    6. Large cell lymphoma
    7. Uveitis post operasi
    8. Endoftalmitis
    9. Uveitis dengan etiologi yang jarang (contoh : herpes simpleks, herpes zoster, human imunodefisiensi, Lyme disease)
    10. Sifilis congenital dan acquired
    11. Retinitis cytomegalovirus
    12. Multiple sklerosis
  1. Melakukan pemeriksaan segmen anterior dan posterior pada pasein uveitis.
  2. Memaparkan indikasi melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengevaluasi uveitis (contoh : fluorescein angiografi, USG, laboratorium, radiologik)

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Keterampilan Teknik
  1. Mampu menjelaskan lebih lanjut tentang prinsip-prinsip dalam anamnesis dan pemeriksaan pasien dengan uveitis (contoh : tinjauan sistem pada poliartritis nodosa, evaluasi kulit, jantung, respiratoris, ginjal, paru, dan sistem musculoskeletal)
  2. Mampu mencatat/membuat daftar keluhan dan tanda yang kurang lazim pada uveitis anterior dan posterior.
  3. Mampu membedakan tanda-tanda yang kurang lazim pada uveitis (contoh : nodul iris, ulkus, dan granuloma konjungtiva)
  4. Mampu menjelaskan diagnosis banding bentuk-bentuk uveitis yang kurang lazim (contoh : uveitis kronik, uveitis intermediet (pars planitis) dan infeksiosa (sipilis) atau uveitis posterior inflamatoris)
  5. Mampu mengevaluasi dan mengobati penyebab lazim uveitis anterior dan posterior.
  6. Mampu menjelaskan indikasi dan kontraindikasi penggunaan kortikosteroid pada pengobatan uveitis
  1. Melakukan pemeriksaan segmen anterior dan posterior pada pasein uveitis.
  2. Melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengevaluasi uveitis (contoh : fluorescein angiografi, USG, laboratorium, radiologik)


 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Keterampilan Kognitif
  1. Mengenal, mengevavuali dan menangani uveitis yang berhubungan dengan immunosupresif (contoh : imunosupresi farmakologik, syndrome aqiured immune defesiensi)
  2. Mengenal, mengevaluasi dan menangani sifilis ocular congenital dan acquired.
  3. Mengenal, mengevaluasi dan menangani atau merujuk kondisi yang jarang pada kasus uveitis (contoh : Leishmaniasis)
  4. Memaparkan indikasi dan kontraindikasi terapi kortikosteroid pada uveitis, termasuk keuntungan dan resiko.
  5. Memaparkan indikasi dan kontraindikasi terapi imunosupresif pada uveitis (penggunaan antimetabolit,siklosporin, atau agen ankilating)

 

  1. Keterampilan Bedah
  1. Memberikan terapi kortikosteroid melalui berbagai rute.
  2. Memberikan atau merujuk untuk terapi imunospresif pada uveitis.
  3. Mengevaluasi dan menangani komplikasi uveitis.
  4. Melakukan biopsy jika perlu pada traktus uvea atau retina.
  5. Melakukan terapi intravitreal yang menandung antivirus atau kortikosteroid.
  6. Melakukan jika ada indikasi prosedur skleral buckling dan vitrektomi.

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 9 Intraocular inflammation and Uveitis

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

Galloway NR, Amoaku WMK: Common eye diseases and their management. 2nd ed.Springer Verlag

 


  1. NEURO-OPHTHALMOLOGY

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan neuro-anatomi jalur visual.
  3. Untuk menjelaskan neuro-anatomi saraf kranial.
  4. Untuk menjelaskan pupil dan akomodatif neuro-anatomi.
  5. Untuk menjelaskan motilitas okuler dan jalur saraf terkait.
  6. Untuk menjelaskan fitur khas, evaluasi, dan pengelolaan optik yang paling umum
    neuropati (misalnya, demielinasi neuritis optik, neuropati optik iskemik [arteritic dan
    non-arteritic], toksik atau nutirional optik neuropati, neuropati optik herediter Leber itu,
    etambutol toksisitas, neuroretinitis dan kompresi, inflamasi, infiltrasi, dan
    neuropati optik traumatis).
  7. Untuk menjelaskan gambaran khas, evaluasi, dan pengelolaan yang paling umum
    Neuropati motorik (misalnya kelumpuhan nervus tiga, empat dan enam).
  8. Untuk menjelaskan fitur khas sinus cavernous dan sindrom fisura orbital superior
    (Misalnya, infeksi, pembuluh darah, neoplastik, etiologi inflamasi).
  9. Untuk menjelaskan fitur khas, evaluasi, dan pengelolaan penyebab paling umum
    dari nistagmus (misalnya, congenital motorik dan sensorik, , atau akibat obat).
  10. Untuk menjelaskan fitur khas, evaluasi, dan pengelolaan yang paling umum dari
    kelainan pupil (misalnya, cacat relatif aferen pupil, anisocoria, sindrom horner, kelumpuhan saraf ketiga, pupil tonik Adie s).
  11. Untuk menjelaskan fitur khas, evaluasi, dan pengelolaan visual yang paling umum
    dari defek lapangan pandang (misalnya, saraf optik, optik kiasme, radiasi optik, korteks oksipital).
  12. Untuk menjelaskan fitur klinis, evaluasi, dan manajemen Miastenia okular gravis.
  13. Untuk menjelaskan fitur klinis, evaluasi, dan pengelolaan fistula karotis-kavernosa
  14. Untuk menjelaskan diagnosis banding, evaluasi dan pengelolaan kelainan saraf bawaan (misalnya, lubang optik, disk coloboma, Papillo-ginjal sindrom, sindrom morning glory, tilting disc, hipoplasia saraf optik, lapisan serat saraf mielin, melanocytoma, disk drusen, papil Bergmeister).

 

 

  1. Keterampilan teknis
  2. Untuk melakukan pemeriksaan dasar pupil
  3. Untuk menjelaskan indikasi untuk dan melakukan pengujian dasar farmakologis pupil untuk Sindrom Horner, farmakologis dilatasi, dan pupil tonik Adie itu.
  4. Untuk daftar diagnosis diferensial anisocoria (misalnya, lesi simpatik atau parasimpatis , “fisiologis” atau normal).
  5. Untuk menjelaskan, mendeteksi, dan kuantitatif kelainan relatif aferen pupil.
  6. Untuk daftar penyebab cahaya dekat (misalnya, pupil Argyll-Robertson disosiasi, diabetes neuropati diabetes, pupil tonik).
  7. Untuk melakukan pemeriksaan motilitas okular dasar:
  8. Untuk menilai keselarasan mata menggunakan teknik sederhana (misalnya Hirschberg, Krimsky).
  9. Untuk menjelaskan dan melakukan mencakup dasar / mengungkap pengujian untuk tropia.
  10. Untuk menjelaskan dan melakukan pengujian mencakup alternatif untuk phoria.
  11. Untuk melakukan prisma simultan dan cover and uncover.
  12. Untuk melakukan pengukuran penyimpangan dengan prisma.
  13. Untuk menjelaskan indikasi dan menerapkan Fresnel dan penggunaan prisma.
  14. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan duction paksa.
  15. Untuk melakukan penilaian akurasi saccade dan mengejar dan pengujian optokinetic.
  16. Untuk melakukan pengukuran fungsi kelopak mata (misalnya, fungsi levator, posisi palpebra).
  17. Untuk menjelaskan indikasi pengujian lapangan visual dan untuk melakukan dan menginterpretasikan hasil perimetri:
  18. Untuk melakukan pengujian lapangan konfrontatif (statis dan kinetik, pusat dan perifer, merah dan target putih).
  19. Untuk melakukan dan menafsirkan tes layar tangen.
  20. Untuk menjelaskan indikasi dan melakukan perimetry Goldmann dasar, dan menafsirkan hasil.
  21. Untuk menjelaskan indikasi dan melakukan perimetry otomatis dasar, dan menafsirkan hasil.
  22. Untuk melakukan pemeriksaan ophthalmoscopic direct dan indirect, dan diperbesar dari disk optik (misalnya, mengenali edema diskus optic , atrofi optik, neuroretinitis).
  23. Untuk menjelaskan anatomi dan indikasi untuk, dan menafsirkan dasar
    radiologi studi tentang otak dan orbit, menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan ahli radiologi dalam rangka untuk memaksimalkan kedua pilihan tes diagnostik yang tepat dan akurasi interpretasi.
  24. Untuk menjelaskan indikasi dan menginterpretasikan echography dasar orbit.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling dasar neuropati optik yang umum (misalnya, papilledema, neuritis optik, iskemik, inflamasi, menular, infiltratif, neuropati optik tekan,).
  3. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan manajemen yang lebih kompleks supranuklear dan internur palsi dan neuropati motor okular yang kurang umum (misalnya, palsy supranuklear progresif dan internuklear ophthalmoplegia).
  4. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan manajemen yang lebih
    kompleks dan kurang umum bentuk nistagmus (misalnya, rebound, konvergensi, retraksi).
  5. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan manajemen yang lebih
    kompleks dan kurang umum dari kelainan pupil (misalnya, cahaya dekat disosiasi,
    farmakologis miosis).
  6. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan manajemen yang lebih
    kompleks dan kurang umum defek lapangan pandang (misalnya, geniculatum lateral, defek lapangan satu mata berbentuk bulan sabit temporal).
  7. Untuk menjelaskan aspek yang lebih maju dari indikasi lapangan pandang, seleksi, dan interpretasi (Misalnya, artefak perimetry otomatis, pengujian dan thresholding strategi).
  8. Untuk menjelaskan aspek neurooftalmologi dari penyakit sistemik umum (misalnya, hipertensi, diabetes, penyakit tiroid, myasthenia gravis, arteritis temporalis, infeksi sistemik dan peradangan).
  9. Untuk menjelaskan gambaran neuro-oftalmologi pada trauma (misalnya, neuropati optik traumatis, cedera otak traumatis).
  10. Untuk menjelaskan fitur khas penyakit neuro-ophthalmologic yang diwariskan(misalnya, Leber neuropati optik herediter, atrofi optik autosomal dominan, spinocerebellar
    degenerasi).
  11. Untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengobati myasthenia gravis pada mata.

 

  1. Keterampilan teknis
  2. Untuk menjelaskan indikasi, mengelola, dan menafsirkan hasil edrophonium intravena dan tes prostigmine untuk myasthenia gravis.
  3. Untuk melakukan evaluasi saraf kranial secara terperinci (misalnya, pengujian oculomotor, troklearis, ) trigeminal, dan fungsi syaraf wajah.
  4. Untuk menjelaskan interpretasi gambaran neuro-radiologis yang lebih maju (misalnya, indikasi dan interpretasi tumor orbital, penyakit tiroid mata, adenoma hipofisis, saraf optik glioma, meningioma selubung saraf optik).
  5. Untuk menjelaskan evaluasi, manajemen, dan pengujian tertentu (misalnya, stereopsis, tes cermin, pegujian merah-hijau) dari pasien dengan “fungsional” (non-organik) kehilangan penglihatan (misalnya, mengakui non-organik spiral atau lapangan pandang tunnel).
  6. Untuk menjelaskan indikasi, untuk melakukan, dan komplikasi dari biopsy arteri temporalis.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling
    maju dan paling umum neuropati optik (misalnya, neuritis optik kronis atau berulang,
    dan posterior iskemik, autoimun, nutrisi).
  2. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling
    kompleks dan paling umum dari motorik neuropati okular dan penyakit yang mirip (misalnya, lesi progresif supranuklear palsy).
  3. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling
    kompleks dan paling umum dari nistagmus (misalnya, pilihan pengobatan bedah, menggunakan titik nol baik dalam prisma atau terapi bedah).
  4. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling
    maju dan paling umum kelainan pupil (misalnya, pupil pada pasien koma,
    fenomena transien pupil).
  5. Untuk menjelaskan fitur khas dan atipikal, evaluasi, dan pengelolaan yang paling
    kompleks dan paling umum defek lapangan pandang (misalnya, kombinasi atau lesi bilateral, gangguan visus kortikal).
  6. Untuk menjelaskan aspek yang paling maju indikasi bidang visual, seleksi, dan
    interpretasi (misalnya, variabilitas dalam perimetry otomatis, aplikasi pengujian spesifik dan thresholding strategi untuk populasi pasien berbeda dengan neurooftalmologi yang berbeda kondisinya, kemampuan pengujian yang berbeda (misalnya, usia muda atau tua, status mental, kerjasama tangan-mata, waktu reaksi).
  7. Untuk menjelaskan, mengevaluasi, dan memperlakukan aspek neuro-oftalmologidari penyakit sistemik (misalnya,hipertensi berat, diabetes papillopathy, toksisitas obat sistemik, pseudotumor cerebri).
  8. Untuk menjelaskan, mengevaluasi, dan menangani manifestasi trauma dalam bidang neuro-ophthalmologi (misalnya, kortikosteroid atau bedah terapi pada neuropati optik traumatis).
  9. Untuk menjelaskan, mengevaluasi, dan memberikan konseling genetik yang tepat untuk penyakit neuroophthalmologi (misalnya, neuropati optik herediter Leber itu, oftalmoplegia ekstena kronis progresif, sindrom von Hippel-Lindau).
  10. Untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengobati (atau merujuk) bentuk yang lebih kompleks dari nistagmus.
  11. Untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengobati (atau merujuk)kasus hilangnya penglihatan monokular atau binocular yang bersifat sementara.

 

 

  1. Keterampilan teknis
  1. Untuk melakukan dan menafsirkan evaluasi saraf tengkorak dan neurologis dasar secara lengkap dalam hal pemeriksaan lokalisasi dan penyakit neuro-oftalmik.
  2. Untuk menafsirkan gambaran neuro-radiologis dalam kasus neuro-oftalmologi (misalnya, interpretasi pencitraan orbital pseudotumor untuk orbita dan tumor, penyakit mata tiroid, penctraan intrakranial dan strategi untuk tumor, aneurisma, infeksi, peradangan, dan
    iskemia), dan tepat membahas, sebelum melakukan tes, lokalisasi
    fitur dengan neuroradiologist untuk mendapatkan penelitian dan hasil interpretasi terbaik
  3. Untuk mengenali pasien dengan kehilangan “fungsional” visual (hilangnya penglihatan non organik) dan memberikan konseling yang sesuai dan tindak lanjutnya.

 

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 5 Neuro Ophthalmology

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann, 2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders


  1. GLAUKOMA

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

Kognitif keterampilan

  1. Untuk menjelaskan epidemiologi dan genetika dari glaukoma sudut terbuka primer (POAG).
  2. Untuk melakukan evaluasi POAG.
  3. Untuk menjelaskan mekanisme dinamika aqueous humor dan anatomi anterior
    ruang dan sudut, dan corpus ciliaris.
  4. Untuk menjelaskan tonometri dasar dan memahami prinsip-prinsip tonography.
  5. Untuk menjelaskan saraf optik dan saraf anatomi serat lapisan dalam glaukoma.
  6. Untuk menjelaskan dasar-dasar perimetry, termasuk perimetry kinetik statis dan otomatis.
  7. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip, indikasi, dan teknik dasar gonioscopy, termasuk temuan yang normal dan abnormal
  8. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip manajemen medis, termasuk indikasi dan efek samping pilihan pengobatan (misalnya, obat topikal dan sistemik) untuk glaukoma simpel (misalnya, POAG, glaukoma primer sudut tertutup).
  9. Untuk menjelaskan dan mengenal glaukoma normotensi (“low tension glaukoma”).
  10. Untuk menjelaskan fitur dan mengenali sudut primer dan sekunder glaucoma tertutup
    dan humor aquos yang berlawanan arahnya.
  11. Untuk menjelaskan fitur klinis dan mengenali hypotony (misalnya, Seidel tes untuk
    kebocoran transconjunctival).
  12. Untuk daftar hasil utama dari uji klinis utama dalam glaukoma (misalnya, tes Glaukoma Laser , Studi Glaukoma normotensi, dan Studi Intervensi Glaukoma lanjut .

 

  1. Keterampilan teknis
  2. Untuk melakukan tonometri dasar (misalnya, applanation, Schiotz [jika ada], tonopen, airpuff) dan mengenali artefak pengujian.
  3. Untuk melakukan gonioscopy dasar (misalnya, mengenal struktur sudut, mengidentifikasi penutupan sudut).
  4. Untuk melakukan pemeriksaan stereo saraf optik, menggunakan 90 diopter atau lensa lainnya.
  5. Untuk menginterpretasikan lapangan pandang perimetri manual (misalnya, Goldmann) dan perimetri otomatis (misalnya, Humphrey, Octopus) dalam pemeriksaan rutin glaukoma.
  6. Untuk melakukan pachymetry kornea dan berhubungan temuan untuk interpretasi tekanan intraokular .

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Kognitif keterampilan
  2. Untuk menjelaskan epidemiologi dan melakukan skrining rutin glaukoma sudut terbuka primer dan sekunder
  3. Untuk menjelaskan pengobatan gangguan dinamika aqueous humor.
  4. Untuk menjelaskan etiologi yang lebih kompleks untuk, evaluasi, dan pengobatan glaukoma (Misalnya, resesi sudut, inflamasi, steroid-induced, pigmen, pseudoexfoliative, phacolytic, neovascular, pasca operasi, keganas, lensa partikel glaucomas; dataran iris; glaucomatocykontak lensaitic krisis; sindrom endotel iridocorneal; penyesatan berair).
  5. Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai tonometric dan tonographic (jika berlaku) metode (misalnya, kurva diurnal).
  6. Untuk menjelaskan saraf optik secra lebih detail dan serat lapisan saraf anatomi dalam glaucoma primer dan sekunder dan untuk mengenali fitur khas dan atipikal yang terkait dengan glaukoma cupping (misalnya, CDR pucat, progresift, kehilangan ketajaman sentral, hemianopic atau jenis lapangan pandang non-glaukoma j).
  7. Untuk menjelaskan bentuk yang lebih lanjut dari perimetry (misalnya, lapangan pandang kinetik dan otomatis) dan strategi perimetry (misalnya, threshold, supra-threshold, khusus algoritma).
  8. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip, indikasi, dan temuan anatomi lebih lanjut dan
    gambaran gonioscopic glaukoma primer dan sekunder (misalnya, iris plateau,
    penutupan yang tidak aposisional).
  9. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip penanganan medis glaukoma lebih lanjut (misalnya, POAG lanjut, glaucomas sekunder sudut terbuka dan tertutup, glaukoma normotensi)
  10. Untuk menjelaskan fitur, mengakui, dan mengobati glaukoma primer sudut tertutup dan misdireksi humor aquos.
  11. Untuk menjelaskan fitur klinis, mengenal, dan mengobati etiologi kurang umum dari hypotonic mata.
  12. Untuk menjelaskan hasil dan menerapkan kesimpulan untuk praktek klinis utama
    pada glaukoma (misalnya, Glaukoma Laser Trial, Studi Glaukoma Normatensi, dan
    Studi Intervensi Glaukoma lanjut)
  13. Untuk mengenali dan mengobati berbagai glaucoma sekunder pada orang dewasa.
  14. Untuk menjelaskan fitur glaukoma primer pada anak dan remaja.
  15. Untuk menjelaskan dan menerapkan perawatan medis khusus glaukoma lebih maju.
  16. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip perawatan laser glaukoma (misalnya, indikasi, teknik, dan komplikasi, dan penggunaan berbagai jenis energi laser, ukuran spot, panjang gelombang laser).
  17. Untuk menjelaskan pengobatan bedah glaukoma: (misalnya, trabeculectomy, dikombinasikan katarak dan trabeculectomy, setons, dan prosedur cyclodestructive, termasuk indikasi, teknik, dan komplikasi).
  18. Teknis / bedah keterampilan
  19. Untuk melakukan capsulotomy YAG laser posterior untuk kapsul posterior tanpa komplikasi opacity.
  20. Untuk melakukan argon atau YAG Laser iridotomy perifer untuk rutin glaucoma sudut tertutup
  21. Untuk melakukan trabeculectomy pertama rutin dengan atau tanpa antimetabolites.
  22. Untuk menjelaskan dan menangani BMD yang dangkal.


TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan fitur dari bentuk yang paling kompleks dan paling lanjut dari glaucoma primer dan sekunder sudut terbuka.
  2. Untuk menjelaskan mekanisme dinamika humor aqueous dan
    etiologi kompleks glaukoma (misalnya, resesi sudut, gabungan atau multifaktorial
    glaukoma, glaukoma traumatik atau inflamasi, glaukoma dispersi pigmen).
  3. Untuk menerapkan dalam metode praktek klinis tonometric dan tonographic (misalnya, kurva diurnal) untuk kasus glaucoma yang rumit atau atipik
  4. Untuk menerapkan pengetahuan yang paling maju saraf optik dan saraf anatomi serat lapisan dan menjelaskan teknik, metode, dan alat untuk menganalisis lapisan serat saraf.
  5. Untuk mengenali dan mengevaluasi glaukoma atipikal atau multifaktorial (misalnya, CDR yang pucat).
  6. Untuk menjelaskan, menginterpretasikan, dan menerapkan hasil dari bentuk yang paling kompleks dan lanjut dari perimetri, termasuk strategi khusus kinetik dan otomatis perimetry statis (misalnya algoritma khusus) pada glaukoma atipikal atau multifaktorial.
  7. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip dan indikasi, dan berlaku untuk praktek klinis temuan
    gonioscopy di glaucomas primer dan sekunder yang paling kompleks.
  8. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip manajemen medis yang paling canggih dan kompleks
    glaukoma (misalnya, POAG sebelum diobati dengan obat-obatan, laser atau operasi;
    glaucoma sekunder).
  9. Untuk menjelaskan, mengenal, dan mengobati kasus yang paling berat dari
    glaukoma primer sudut terbuka(misalnya, pasien dengan satu mata, kasus bedah berulang), glaukoma normotensi, dan glaukoma sekunder (misalnya, inflamasi glaukoma, resesi sudut).
  10. Untuk menjelaskan fitur, mengakui, dan mengobati kasus yang paling lanjut dari glaukoma primer sudut tertutup dan glaukoma kompleks (misalnya, kasus post-operatif , sudut sekunder tertutup misdireksi humor aquos).
  11. Untuk menjelaskan fitur klinis, mengenali dan mengobati kasus umum dan tidak umum
    etiologi dari hypotony okular (misalnya, detachment Choroidal, bleb trabeculectomy yang bocor).
  12. Untuk menjelaskan hasil, menerapkan kesimpulan, dan kritis menganalisis klinis utama
    percobaan pada glaukoma (misalnya, Glaukoma Laser Trial, Studi Glaukoma Normotensi, dan Lanjutan Studi Intervensi Glaukoma), serta menjelaskan dan menggunakan publikasi lainnya dalam pengelolaan pasien glaukoma
  13. Untuk mengenali dan mengobati glaucoma sekunder yang jarang pada orang dewasa.
  14. Untuk menjelaskan gejala dan mengobati atau merujuk glaucoma infantile primer dan emaja.
  15. Untuk menjelaskan dan menerapkan perawatan medis khusus di paling kompleks dan paling lanjut pada kasus glaukoma (misalnya, glaukoma refrakter, pasien bermata satu, non-compliant pasien).
  16. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip, indikasi, dan komplikasi dari perawatan laser lebih
    maju atau kompleks glaukoma (prosedur ulangan).
  17. Untuk menjelaskan pengobatan bedah lebih maju glaukoma: (misalnya, trabeculectomy,
    dikombinasikan katarak dan trabeculectomy, setons, dan prosedur cykontak lensaodestructive, termasuk indikasi, teknik, dan komplikasi).

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
  2. Untuk melakukan trabeculectomy rutin dan ulangan dengan atau tanpa antimetabolites.
  3. Untuk menjelaskan, mengelola, pengobatan dengan pembedahan, jika bilik mata depan datar.
  4. Untuk melakukan teknik yang lebih canggih untuk revisi blebs penyaringan (misalnya, gagal bleb atau bocor)
  5. Untuk mengenali dan mengobati komplikasi dari blebs operasi glaukoma

 

Kurikulum Pendidikan Sub-Spesialistik:

  1. Untuk melakukan argon laser trabeculoplasty.
  2. Untuk melakukan cyclophotocoagulation
  3. Untuk melakukan revisi rutin blebs .
  4. Untuk melakukan argon laser YAG atau prosedur tindakan terapi glaukoma.
  5. Untuk melakukan iridotomy perifer Laser untuk glaukoma lebih maju
  6. Untuk melakukan perawatan laser (misalnya, argon laser trabeculoplasty, iridoplasty) untuk kasus glaukoma lanjut
  7. Untuk melakukan cyloophotocoagulation untuk kasus yang lebih maju

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 10 Glaucoma

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,2001 with accompanying CD-ROM

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

Galloway NR, Amoaku WMK: Common eye diseases and their management. 2nd ed.Springer Verlag

 


  1. PENYAKIT VITREORETINA

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan Kognitif
  1. Mampu menjelaskan prinsip dasar anatomi dan fisiologi retina dan makula
  2. Mampu menjelaskan prinsip dasar/penatalaksanaan fluorescein angiografi dan efeknya pada penyakit vaskuler retina (contoh : indikasi dan fase angiogram)
  3. Mampu menjelaskan etiologi dan mekanisme ablasio retina.
  4. Mampu menjelaskan kelainan makula yang sering ditemukan (contoh : macular hole, ARMD, macular dystrophy, edema macula, retinopati sentral serosa, membrane epiretina)
  5. Mampu menjelaskan prinsip dasar laser fotokoagulasi
  6. Mampu menjelaskan dan mampu mengenal gambaran retina pasca trauma. Al : komosio retina, rupture koroid traumatic, retinopati Purtscher.
  7. Menjelaskan dan dapat mengenal kelainan retina akibat penyakit vaskuler retina yang sering ditemukan (contoh : retnopati hipertensi, retinopati diabetic, retinopati prematuritas, retinopati akibat kelainan darah misalnya leukemia, trombositopenia)
  8. Mengenal gambaran klinik retinitis pigmentosa.
  9. Mengenal gambaran klinik posterior vitreous detachment (PVD) dan ablasio retina

 

  1. Keterampilan Teknik
  1. Mampu melakukan pemeriksaan oftalmologis direk
  2. Mampu melaksanakan pemeriksaan oftalmologis indirek
  3. Mampu melaksanakan pemeriksaan biomikroskopi lampu celah dengan lensa Hruby, lensa +78, +90, 3 mirror contact lens.
  4. Mampu menginterpretasi hasil fluoresen angiografi pada penyakit yang sering ditemukan (contoh : retinopati diabetic dan cystoids macular edema)

 

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

Keterampilan Klinik :

  1. Memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai anatomi dan fisiologi retina dan dapat mengaplikasikan dalam klinik
  2. Memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai fluoresen angiografi dan dapat mengaplikasikan dalam klinik (contoh : indikasi dan fase amgiogram)
  3. Memiliki pengetahuan mengenai mekanisme terjadinya ablasio retina, dapat membedakan secara klinik berdasarkan tipenya, evaluasi penanganannya, dan dapat memutuskan untuk merujuk kasus-kasus yang kompleks.
  4. Memiliki pengetahuan yang lebih dalam mengenai kelainan macula yang sering ditemukan. Dapat menentukan terapi dan memutuskan merujuk pasien
  5. Mampu menggambarkan gambaran klinik kelainan macula yang jarang ditemukan (telangiektasi perifovea, distrofi konus, CNV)
  6. Mempelajari penelitian epidemiologi/kelompok studi untuk penyakit retina yang sering ditemukan, termasuk didalamnya :
    1. Diabetic Retinopati Study (DRS)
    2. Diabetic Vitrektomy Study (DVS)
    3. Early Treatment Diabetic Retinopati Study (ETDRS)
    4. Branch Vein Occlusion Study (BVOS)
    5. Central Vein Occlusion Study (CVOS)
    6. Macular Photocoagulation Study (MPS)
    7. Age-Related Eye Disease Study (AREDS)
    8. Diabetes Control and Complication Trial (DCCT)
    9. Verteporin in Ohotodynamic Therapy Study (VIP)
    10. Treatment of Age Related Macular Degeneration with Photodinamic Therapy Study (TAP)
    11. MARINA study
    12. The Submacular Surgery Trials (SST)
    13. The Multicenter Trial of Cryotherapy for Retinopathy of Prematurity (CRYO-ROP)
    14. Treatment of Age-Related Macular Degeneration with Photodynamic Therapy (TAP)
    15. ANCHOR study
    16. Diabetic Macular Edema study (DME)
  7. Mengetahui prinsip dasar, evaluasi, dan terapi kelainan retina perifer, dan kelainan vitreus (contoh : perdarahan vitreus, robekan retina) dan dapat mengaplikasikannya di klinik
  8. Mengetahui gambaran klinik, mengevaluasi dan mengetahui terapi atau merujuk penderita choroidal detachment.
  9. Mengidentifikasi retinochisis
  1. Mendiagnosis, mengenal komplikasi terapi atau merujuk retinopati of prematurity
  2. Mendiagnosis, mengenal komplikasi terapi atau merujuk kelinan vaskuler di bawah ini:
    1. Obstruksi arteri dan vena retina
    2. Retinipati diabetic
    3. Oklusi vena retina perifer
    4. Retinopati kausa leukemia, tombositopenia
    5. Sindrom iskemik okuler
  3. Dapat mendiagnosis, menentukan terapi dan rujukan bila diperlukan pada kelainan macula yang umum dan tidak umum seperti :
    1. AMD
    2. CNV
    3. Miopia tinggi
    4. Epiretinal membrane
    5. Macular dystrophy
    6. Macular hole
    7. Cystoids macular edema
    8. Retinopati sentral serosa
  4. Mendiagnosis, menetukan terapi kelainan distrifi rertina seperti : Best’s disease, retinitis pigmentosa, stargardt’s disease
  5. Mengetahui dasar laser fotokoagulasi, cara melakukannya dan komplikasi yang ditimbulkan
  6. Mendiagnosis dan melakukan terapi toksisitas koroid dan retina
  7. Memaparkan tindakan operasi ablasio retina sederhana
  8. Memaparkan dasar-dasar vitrektomi (contoh : indikasi, mekanisme, insteumen, dan teknik)
  9. Memaparkan indikasi dan melakukan penanganan laser dasar untk terapi dibetik retinopati (misalnya: pan retinal Photocoagulation, macular grid)
  1. Memaparkan dan menilai serta menangani sindrom uveitis posterior dan endoftalmitis.

 

Keterampilan Teknik  

  1. Melakukan tindakan indirek oftalmoskopi dengan indentasi dan menggambarkannya
  2. Melakukan oftalmoskopi dengan lensa kontak, termasuk panfunduskopi
  3. Melakukan/menginterpretasi fluoresen angiografi (ICG)
  4. Memaparkan indikasi dan interpretasi teknik imaging retina (OCT dan analisis ketebalan retina)
  5. Melakukan laser fotokoagulasi (PRP, scatter, macular grid pada diabetic retinopati, membuat demarkasi pada robekan retina)
  6. Melaksanakan dan mengevaluasi uji elektrofisiologi : elektroretinografi, elektrookulografi, visual evoked potensial, adaptasi gelap.
  7. Menginterpretasi teknik imaging dasar (contoh : B-scan echografi, analisis lapisan serabut saraf)
  8. Menggambarkan gambaran fundus retina yang ditemukan.
  9. Melakukan cryoterapi pada retinal hole.
  10. Melakukan sclera buckling sederhana.
  11. Memaparkan indikasi, teknik, dan komplikasi vitrektomi pars plana dan asisteren bedah retina.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

Keterampilan Klinik :

  1. Memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai anatomi dan fisiologi retina dan dapat mengaplikasikan dalam klinik
  2. Memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai fluoresen angiografi dan dapat mengaplikasikan dalam klinik
  3. Memiliki pengetahuan mengenai mekanisme terjadinya ablasio retina, dapat membedakan secara klinik berdasarkan tipenya, evaluasi penanganannya, dan dapat memutuskan untuk merujuk kasus-kasus yang kompleks
  4. Memiliki pengetahuan yang lebih dalam mengenai kelainan macula yang sering ditemukan. Dapat menentukan terapi dan memutuskan merujuk pasien
  5. Mampu menggambarkan gambaran klinik kelainan macula yang jarang ditemukan (telangiektasi perifovea, distrofi konus, CNV)
  6. Memaparkan hasil penelitian epidemiologi/kelompok studi untuk penyakit retina yang sering ditemukan, termasuk didalamnya :
    1. Diabetic Retinopati Study (DRS)
    2. Diabetic Vitrektomy Study (DVS)
    3. Early Treatment Diabetic Retinopati Study (ETDRS)
    4. Branch Vein Occlusion Study (BVOS)
    5. Central Vein Occlusion Study (CVOS)
    6. Macular Photocoagulation Study (MPS)
    7. Age-Related Eye Disease Study (AREDS)
    8. Diabetes Control and Complication Trial (DCCT)
    9. Verteporin in Ohotodynamic Therapy Study (VIP)
    10. Treatment of Age Related Macular Degeneration with Photodinamic Therapy Study (TAP)
    11. MARINA study
    12. The Submacular Surgery Trials (SST)
    13. The Multicenter Trial of Cryotherapy for Retinopathy of Prematurity (CRYO-ROP)
    14. Treatment of Age-Related Macular Degeneration with Photodynamic Therapy (TAP)
    15. ANCHOR study
    16. Diabetic Macular Edema study (DME)
  7. Mengaplikasikan di klinik : dasar, evaluasi, dan terapi kelainan retina perifer, dan kelainan vitreus (al. perdarahan vitreus, robekan retina) dan dapat mengaplikasikannya di klinik
  8. Mengevaluasi dan menangani komplikasi ablasio retina (contoh : perdarahan vitreus, anastomose korioretina)
  9. Menganalisa dan menangani ablasio retina kompleks (contoh : giant tear)
  10. Mendiagnosis, mengenal, dan menangani komplikasi terapi atau merujuk retinopati of prematurity
  11. Mengenal dan menangani komplikasi terapi atau merujuk kelinan vaskuler di bawah ini :
  1. Obstruksi arteri dan vena retina
  2. Retinipati diabetic
  3. Oklusi vena retina perifer
  4. Retinopati kausa leukemia, tombositopenia
  5. Sindrom iskemik okuler
  6. Dapat mendiagnosis, menentukan terapi dan rujukan bila diperlukan pada kelainan macula yang umum dan tidak umum seperti :
    1. AMD
    2. CNV
    3. Miopia tinggi
    4. Epiretinal membrane
    5. Macular dystrophy
    6. Macular hole
    7. Cystoids macular edema
    8. Retinopati sentral serosa
  1. Mengaplikasikan di klinik elektrofisiologi retinal kompleks (contoh :elektroretinografi multifocal)
  2. Mengaplikasikan di klinik tindakan operasi ablasio retina sederhana (Scleral buckling)
  3. Mengaplikan di klinik prinsip dasar terapi diabetic retinophaty
  4. Mengevaluasi dan menangani atau merujuk kasus uveitis posterior yang lebih kompleks dan endoftalmitis.

 

Keterampilan Teknik  

  1. Melakukan tindakan indirek oftalmoskopi dengan indentasi dan menggambarkannya
  2. Melakukan oftalmoskopi dengan lensa kontak, termasuk panfunduskopi
  3. Melakukan/menginterpretasi fluoresen angiografi (ICG)
  4. Melakukan laser fotokoagulasi, PRP, scatter, macular grid pada diabetic retinopati, membuat demarkasi pada robekan retina
  5. Menginterpretasi dan mengaplikasikan di klinik uji elektrofisiologi : elektroretinografi, elektrookulografi, visual evoked potensial, adaptasi gelap.
  6. Menginterpretasi dan mengaplikasikan teknik imaging dasar (contoh : B-scan echografi, analisis lapisan serabut saraf)
  7. Menggambarkan gambaran fundus retina yag ditemukan.
  8. Melakukan terapi laser atau cryoterapi pada retinal hole.

 

Kurikulum Pendidikan Sub-Spesialistik:

  1. Mengaplikasikan di klinik tindakan operasi ablasio retina sederhana:
  2. Mengaplikasikan di klinik teknik vitreoretinal kompleks :
  3. Melakukan sclera buckling pada ablasio retina kompleks.
  4. Melakukan vitrektomi pars plana dan asisteren bedah retina.
    1. Vitrektomi pars plana
    2. Repair efusi uveal
    1. Repair macular hole
    2. Epiretinal membrane peeling
    3. Vitrektomi kompleks untuk proliferative vitreoretinophaty

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 12 Retina and Vitreous

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders


  1. KEDOKTERAN HISTOPATOLOGI

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

 

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan anatomi mata dasar dan untuk mengidentifikasi histologi dari struktur utama mata (misalnya, konjungtiva, sklera, kornea, bilik mata depan, iris, corpus ciliaris, lensa, vitreous, retina, epitel pigmen retina, koroid saraf, optik).
  2. Untuk menjelaskan patofisiologi dasar dari proses penyakit umum mata dan untuk
    mengidentifikasi temuan histologis utama dari masing-masing (misalnya, infeksi, peradangan, neoplasma).
  3. Untuk mengidentifikasi histologi penyakit intraokular dan adneksa penting (misalnya endophthalmitis, retinoblastoma, melanoma Choroidal, keratitis mikroba).

 

  1. Keterampilan teknis (untuk sebuah laboratorium patologi okular, seperti tersedia)
  1. Untuk menjelaskan langkah yang tepat dalam penanganan dasar dan pengolahan spesimen kotor di di laboratorium patologi okular (misalnya, persiapan dasar spesimen) dan menunjukkan kemahiran dalam langkah-langkah di laboratorium.
  2. Untuk menjelaskan informasi spesifik yang diperlukan untuk komunikasi dengan ahli patologi tentang penanganan khusus spesimen.
  3. Untuk menjelaskan indikasi untuk frozen section dalam patologi okular.
  4. Untuk melakukan pemeriksaan pemotongan dan pemeriksaan bola mata secara keseluruhan.
  5. Untuk berpartisipasi di bawah pengawasan dalam pemeriksaan mikroskopis dari oftalmologi spesimen dari kasus aktif.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Kognitif keterampilan
    1. Untuk menjelaskan anatomi mata lebih lanjut dan untuk mengidentifikasi histologi mayor dan minor dari struktur mata (misalnya, konjungtiva kelenjar, pigmen normal, varian umum).
    2. Untuk menjelaskan patofisiologi lebih lanjut dari proses penyakit mata dan untuk
      mengidentifikasi temuan histologis utama dari masing-masing penyakit (misalnya, jamur kulit, keratitis dan adneksa neoplasma, dan tumor intraokular yang jarang).
    3. Untuk mengidentifikasi histologi yang jarang tapi berpotensi untuk mengancam jiwa
      intraokular dan adneksa penyakit (misalnya, arteritis temporalis, endophthalmitis jamur, penyebaran tumor intraokular, penyakit metastasis ke mata).
    4. Untuk menjelaskan teknik yang lebih maju dalam okular histopatologi (misalnya, elektron mikroskop, sitologi, imunohistokimia, aliran cytometry, margin bebas tumor).

 

  1. Keterampilan teknis
    1. Untuk menjelaskan langkah yang tepat dalam penanganan lebih maju dan pengolahan khusus spesimen di laboratorium patologi okular.
    2. Untuk menjelaskan indikasi khusus untuk penanganan khusus dan untuk mengkomunikasikan kepada patologi perlunya penanganan khusus spesimen untuk pewarnaan khusus atau studi (Misalnya, mikroskop elektron, imunohistokimia, flow cytometry, sitologi).
    3. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan dan menyiapkan spesimen biopsi untuk bagian beku dalam patologi okular.
    4. Untuk mempersiapkan spesimen histologi dasar untuk diperiksa oleh ahli patologi.
    5. Untuk berpartisipasi sebagai pengamat selama pemeriksaan mikroskopis aktif kasus oftalmologi dan melakukan pemeriksaan mikroskopis dari spesimen dengan dan tanpa pengawasan langsung.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan anatomi mata yang paling lanjut dan untuk mengidentifikasi histology mayor dan minor struktur mata dan varian normal yang jarang muncul (misalnya, kista Pars Plana, iris heterokromia, degenerasi retina).
  2. Untuk menjelaskan patofisiolog proses penyakit mata , yang paling lanjut atau yangjarang terjadi dan untuk mengidentifikasi temuan histologis utama dari masing-masing penyakit (misalnya, inflamasi pseudotumor, limfoma, artefak pengolahan).
  3. Untuk mengidentifikasi histologi yangpenyakit yang jarang tapi berpotensi mengancam jiwa intraokular dan adneksa penyakit (misalnya, arteritis sel raksasa, peradangan masqueraders atau neoplasma       jinak dan ganas .

 

  1. Keterampilan teknis
  2. Untuk menjelaskan dan untuk melakukan langkah yang tepat untuk penanganan spesimen kotor atau sitologi dalam laboratorium patologi okular.
  3. Untuk melakukan konsultasi pra-operasi, intra-operasi, dan pasca-operasi dengan
    patologi, tentang indikasi khusus untuk stain khusus atau pengolahan (misalnya, orientasi spesimen, penanganan khusus).
  4. Untuk melakukan dan menginterpretasikan laporan patologis frozen section dalam patologi okular.
  5. Untuk melakukan persiapan spesimen histologis dasar dan lebih maju untuk ditinjau
    oleh ahli patologi (misalnya, pewarnaan yang sederhana atau khusus atau metode fiksasi).
  6. Untuk berpartisipasi sebagai pengamat selama pemeriksaan mikroskopis aktif
    kasus optalmologi.
  7. Untuk melakukan pemeriksaan mikroskopis dari spesimen dengan dan tanpa pengawasan langsung dan untuk menyediakan diagnosis diferensial yang relevan.

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 4 Ophthalmic Pathology and Intraocular Tumors

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

 

  1. OCULOPLASTIC BEDAH DAN ORBITA

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan kelopak mata dasar, lakrimal, dan anatomi dan fisiologi orbital (misalnya, kelopak mata, orbicularis, orbital struktur, kelenjar meibomian, kelenjar lakrimal, kelenjar Zeiss, Whitnall itu ligamen, otot Muller, ligamen Lockwood. canaliculi, puncta, orbital tulang, foramen orbital, sinus paranasal, anulus dari Zinn, arteri dan vena pembuluh darah pasokan, limfatik, saraf, otot luar mata).
  2. Untuk menjelaskan mekanisme dasar dan indikasi untuk pengobatan kelopak mata, orbit, dan lacrimalis trauma.
  3. Untuk menjelaskan epidemiologi, gambaran klinis, evaluasi, dan manajemen alkohol janin sindrom.
  4. Untuk melakukan penilaian pra-operasi dan pasca-operasi pasien dengan umum
    gangguan okuloplasti.
  5. Untuk mengenali trauma orbital sederhana (misalnya, benda asing orbital, perdarahan retrobulber).
  6. Untuk mengenali dan mengobati sindrom floppy kelopak mata.
  7. Untuk mengenali dan mengobati trichiasis lokal.
  8. Untuk mengenali blefarospasme dan spasme setengah wajah.
  9. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial tumor orbital umum pada anak-anak dan orang dewasa.
  10. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial massa kelenjar lakrimal (misalnya, inflamasi,
    neoplastik, bawaan, infeksi).
  11. Untuk mengidentifikasi anatomi orbit normal pada pencitraan (misalnya, resonansi magnetik pencitraan, computed tomography, USG).
  12. Untuk menjelaskan diagnosis diferensial proptosis pada anak-anak dan orang dewasa.
  13. Untuk menjelaskan teknik dan komplikasi prosedur ruang operasi minor (misalnya,
    insisi dan drainase chalazion, eksisi lesi kelopak mata kecil).
  14. Untuk menjelaskan fitur khas selulitis orbit.

 

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
  1. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan teknik pemeriksaan dasar dan
    paling umum pada kasus okuloplasti dan kelainan orbita.
  2. Untuk melakukan penilaian dasar dari kelopak mata, alis, dan bulu mata (misalnya, eversi, eversi ganda, margin untuk jarak refleks, sulkus palpebra, fungsi levator, malposisi kelopak mata / alis).
  3. Untuk mengidentifikasi indikasi dan untuk melakukan penilaian lacrimalis dasar (misalnya, pewarna pengujian, dilatasi punctal, canalicular, irigasi lacrimalis).
  4. Untuk mengidentifikasi indikasi \dan untuk melakukan penilaian dasar dari orbit (misalnya, Hertel exophthalmometry, inspeksi, palpasi, auskultasi).
  5. Untuk mengidentifikasi indikasi dan untuk melakukan penilaian soket dasar (misalnya, jenis implan, kesehatan soket).
  6. Untuk melakukan tutup ringan dan prosedur konjungtiva (misalnya, pengangkatan lesi jinak kulit kelopak mata, chalazion curretage atau eksisi, biopsi konjungtiva).
  7. Untuk mengobati komplikasi dari prosedur ruang operasi minor (misalnya, insisi dan drainase chalazia, eksisi lesi kelopak mata kecil).
  8. Untuk melakukan penyisipan atau penghapusan pasang pungta.
  9. Untuk mengenali dan mengobati trichiasis (misalnya, pencukuran bulu, cryotherapy, terapi bedah).
  10. Untuk melakukan enukleasi sederhana atau pengeluaran isi bola mata di bawah pengawasan.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Kognitif keterampilan
  1. Untuk menjelaskan kelopak mata lebih lanjut, lakrimal, dan anatomi dan fisiologi orbital (misalnya, lacrimalis aparat, anatomi vaskuler orbital).
  2. Untuk menjelaskan genetika (jika diketahui), gambaran klinis, evaluasi, dan pengobatan
    cacat bawaan kelopak mata (misalnya, coloboma, distichiasis, epicanthus, telecanthus,
    blepharophimosis, ankyloblepharon, epiblepharon, euryblepharon, dan Goldenhar, Treacher-Collins, Waardenburg sindrom).
  3. Untuk menjelaskan fitur klinis, evaluasi dan pengelolaan orbit bawaandeformitas (misalnya, synophthalmia, anophthalmia, microphthalmia, cryptophthalmia, hypertelorism, hypotelorism).
  4. Untuk menjelaskan genetika, gambaran klinis, evaluasi, dan pengelolaan umum
    craniosynostoses dan malformasi kongenital lain (misalnya, Crouzon dan Apert sindrom).
  5. Untuk mengobati (atau merujuk untuk pengobatan) kelainan kongenital kelopak mata
  6. Untuk melakukan penilaian pra-operasi dan pasca-operasi pasien dengan sederhana dan lebih serius oculoplastic gangguan (misalnya, multi-disiplin prosedur).
  7. Untuk menjelaskan mekanisme dan indikasi untuk pengobatan kelopak mata yang lebih maju, orbital, dan trauma lakrimalis (misalnya, laserasi palpebra full thickness, kimia luka bakar ke wajah).
  8. Untuk menjelaskan fitur, mengevaluasi, dan mengobati kasus yang lebih rumit dari obstruksi saluran nasolacrimal, canaliculitis, dacyrocystitis, dacryoadenitis akut dan kronis, preseptal selulitis, dan selulitis orbital.
  9. Untuk mengenali, mengevaluasi dan mengobati ophthalmopathy tiroid (misalnya, epidemiologi; gejala dan tanda-tanda; penyakit sistemik yang terkait; pencitraan orbit, diagnosis diferensial; bedah, medis, indikasi radiasi dan; efek samping pengobatan).
  10. Untuk mengenali, mengevaluasi dan mengobati peradangan orbital pseudotumor (misalnya, gejala dan tanda-tanda, pencitraan orbital, diagnosis banding, indikasi biopsi, pilihan perawatan).
  11. Untuk mengenali, mengobati, atau merujuk blefarospasme atau spasme setengah wajah.
  12. Untuk mengenali tumor orbital kurang umum (misalnya, lesi metastasis).

 

  1. Teknis / bedah keterampilan
    1. pengujian Drainase lakrimal (irigasi, uji penghilangan pewarna) intubasi Lacrimalis
    2. Dacryocystorhinostomy (eksternal)
  1. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan teknik pemeriksaan lebih lanjut padakasus okuloplasti yang kurang umum dan kelainan orbita (misalnya, pengukuran fungsi levator, intepretasi USG orbital).
  2. Untuk mengidentifikasi indikasi dan untuk melakukan penilaian yang lebih maju dari kelopak mata dan alis (misalnya, hypoglobus, wajah asimetris, ptosis alis).
  3. Untuk mengidentifikasi indikasi dan untuk melakukan penilaian lacrimalis lebih lanjut (misalnya, interpretasi pengujian pewarna, trauma canalicular).
  4. Untuk mengidentifikasi indikasi untuk dan untuk melakukan penilaian lebih maju dari orbit (misalnya, enophthalmus, interpretasi USG orbital dalam kondisi umum).
  5. Untuk mengidentifikasi indikasi untuk dan untuk melakukan penilaian soket lebih maju (misalnya, ekstrusi implan, komplikasi soket anophthalmic).
  6. Untuk melakukan prosedur yang lebih rumit pada palpebra (misalnya, lesi kulit jinak) atau operasi (misalnya, chalazion berulang atau beberapa).
  7. Untuk mengenali indikasi dan komplikasi dan ringan untuk melakukan yang lebih kompleks ruang operasi atau prosedur operasi ruang terbatas (misalnya, insisi dan drainase berulang atau kalazion yang lebih besar, eksisi lesi moderat kelopak berukuran jinak).
  8. Untuk mengenali dan mengobati trauma orbital (misalnya, benda asing intraorbital, perdarahan retrobulbar, fraktur).
  9. Untuk mengidentifikasi patologi umum orbital (misalnya, patah tulang orbital, tumor orbital) pada pencitraan studi (misalnya, pencitraan resonansi magnetik, computed tomography, USG).
  10. Untuk mengobati presentasi umum cellulitus preseptal atau orbital.
  11. Untuk menjelaskan, mengenali indikasi untuk dan komplikasi, dan melakukan prosedur dasar di bawah ini:

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Kognitif keterampilan
    1. Untuk menjelaskan anatomi dan fisiologi orbita,kelopak mata lakrimal, yang paling lanjut.
    2. Untuk mengevaluasi dan untuk mengobati kelopak mata yang sederhana dan lebih maju, orbital, dan trauma lacrimalis (Misalnya, ketebalan laserasi palpebra, luka bakar kimia pada wajah).
    3. Untuk melakukan penilaian pra-operasi dan pasca-operasi dan koordinasi perawatan
      pasien dengan gangguan oculoplastic lebih maju atau kompleks (misalnya, sakit sistemik
      pasien, multi-disiplin prosedur).
    4. Untuk menjelaskan etiologi, evaluasi, dan perawatan medis dan bedah berikut
      kelopak penyakit:
  2. Kompleks ectropion (misalnya, bawaan, lumpuh, involusional, cicatrical, mekanik,
    alergi).
  3. Kompleks entropion (misalnya, involusional, cicatrical, spastik, bawaan).
  4. Kompleks myogenic ptosis (misalnya, ophthalmoplegia eksternal kronis progresif).
  5. Diagnosis diferensial kompleks untuk dermatochalasis (misalnya, blepharochalasis).
  6. Jinak, tumor pra-ganas kelopak mata, atau ganas (misalnya, papiloma, keratoacanthoma, keratosis seboroik, kista inklusi epidermis, moluskum kontagiosum, veruka vulgaris, actinic keratosis, karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, sebasea karsinoma sel, melanoma).
  7. inflamasi tunggal atau berulang (misalnya, chalazion berulang atau meniru nya).
  8. Facial distonia (misalnya, blefarospasme, spasme spasm).
  9. Nervus facialis palsy dengan keratopathy paparan (tarsorrhaphy misalnya, bobot emas).
  10. Kompleks tutup dan kasus trauma orbital.
  11. Teknis / bedah keterampilan
    1. Kantoplasti lateral (kantotomi dan kantolisis)
    2. Rekonstruksi palpebra simple
  1. Untuk menjelaskan indikasi dan untuk melakukan lebih rumit dan canggih.
    Pemeriksaan teknik yang kurang umum dilakukan namun penting untuk menegakkan kelainan oculoplastic dan orbital.
  2. Untuk melakukan penilaian pra operasi dan intraoperatif dari kelopak mata dan alis (misalnya, intraoperatif penyesuaian).
  3. Untuk mengenali dan mengobati lebih kompleks atau sulit soket-masalah yang berhubungan dan komplikasi (misalnya, ekstrusi implan, komplikasi soket anophthalmic).
  4. Untuk melakukan prosedur palpebra lebih rumit (misalnya, lebih besar jinak, berulang, atau beberapa lesi kulit).
  5. Untuk melakukan pemeriksaan lacrimalis (misalnya, pengujian intraoperatif dan pasca operasi , trauma yang lebih kompleks untuk sistem lakrimal).
  6. Untuk menjelaskan manajemen dan mengobati kelainan sistem lakrimal, termasuk:
  1. Menjelaskan indikasi CT scan dan MRI (contoh : trauma orbita, tumor dan lesi orbita)
  2. Mengidentifikasi patologi orbital lanjutan (contoh : fraktur orbital kompleks, tumor orbital) sesuai gambaran radiologi (contoh : MRI, CT, dan USG)

 

 

Kurikulum Pendidikan Sub-Spesialistik:

  1. Untuk menjelaskan manajemen dan mengobati kelainan sistem lakrimal, termasuk:
  2. Blefaroplasti
  3. fasial nerve palsy
  4. Insisi dan approache orbital (contoh : Kronlein, Caldwell-Luc, transkonjungtival, transnasal)
  5. Menjelaskan dan mengenal indikasi dan komplikasi, serta melakukan prosedur keterampilan orbital dasar, termasuk didalamnya :
  6. Orbitotomi anterior untuk biopsy dan eksisi tumor
  7. Repair fraktur lantai orbita
  8. Melakukan injeksi toksin botulinum (contoh : blefarospasme)

 

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 7 Orbit, Eyelids and Lacrimal System

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

 

  1. ONKOLOGI OKULAR

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Keterampilan Teknik
  1. Memaparkan kategori dasar tumor intraokuler dan ekstraokuler yang sering ditemukan.
  2. Memaparkan diagnosis banding, epidemiologi, evaluasi, dan penanganan leukokoria (contoh : inflamasi, infeksi, neoplastik, congenital,PFV, Coat, perdarahan vitreus, ablasio retina)
  3. Memaparkan gambaran diagnostic mayor dari tumor intraokuler mayor (contoh : retinoblastoma, melanoma koroid, lesi metastatic) dan memaparkan diagnosis banding gambaran tumor yang mirip.
  1. Melakukan pemeriksaan slitlamp, transiluminasi ocular, oftalmoskopi pada pasien tumor.
  2. Mengenal tumor okuler dan mampu melakukan rujukan.

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Keterampilan Teknik
  1. Memaparkan penanganan untuk setiap tumor intraokuler yang berbeda.
  2. Memaparkan penemuan Collaborative Ocular Melanoma Study (COMS).
  3. Memaparkan klasifikasi dan penanganan retinoblastoma
  4. Memaparkan histopatologi dasar tumor intraokuler.
  5. Membuat daftar diagnosis banding tumor iris, korpus siliar, koroid, retina, dan nervus optic.
  6. Memaparkan teknik diagnostic tumor intraokuler yang sering ditemukan.
  7. Memaparkan prognosis berbagai tumor okuler dan mampu mengevaluasi secara sistemik.
  1. Melakukan oftalmoskopi indirek untuk mendiagnosis dan menentukan lokasi tumor intraocular.
  2. Melakukan transiluminasi pada tumor intraokuler.
  3. Memaparkan indikasi pemeriksaan dibawah pengaruh anestesi pasien tumor anak-anak.
  4. Memaparkan indikasi ekografi A dan B-scan pada tumor intraokuler.
  5. Memaparkan indikasi fluorescein angiografi pada pasien tumor intraokuler.
  6. Memaparkan indikasi eksis tumori konjungtiva, kornea, dan intraokuler.
  7. Memaparkan indikasi laser fotokoagulasi pada tumor intraokuler.
  8. Memaparkan indikasi dan teknik terapi termal transpupillari pada pasien tumor intraokuler.
  9. Mengenal gambaran histopatologi tumor intraokuler yang jarang.
  10. Memaparkan indikasi untuk terapi bedah dan terapi lain serta komplikasinya, atau merujuk pasien :
    1. Radioterapi plak
    2. Iridektomi
    3. Reseksi tumor konjungtiva
  1. Melakukan enukleasi
  2. Memaparkan indikasi, teknik, dan komplikasi radioterapi untuk tumor okuler.
  3. Mendiskusikan berbagai opsi penanganan tumor dengan pasien, keluarga pasien secara detail, etikal, dan sikap yang baik

 

 

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Keterampilan Teknik
  1. Memaparkan opsi penanganan tumor intraokuler yang jarang (contoh : metastase tumor koroid, osteoma koroidal)
  2. Memaparkan hasil penelitian Collaborative Ocular Melanoma Study (COMS).
  1. Melakukan oftalmoskopi indirek untuk mendiagnosis dan menentukan lokasi tumor intraocular untuk diterapi.
  2. Memaparkan indikasi pemeriksaan dibawah pengaruh anestesi pasien tumor anak-anak.
  3. Memaparkan indikasi dan menginterpratasi ekografi A dan B-scan pada tumor intraokuler.
  4. Memaparkan indikasi dan menginterpretasi fluorescein angiografi pada pasien tumor intraokuler.
  5. Memaparkan indikasi dan melakuakan eksis tumori konjungtiva, kornea, dan intraokuler.
  6. Memaparkan indikasi dan melakukan laser fotokoagulasi pada tumor intraokuler.
  7. Mengenal gambaran histopatologi tumor intraokuler yang sering dan jarang.
  8. Memaparkan indikasi untuk terapi bedah dan terapi lain serta komplikasinya, atau merujuk pasien :
    1. Radioterapi plak
    2. Radioterapi eksternal beam
    3. Iridektomi
    4. Reseksi atau cryoterapi tumor konjungtiva
    5. Terapi termal transpupillary
  9. Menangani enukleasi dengan komplikasi (perdarahan, cavum orbita yang keciln jaringan fibrotic) atau eksentrasi.

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 4 Ophthalmic Pathology and Intraocular Tumors

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 7 Orbit, Eyelids and Lacrimal System

 

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

 

  1. 13. OFTALMOLOGI PEDIATRI DAN STRABISMUS

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan Kognitif
  1. Menjelaskan teknik pemeriksaan dasar strabismus (contoh : versi dan duksi, tes cover dan uncover, tes cover alternative, tes cover prisma)
  2. Menjelaskan perkembangan dan pemeriksaan visus dasar pada pasien pediatric (contoh : fiksasi sentral,steady,maintain ; illiterate E, Allen cards, Landolt C Rings)
  3. Menjelaskan dasar anatomi dan fisiologi strabismus (contoh : innervasi muskulus ekstraokuler, aksi primer, deviasi comitant dan incomitant, overaction-underaction, pergerakan saccade dan pursuit)
  4. Menjelaskan dasar adaptasi sensoris pada binocular singe vision (contoh : anomali retina, supresi, horopter, area Panum, fusi, stereopsis)
  5. Mengenal dan menjelaskan pseudostrabismus
  6. Menjelaskan etiologi ambliopia (contoh : deprivasi, ametrop, organic )
  7. Menggambarkan etiologi esotropia (contoh : congenital, komitant, dan inkomitan, akomodatif atau nonakomodatif,dekompresi, sensori, neurogenik, neuromuscular junction, konsekutif)
  8. Menggambarkan etiologi eksotropia (contoh congenital, komitant, dan inkomitan, akomodatif atau nonakomodatif,dekompresi, sensori, neurogenik, neuromuscular junction, konsekutif)
  9. Menggambarkan berbagai variasi strabismus
  10. Menggambarkan etiologi, evaluasi, dan penatalaksanaan strabismus vertical (contoh   neurogenik, neuromuscular junction, restriktif, dsb)
  11. Menggambarkan penanganan strabismus non bedah
  12. Menggambarkan bentuk-bentuk yang berbeda dari nistagmus pada anak-anak
  13. Menggambarkan bentuk, klasifikasi, dan indikasi pengobatan untuk retinopathy of prematurity (ROP)
  14. Menggambarkan etiologi dan tipe-tipe katarak pada anak
  15. Menggambarkan dan mengenal gambaran klinis pada child abuse (contoh perdarahan retina dan merujuk ke badan yang berwenang)
  16. Menggambarkan bentuk sindrom motilitas okuler atau palpebra, baik congenital atau herediter (contoh : sindrom Duane, Marcus Gunn Jaw winking, sindrom Brown)
  17. Menggambarkan gambaran khas retinoblastoma
  1. Menggambarkan gambaran dasar disleksia
  2. Menggambarkan evaluasi dasar penurunan visus pada bayi dan anak-anak (contoh : ROP, kelainan retina herediter, glaucoma congenital, defisiensi vitamin A)
  3. Menggambarkan anomali okuler kongenital yang dapat diidentifikasi (contoh : mikroftalmia, persistent fetal vasculature)
  4. Menggambarkan :
    1. Mukopolisakaridosis ( contoh : sindrom Hurler, sindroma Scheiche, San Filipo, Sindrom Sly)
    2. Lipidoses (contoh :penyakit Tay Sachs, Niemann, Pick, Krabbe, Graucher, Fabry)
  5. Menggambarkan gambaran okuler pada abnormalitas kromosom (contoh : Trisomi 21, trisomi 13, trisomi 18, delesi kromosom 11 lengan pendek, delesi lengan panjang 13, Cri Du Chat, Turner)

 

  1. keterampilan Teknik
    1. Teller acuity cards
    2. Fixation preference test
  1. Melakukan pemeriksaan otot-otot ekstraokuler berdasarkan pengetahuan anatomi dan fisologi motilitas okuler
  2. Menilai motilitas okuler menggunakan tes duksi dan versi
  3. Menerapkan hukum Hering dan Sherrington.
  4. Melakukan pengukuran dasar pada strabismus (contoh : Hirschberg, Krimsky, tes cover, tes prisma, Maddox Rod,Lancaster red-green)
  5. Melakukan penilaian visus neonatonus, infant dan anak-anak.
  6. Mengenal dan menerapkan :
    1. Tes stereoakuiti
    2. Rasio konvergensi akomodatif (contoh : metode heteroforia, metode gradian)
    3. Tes binokuler dan korespondensi retina
    4. Refraksi sikloplegik/retinoskop
    5. Pemeriksaan segmen anterior dan posterior
    6. Penilaian dasar dan lanjutan strabismus
    7. Penilaian tes cover
    8. Penilaian visus :
  • Standart subjektif visual akuiti tes
  1. Induced tropia test
  1. Membantu pada pembedahan muskulus ekstraokuler, termasuk didalamnya :
    1. Resesi
    2. Reseksi
    3. Melemahkan otot (tenotomi) dan penguatan (tuck)
    4. Transposisi
    5. Penggunaan adjustable suture

 

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. KETERAMPILAN KOGNITIF
  1. Menggambarkan pemeriksaan lebih lanjut pada strabismus (contoh :tes cover prisma vertical dan horizontal kombinasi, tes double Maddox Rod)
  2. Menggambarkan perkembangan visual dasar dan lanjutan pada penilaian visus pasien anak-anak (contoh : fiksasi dan mengikuti target, penilaian ubjektif tajam penglihatan)
  3. Menggambarkan anatomi dan fisiologi yang lebih lanjut pada strabismus (contoh : torsi, aksi tersier, deviasi konsekutif)
  4. Menggambarkan lebih lanjut adaptasi sensoris (contoh : anomali posisi kepala)
  5. Mengambarkan tes sensori binokuler dasar (contoh : titmus stereo testing, tes Randot stereo, Bagolini lenses)
  6. Menggambarkan dan mengenal etiologi ambliopia
  7. Menggambarkan dan mengenal etiologi esotropia
  8. Menggambarkan dan mengenal etiologi eksotropia
  9. Menggambarkan dan mengenal bentuk-bentuk strabismus, contoh : A atau V pattern.
  10. Menggambarkan dan mengenal etiologi strabismus vertical
  11. Menggambarkan dan menggunakan penanganan non bedah pada strabismus dan ambliopia (contoh : patching, atropine penalization, Fresnel, dan grind-in prism theraphy)
  12. Menggambarkan dan mengenal bentuk-bentuk yang berbeda dari nistagmus pada anak-anak (contoh : sensori, motorik, congenital, dan didapat)
  13. Menggambarkan dan mengenal retinipathy of prematurity.
  14. Menggambarkan dan mengenal tipe katarak pada anak-anak.
  15. Menggambarkan dan mengenal kelainan okuler herediter atau malformatif yang kurang umum (contoh : Goldenhar sindrom, Mobius).
  16. Menggambarkan dan mengenal gambaran khas retinoblastoma (contog : diagnosis banding, evaluasi dan indikasi terapi).
  17. Menggambarkan gambaran utama disleksia dan hubungannya dengan penglihatan.
  18. Menggambarkan evaluasi dasar dan diagnose banding penurunan visus pada bayi dan anak-anak (contoh : berdasarkan etiologi retina dan nervus optic, ambliopia)
  19. Menggambarkan penyebab yang dapat dikenali dari kebutaan pada bayi (contoh : albinisme, hpoplasia nervus optic, achromatopsia, Leber’s congenital amaurosis, distrofi retina, atrofi optic congenital).
  20. Menggambarkan etiologi, evaluasi, dan penatalaksanaan infeksi congenital (contoh : toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, syphilis, herpes).
  21. Menggambarkan dan mengenal penyebab umum pada uveitis anak-anak.

 

  1. KETERAMPILAN TEKNIK
  1. Melakukan pemeriksaan lanjutan otot-otot ekstraokuler berdasarkan pengetahuan anatomi dan fisiologi motilitas okuler.
  2. Menilai lebih lanjut masalah-masalah motilitas okuler (contoh : miastenia gravis, penyakit tiroid, neuropati cranial multiple)
  3. Menerapkan hukum Herring dan Sherrington pada kasus-kasus lebih lanjut.
  4. Melakukan penilaian lanjutan pada strabismus ( contoh : double Maddox ro testing, Lancaster red green testing)
  5. Melakukan penilaian visus pada pasien-pasien strabismus yang sulit, contoh : anak-anak yang tidak kooperatif.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. KETERAMPILAN KOGNITIF
  1. Menggambarkan pemeriksaan dan lebih lanjut pada strabismus, contoh : complicated prism cover testing pada neuropati cranial.
  2. Melakukan teknik lanjutan untuk menilai komplikasi perkembangan visual atau pasien-pasien pediatric yang non kooperatif.
  3. Menerapkan pengetahuan lanjut anatomi dan fisiologi strabismus, contoh : spiral of Tillaux. Aksi sekunder dan tersier.
  4. Mengambarkan aplikasi klinik adaptasi sensori lanjut.
  5. Mengenal dan mengobati komplikasi penyebab ambliopia, contoh : refraction non compliance.
  6. Mengenal dan mengobati penyebab-penyebab kompleks dari esotropia, contoh : optical, prisma induced, post surgical.
  7. Mengenal dan mengobati penyebab-penyebab kompleks dari eksotropia, contoh : supranuklear, paralitik pontine eksotropia, konsekutif.
  8. Mengenal dan mengobati pola strabismus yang kompleks, contoh regenerasi aberan, post surgical.
  9. Mengenal dan mnegobati penyebab kompleks strabismus vertical, contoh : scew defiation, post surgical.
  10. Menerapkan pengobatan non bedah, contoh : patching, atropine penalization, Fresnel, dan grind-in prism theraphy
  11. Mengenal, mengevaluasi, dan mengobati bentuk-bentuk kompleks nistagmus pada anak-anak, contoh : sensori, spasmus nutans.
  12. Mengenal dan mengobati (atau merujuk) ROP yang kompleks.
  13. Mengenal dan mengobati (atau merujuk) etiologi-etiologi yang tidak umum dan tipe-tipe dari katarak pediatric.
  14. Mengenal dan mengevaluasi sindrom okuler herediter yang kompleks
  15. Mengenal dan mengobati (atau merujuk) pasien-pasien dengan retinoblastoma yang berkomplikasi.
  16. Mengenal dan mengevaluasi anomaly okuler congenital yang jarang, contoh : syndrome genetic yang jarang.
  17. Menerapkan prinsip-prinsip lanjut pada binokuler vision dan ambliopia.
  18. Mengenal dan mengobati penyakit-penyakit retina pediatric yang kompleks.
  19. Mengenal dan mengobati glaucoma pediatric yang kompleks.
  20. Mengenal dan mengobati katarak pediatric yang kompleks dan abnormalitas segmen anterior.
  21. Mengenal dan mengobati kelainan palpebra pediatric yang kompleks.
  22. Mengenal dan mengobati (atau merujuk) penyakit-penyakit orbita pediatric, contoh : tumor-tumor orbita, rabdomiosarkoma.

 

  1. KETERAMPILAN BEDAH
  1. Menggambarkan indikasi dan kontraindikasi untuk operasi strabismus yang kompleks.
  2. Menggambarkan dan melakukan penilaian preoperative, teknik intraoperatif, dan menggambarkan komplikasi-komplikasi post operasi pada strabismus yang sulit (contoh : reoperasi, slipped muscle)
  3. Menggambarkan dan menangani komplikasi-komplikasi yang sulit pada operasi strabismus (contoh : perforasi bola mata, endoftalmitis, overkoreksi).

 

Kurikulum Pendidikan Sub-Spesialistik:

  1. Melakukan operasi dasar otot-otot ekstraokuler :
  1. Resesi
  2. Reseksi
  3. Melemahkan otot (contoh : tenotomi) dan penguatan (tuck)
  4. Transposisi
  5. Penggunaan “adjustable suture”
  6. Menangani komplikasi dari operasi strabismus, contoh : slipped muscle, iskemia segmen anterior.
  1. Melakukan opearsi otot-otot ekstraokuler yang kompleks (contoh : bedah otot horizontal dan vertical)
  2. Menggambarkan indikasi dan melakukan “adjustable suture” pada kasus-kasus yang sulit (contoh : oftalmologi tiroid)

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 6 Pediatric Ophthalmology and Stabismus

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

 

  1. REHABILITASI LOW VISION

 

TUJUAN TINGKAT DASAR (TAHAP I):

  1. Keterampilan Kognitif
  1. Memaparkan teknik pemeriksaan low vision
  2. Memaparkan morbiditas low vision.
  3. Memaparkan berbagai variasi bantuan low vision.
  4. Memahami secara psikologis dan emosional aspek visual impairment.
  5. Meresepkan dan memaparkan terapi rehabilitative dan pilihan optic untuk membantu pasien-pasien low vision.
  6. Memaparkan implikasi fungsional dan patologi sistem visual.
  7. Memaparkan teknik pemeriksaan lapangan pandang untuk defek lapangan pandang hemianopia.
  8. Memaparkan perbedaan pemeriksaan penglihatan jauh dan dekat dan tes sensitifitas kontras.
  9. Memaparkan evaluasi tajam penglihatan dan lapangan pandang.

TUJUAN TINGKAT STANDAR (TAHAP II):

  1. Keterampilan Kognitif
  1. Mengenal morbiditas yang berdampak pada rehabilitasi low vision.
  2. Mengenal dan memaparkan aplikasi klinis, indikasi, dan limitasi berbagai bantuan low vision.
  3. Memaparkan optic lanjutan low vision.

 

  1. Keterampilan Teknik
  1. Meresepkan terapi rehabilitative yang lebih kompleks dan pilihan optic untuk menolong pasien low vision.
  2. Mengaplikasikan teknik pemeriksaan lapangan pandang untuk defek lapangan pandang hemianopia.
  3. Melakukan evaluasi pemeriksaan visus pada pengendara dengan gangguan visus.
  4. Melakukan evaluasi tajam penglihatan dan lapangan pandang.
  5. Mendemonstrasikan alat bantuan low vision dan member edukasi kepada pasien-pasien low vision.

 

TUJUAN TINGKAT LANJUT (TAHAP MANDIRI):

  1. Keterampilan Kognitif
  2. Menangani morbiditas yang berdampak pada rehabilitasi low vision.
  3. Memaparkan indikasi bantuan optic lanjutan low vision.
  4. Mengaplikasikan lebih banyak prinsip berbagai alat optic low vision.
  5. Keterampilan Teknik
  1. Meresepkan terapi rehabilitative yang lebih kompleks dan pilihan optic untuk menolong pasien low vision.
  2. Mengaplikasikan teknik pemeriksaan lapangan pandang untuk defek lapangan pandang hemianopia.

 

BUKU ACUAN

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 2 Fundamental of Ophthalmology

American Academy of Ophthalmology 2010-2011; Section 3 Clinical Optics

Kanski J: Clinical ophthalmology. 6th ed. Oxford; Boston, Butterworth-Heinemann

Kanski J: Ophthalmology: clinical signs and differential diagnosis. St. Louis, CV Mosby

Kanski J: Illustrated tutorials in clinical ophthalmology. Boston, Butterworth-Heinemann,

2001 with accompanying CD-ROM

 

Easty DL, Sparrow JM: Oxford Textbook of Ophthalmology, 2v, Oxford, New York, Oxford University Press

Wilson FM: Practical ophthalmology, A manual for beginning residents, 4th ed

Forrester J et al: The eye. Basic sciences in practice. 2nd ed. Philadelphia, WB Saunders

  1. OFTALMOLOGI KOMUNITAS

Tujuan Cabang Ilmu

  1. Menghasilkan dokter spesialis mata yang memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah-masalah kesehatan amat serta penyebab kebutaan di masyarakat.
  1. Memiliki kemampuan untuk menemukan / menentukan faktor-faktor yang menjadi penyebab masalah kesehatan mata dan kebutaan di masyarakat.
  2. Mempunyai kemampuan untuk membuat perencanaan dan melaksanakan rencana pemecahan masalah kesehatan mata dan kebutaan di masyarakat untuk memperbaiki tingkat kesehatan mata serta mengurangi angka kebutaan di masyarakat.
  3. Mampu memotivasi masyarakat untuk ikut berperan serta dalam memperbaiki tingkat kesehatan mata masyarakat.

 

Lingkup Bahasan

  1. Topik
  2. Epidemiologi
  3. Ukuran frekuensi penyakit (insidensi. prevalensi, angka kebutaan dll) serta faktor-faktor yang berhubungan misalnya tempat, waktu serta personalnya.
  4. Faktor resiko, faktor prognostik, dll
  5. Sumber-sumber data serta cara pencarian data untuk survey morbiditas, survey follow up, dll.
  6. Macam-macam design penelitian epidemologik dengan keunggulan dan kelemahannya.
  7. Pengaruh pekerjaan dan kemajuan teknologi terhadap kesehatan mata.
  8. Kelainan mata yang berhubungan dengan keadaan lingkungan
  9. Ekonomi kesehatan : Cost – benefit analysis, utility analysis, dll
  10. Teknik dasar promosi kesehatan termasuk pendidikan kesehatan masyarakat dan konseling kesehatan.

 

  1. Prosedur diagnostik
  2. Mampu melakukan survei data — based morbiditas dan tingkat kebutaan.
  3. Mampu menentukan masalah kesehatan mata masyarakat setempat.
  4. Mampu menemukan faktor-faktor penentu yang menyebabkan timbulnya masalah kesehatan mata / kebutaan di masyarakat.

 

  1. Prosedur terapi
  2. Mampu melakukan pendidikan kesehatan mata masyarakat.
  3. Mampu melakukan konseling kesehatan mata
  4. Mampu merencanakan program untuk mengatasi masalah kesehatan mata yang cost effective (pencegahan primer, sekunder, maupun tertier), bila perlu dengan kerjasama dengan instalasi lasin serta melibatkan masyarakat.

 

BUKU ACUAN

Hasil survei kesehatan mata 1994

WHO tech report, Prevention of Blindness

Clinical epidemiology and Biostatistic, Williams & Baltomore, Maryland, 1992

Evidence—based Healthcare, Churchil Livingstone, 1997.

 

V. PELAKSANAAN PENDIDIKAN

  1. Pola Alur Pelaksanaan Pendidikan

Program Studi Ilmu Kesehatan Mata merupakan program pendidikan yang mengikuti sistem kredit dengan beban studi yang diukur dengan satuan kredit semester. Strategi pembelajaran dilakukan dengan sistem belajar aktif, mandiri dan tersupervisi.

Bermacam alternatif alur pelaksanaan pendidikan dapat diterapkan namun dengan memperhatikan kaidah-kaidah kependidikan dan kemungkinan keterlaksanaan berdasarkan sumber-daya yang tersedia, salah satu alur pelaksanaan sebagai berikut dapat dipakai sebagai acuan.

TAHAP PERTAMA TAHAP KEDUA TAHAP MANDIRI
Semester 1 Semester 2 Semester 3 Semester 4 Semester 5 Semester 6 Semester 7
MKK
MDU-MDK
MPA-1
MPA-2
MPK
LASERASI
KONJUNGTIVA TRAUMA TRAUMA OCULAR KATARAK KATARAK KATARAK
PTERIGIUM PALPEBRA OPERASI BOLA MATA TRABEKULEKTOMI  
HORDEOLUM        

 

Pola Alur Pelaksanaan Pendidikan

Pentahapan Peserta Program

Selama pelaksanaan pendidikan Peserta Program dibagi atas 3 tahap : (1) tahap pertama, (2) tahap kedua dan (3) tahap mandiri

RS Mitra 3 bulan
Pedsos/TK + Poliklinik 3 bulan
Refraksi                                  1 bulanLensa dan Katarak                   1 bulan

Infeksi dan Imunologi               1 bulan

Glaukoma                                1 bulan

Vitreoretina                              1 bulan

Pediatrik dan Strabismus           1 bulan

Tumor dan Rekonstruksi            1 bulan

Neurooftalmologi                      1 bulan

TAHAP I

Refraksi                                       2 bulan

Lensa dan Katarak                   3 bulan

Infeksi dan Imunologi              3 bulan

Glaukoma                                   3 bulan

Vitreoretina                                 3 bulan

Pediatrik dan Strabismus        2 bulan

Tumor dan Rekonstruksi         2 bulan

Neurooftalmologi                      2 bulan

Oftalmologi Komunitas            2 bulan

TAHAP II

 

Refraksi                                       1 bulan

Lensa dan Katarak                   1 bulan

Infeksi dan Imunologi              1 bulan

Glaukoma                                   1 bulan

Vitreoretina                                 1 bulan

Pediatrik dan Strabismus        1 bulan

Tumor dan Rekonstruksi         1 bulan

Neurooftalmologi                      1 bulan

Oftalmologi Komunitas       1 bulan

RS Mitra                                    2 bulan

 

 

 

 

 

TAHAP MANDIRI

 

  1. Tahap Pertama

Pada tahap ini Peserta Program mendapatkan berbagai kegiatan akademik sejak awal studi yang meliputi MKK di semester 1.

 

Tugas PPDS Tahap 1:

  • Membuat dan mengisi dokumen medik
  • Membuat anamnesis
  • Melakukan pemeriksaan fisik rutin
  • Menegakkan diagnosis kerja
  • Merancang pemeriksaan penunjang
  • Merancang pengobatan awal
  • Membantu PPDS senior mem follow-up pasien
  • Membantu PPDS senior melakukan prosedur tindakan (diagnostik/terapeutik

 

  1. Tahap Kedua :

Pada periode ini Peserta program dapat memfokuskan kegiatan dalam kegiatan akademik subdisiplin dalam bentuk lanjutan kegiatan MPK; disamping melanjutkan kegiatan MPA-2. Kegiatan Pelatihan Keprofesian umumnya dalam bentuk aktivitas sebagai asisten Supervisor Subdisiplin dan berbagai kegiatan pengelolaan pasien rawat jalan.

 

Tugas PPDS Tahap Kedua :

  • Mengkonfirmasi dan memberi saran tatalaksana atau tindakan sesuai subdisiplin didalami pada pasien
  • Bersama dengan PPDS senior yg merawat pasien melakukan prosedur/tindakan spesialistik
  • Semua kegiatan dibimbing dan di supervisi secara langsung oleh staf subbagian

 

  1. Tahap Mandiri :

Pada tahap ini Peserta Program melakukan pelatihan keprofesian secara komprehensif dan paripurna. Pada tahap ini Peserta Program dapat melakukan berbagai pelatihan keprofesian tidak hanya di RS Pendidikan Utama tetapi juga di berbagai RS Mitra.

 

 

Tugas PPDS Tahap Mandiri:

  • Tanggung jawab utama adalah tatalaksana pasien rawat inap melalui bimbingan langsung dan disupervisi oleh supervisor yg terkait dgn kasus
  • Melakukan prosedur/tindakan diagnostik dan atau terapeutik terhadap pasien
  • Bekerjasama dengan PPDS Tahap 1 dan 2 dlm tatalaksana kasus
  • Menetapkan pasien pindah atau pulang atas sepengetahuan supervisor subdivisi masing-masing
  • Bekerja mandiri di RS jejaring pendidikan

 

Penyelenggaraan kegiatan MDU dan MDK

MDU dan MDK sebagai materi dasar seyogyanya diselenggarakan pada semester awal.

MDU dan MDK dapat diselengarakan dengan berbagai alternatif :

  1. Dilaksanakan sepenuhnya oleh Program Studi IK Mata secara mandiri dengan syarat sumber daya manusia dan perangkat akademik yang diperlukan tersedia
  2. Dilaksanakan dan dikoordinasi oleh Fakultas dengan melibatkan semua sumber daya dari semua Program Studi Dokter Spesialis yang ada di Fakultas
  3. Dilaksanakan oleh Program Studi Magister Biomedik dari Fakultas bersangkutan dengan syarat pokok bahasan harus sesuai dengan Kurikulum PPDS IK Mata
  4. Dilaksanakan oleh Program Studi Magister Biomedik atau dari Program Studi IK Mata dari Fakultas lain dengan ketentuan dapat memberikan MDU dan MDK yang mengacu kepada kurikulum Program Pendidikan DSA (transfer kredit)
  5. Diselenggarakan oleh program Studi IK Mata sendiri dengan bantuan/asistensi sumber daya dan perangkat akademik dari Program Studi lain baik dari lingkungan Fakultas sendiri maupun di luar Fakultas sendiri.

Proses pendidikan disesuaikan dengan proses pendidikan program magister yaitu dengan cara pendalaman ilmu melalui proses belajar tatap muka (kuliah dan diskusi kelompok) dan tugas-tugas lain.

 

Penyelenggaraan kegiatan MKK dan MPK

Penyelenggaraan MKK dan MPK tergantung dari kondisi dan situasi masing-masing Pusat Pendidikan secara paralel dan berjenjang dari semester 1 – semester 6.

Pada umumnya semua Pusat Pendidikan IK Mata telah dapat menyelenggarakan proses pendidikan dengan pokok bahasan pada MKK. Bila diperlukan dapat diperkuat dengan menggunakan jaringan sumber daya dan perangkat pendidikan Pusat-Pusat Pendidikan IK Mata lain (Networking System)

 

Penyelenggaraan kegiatan MPA

Penyelenggaraan MPA terutama MPA-2 pada prinsipnya tergantung pada kesiapan Pusat Pendidikan setempat. Dapat dilaksanakan secara paralel dan berjenjang mulai semester 2-semester 5.

MPA dapat diselenggarakan sesuai kondisi sumber daya Pusat pendidikan bersangkutan. Tujuan yang terpenting adalah tercapainya semua kemampuan yang diinginkan sesuai kurikulum.

Kemampuan akademik dapat dicapai dengan menerapkan berbagai kegiatan yang dikelompokkan ke dalam Materi Penerapan Akademik (MPA). Keterampilan keprofesian dapat dicapai dengan berbagai kegiatan pelatihan keprofesian yang dikelompokkan ke dalam Materi Penerapan keprofesian (MPK). Kedua kelompok kegiatan tersebut dapat diselenggarakan secara bersamaan (simultan) sesuai dengan kondisi dan tingkat perkembangan Pusat Pendidikan. Namun agar setiap PPDS mendapat kesempatan yang sama diperlukan pengaturan secara matriks

 

  1. Bentuk Kegiatan Pelaksanaan Pendidikan

Secara garis besar kelompok kegiatan dalam pelaksanaan pendidikan dibagi atas :

  1. Kegiatan Akademik
  2. Pelatihan Keprofesian
  3. Kegiatan Ko dan Ekstra Kurikuler (Optha fun bike, Optha futsal, Optha aerobica)

 

Pada dasarnya kegiatan akademik telah dimulai segera setelah PPDS masuk Pendidikan yaitu dengan pencapaian MKK pada semester 1 dan MPK pada semester 2 dan seterusnya. Umumnya kegiatan berupa :

 

  1. Kegiatan tatap muka secara terjadwal
  2. Kegiatan tata muka tidak terjadwal

 

Akhir semester 1 PPDS telah mendapatkan kemampuan akademik dasar yang kokoh hingga telah mampu meyusun Sari Pustaka dan membawakan Jurnal-Jurnal yang berkaitan di Bagian Mata; kemudian pada semester 4 dilanjutkan dengan MDU dan MDK, penyusunan proposal penelitian, selesai selambat-lambatnya akhir semester 5. Selambat-lambatnya awal semester 6 PPDS telah mulai melaksakan penelitian dan dilanjutkan dengan penulisan tesis. Dengan demikian diharapkan sebelum akhir semester 7 PPDS telah dapat mempertahankan tesisnya di depan Dewan Penguji.

 

Materi Penerapan Akademik-1

Proposal Penelitian

Proposal penelitian merupakan kegiatan akademik yang direncMataan dan disusun menurut kaidah penulisan ilmiah agar dapat digunakan sebagai pedoman melakukan penelitian untuk penulisan tesis.

 

Tujuan

  • Menerapkan metodologi penelitian.
  • Mendapatkan pengalaman dan keterampilan menulis usulan penelitian ilmiah.
  • Sebagai dasar melakukan penelitian ilmiah untuk penulisan tesis di tahap berikutnya.

 

Peserta Program

  • Peserta program yang telah menyelesaikan dan menyajikan Sari Pustakanya.
  • Penulisan proposal penelitian telah dimulai selambat-lambatnya awal MKK.

 

Pembimbing

Umumnya sama dengan pembimbing sari pustaka.

Tugas pembimbing

  • Memantau pembuatan proposal penelitian.
  • Memberi motivasi, bimbingan dan arahan serta kalau perlu menegur untuk perbaikan.
  • Melakukan diskusi konsultasi terjadwal dengan PPDS.
  • Memantau terlaksananya pembuatan proposal, bila dalam jangka waktu 3 bulan PPDS tidak ada kemajuan dalam pembuatan proposal, pembimbing dapat memanggil PPDS dan melaporkan kepada Penyelenggara Pendidikan.
  • Pembimbing sekaligus menjadi anggota dewan penguji proposal.

 

Penulisan proposal penelitian

  • Peserta menentukan suatu masalah penelitian yang didapat dari hasil kajian Sari Pustaka untuk dibicarakan dengan pembimbing.
  • Penentuan masalah penelitian yang akan dibuat proposalnya dibahas bersama pembimbing dengan mempertimbangkan kelayakan dari segi metodologi penelitian, waktu dan biaya.
  • Proposal penelitian sudah harus selesai dan siap untuk dinilai selambat-lambatnya akhir              semester 5.

 

Panitia penilai

  • Panitia penilai Proposal Penelitian minimal terdiri dari 5 (lima) orang staf pengajar senior termasuk pembimbing.
  • Bila diperlukan, sesuai dengan pokok bahasan proposal penelitian, anggota penilai dapat diminta dari luar Pusat Pendidikan sendiri
  • Ketua dan anggota Panitia penilai ditetapkan oleh Ketua Bagian dengan sebuah SK.

 

Penilaian Usulan Penelitian

  • Penilaian metodologi dan substansi mencakup kerangka penulisan, masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian, kerangka teori yang digunakan, pendekatan dan metode penelitian termasuk perangkat analisis yang akan digunakan dan kepustakaan yang relevan
  • Penilaian kelayakan penelitian dan kesiapan peserta program melakukan penelitian (feasibility study) mencakup lamanya penelitian
  • Penilaian proposal penelitian ditujukan terutama untuk memberi masukan kepada PPDS dalam penyempurnaan proposal.

 

Hasil penilaian proposal penelitian menetapkan :

  • Proposal penelitian diterima tanpa perbaikan.
  • Proposal penelitian diterima dengan perbaikan.
  • Proposal penelitian belum dapat diterima dan mengulang karena :
    • Usulan penelitian belum layak untuk diajukan dan atau
    • Peserta program belum siap melakukan penelitian

 

 

Perbaikan proposal penelitian

  • Proposal penelitian sudah harus diperbaiki paling lambat 3 (tiga) bulan setelah penilaian yang pertama.
  • Perbaikan proposal penelitian harus dilakukan sesuai dengan masukan yang diberikan Panitia Penilai.

 

Peserta program wajib menyerahkan perbaikan proposal penelitian sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ditetapkan.

 

Pelaksanaan penelitian

Pelaksanaan penelitian adalah kegiatan akademik yang menggunakan penalaran ilmiah dan memenuhi persyaratan metodologi disiplin ilmu kesehatan Mata

 

Ketentuan umum :

  • Penelitian menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif atau keduanya.
  • Segera setelah proposal penelitian dinyatakan lulus, penelitian telah dapat dilaksanakan selambat-lambatnya awal semester 6.
  • Jika dalam waktu tiga bulan peserta tidak dapat menunjukkan kemajuan dalam penelitian dan penulisan tesis, Ketua Program Studi (KPS) bersama pembimbing akan mengevaluasi hal tersebut sebagai upaya penyelesaian. KPS dapat memanggil peserta yang bersangkutan dan atau meminta penjelasan secara tertulis. Jika dianggap perlu KPS dapat memutuskan agar bimbingan dialihkan kepada pembimbing lain.

 

Biaya penelitian :

  • Biaya penelitian ditanggung sepenuhnya oleh PPDS.
  • Program studi membantu penelitian dalam bentuk materi dan kemudahan mendapatkan sponsor.

 

Tesis

Penulisan tesis merupakan kegiatan akademik dengan cara mengolah hasil kegiatan penelitian dalam bentuk karya tulis yang bersifat teoritis konseptual berdasarkan analisis data sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi.

 

Ketentuan umum

  • Tesis ditulis dalam bahasa Indonesia dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
  • Beban penulisan tesis adalah 8-10 SKS termasuk seminar proposal penelitian dan atau seminar hasil penelitian
  • Tesis yang sudah selesai disusun dan disetujui oleh Pembimbing dilaporkan kepada KPS untuk dijadwalkan ujiannya.

 

Dewan Penguji

  • Dewan penguji tesis minimal terdiri dari 5 (lima) orang staf pengajar termasuk pembimbing.
  • Bila diperlukan, sesuai dengan pokok bahasan Tesis, anggota Dewan Penguji dapat diminta dari luar Pusat Pendidikan sendiri.
  • Ketua dan anggota Dewan penguji ditetapkan oleh Ketua Bagian dengan SK.

 

Penilaian Tesis

Ujian Seminar

  • Dilaksanaan di Forum Ilmiah yang dihadiri oleh seluruh staf pengajar IKA, para undangan dll
  • Penilaian dilakukan oleh Dewan Penguji / Staf Pengajar
  • Dewan Penguji dipimpin oleh Ketua Sidang yang juga bertindak sebagai penguji. Tugas Ketua Sidang adalah mengatur jalannya ujian
  • Lamanya ujian Tesis lebih kurang 2 jam.
  • Penilaian ujian meliputi isi dan bobot tesis, penyajian lisan, kemampuan peserta menjawab pertanyaan, dan kemampuan mempertahankan isi tesis dan pendapat, serta penggunaan bahasa yang baik.
  • Penilaian tesis antara lain ialah keaslian tesis, bobot permasalahan yang dikemukakan, manfaat penelitian, metodologi penelitian, ketepatan cara pengumpulan dan analisis data, cara penulisan termasuk penyusunan kepustakaan, penyajian hasil, serta cara menarik kesimpulan.

 

Hasil ujian seminar :

  1. Lulus
    • Lulus secara langsung tanpa perbaikan
    • Lulus dengan syarat, yaitu peserta dinyatakan lulus tetapi masih harus melakukan perbaikan atau perubahan tesis.

Hal ini mencakup perbaikan dan perubahan teknis penulisan, pengurangan atau penambahan penulisan. Untuk perbaikan tesis diberikan waktu 1 – 3 bulan, bergantung pada banyaknya perubahan yang dilakukan. Untuk tesis yang sudah diperbaiki tidak diadakan ujian ulang.

  1. Tidak lulus
  • Tidak lulus tetapi dapat memperbaiki tesisnya dan menempuh ujian ulang dalam waktu maksimal 3 bulan.
  • Tidak lulus mutlak. Tidak dapat mengulang tesis dan dinyatakan putus kuliah.

 

Materi Penerapan Akademik-2

 

Sari Pustaka

Sari pustaka ialah pendalaman akademik dengan cara membahas dan meyarikan berbagai makalah ilmiah menjadi satu karya ilmiah tulis yang disusun menurut kaidah penulisan ilmiah.

Tujuan :

  • Mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan membaca, menilai dan menganalisis makalah ilmiah.
  • Mendapatkan keterampilan mensitasi dan menulis kembali ringkasan berbagai makalah ilmiah menjadi satu makalah ilmiah yang baku.
  • Mendapatkan berbagai pokok bahasan, topik masalah, kesimpulan yang mungkin dapat diteliti lebih lanjut sebagai penelitian ilmiah untuk meyusun tesis.
  • Mendapatkan keterampilan menyajikan dan mendiskusikan makalah tersebut di depan forum ilmiah.

 

Jumlah kegiatan

Penulisan dan pembacaan sari pustaka sekurang-kurangnya 5 kali selama masa pendidikan.

 

Peserta Program

Tugas penulisan Sari Pustaka dapat diberikan kepada PPDS setelah selesai MKK.

 

Pembimbing

Staf pengajar yang berkaitan dengan topik yang dibahas.

Penentuan judul Sari Pustaka

Ditentukan dan didiskusikan bersama dengan pembimbing.

Penyajian

Mulai semester 2.

Jumlah kegiatan

Sekurang-kurangnya 5 kali pembacaan Sari Pustaka dilaksanakan selama masa pendidikan.

 

Sajian kasus / Laporan kasus (Laporan Kasus Bangsal)

Sajian kasus ialah kegiatan akademik dalam bentuk menyajikan satu kasus untuk dibahas di Forum ilmiah

 

Tujuan

  • Mendapatkan kemampuan menyusun satu kasus dalam satu makalah sajian kasus menurut tata cara baku
  • Mendapatkan kemampuan menyajikan satu kasus di forum ilmiah
  • Mendalami substansi kasus tersebut.

 

Pembacaan Jurnal (Journal Reading)

Journal reading atau pembacaan makalah ilmiah ialah kegiatan akademik melalui pembahasan makalah ilmiah di depan forum.

 

Tujuan

Mendapat kemampuan menganalisis makalah ilmiah secara kritis (critical appraisal) sesuai tata cara baku, sehingga mendapatkan kesimpulan mengenai bobot (mutu penulisan) makalah dan substansi yang terkandung didalamnya.

 

Jumlah kegiatan

Sekurang-kurangnya 5 kali pembacaan jurnal dilaksanakan selama masa pendidikan.

 

 

 

DOTS (Direct Observation of Procedural Skills)

Secara umum sama dengan MINI-CEX (Mini-clinical evaluation exercise) namun penilaian pada skill klinik. Observasi langsung pada tempat stase, dan dinilai oleh masing-masing supervisor pada tiap subdivisi.

Tujuan

            Untuk meningkatkan kemampuan skill peserta PPDS dan diberikan feedback oleh supervisor bersangkutan di sub divisi.

Penyajian

Dilakukan pada stase setiap sub divisi.

 

  1. PREDIKAT KELULUSAN

GELAR DAN IJAZAH

Peserta yang dinyatakan lulus dari Program Pendidikan Sokter Spesialis Mata diberikan predikat kelulusan sesuai dengan IPK yang diperoleh sbb :

2,75 – 3.49      Memuaskan

3,50 – 3.74      Sangat memuaskan

3,75 – 4,00      Cum laude (dengan pujian)

 

A.   Gelar

Peserta yang dinyatakan lulus berhak untuk menggunakan gelar Magister dan Dokter Spesialis Mata. Sebutan Spesialis Mata ialah Dr Sp.M; sedangkan sebutan Magister disesuaikan dengan peraturan Pusat Pendidikan masing-masing.

 

B.   Ijazah

  1. Ijazah Magister

Diberikan oleh Program Pascasarjana UNHAS ditandatangani oleh Rektor UNHAS dan Direktur Program Pascasarjana UNHAS, setelah yang bersangkutan melengkapi seluruh tugas-tugas pendalaman akademik dan dinyatakan lulus ujian tesis.

 

2. Ijazah Dokter Spesialis

Diberikan oleh Fakultas Kedokteran UNHAS ditandatangani oleh Rektor UNHAS dan Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS setelah yang bersangkutan menyelesaikan semua tugas-tugas pelatihan keprofesian dan dinyatakan lulus ujian nasional (Evaluasi Nasional)

Kedua ijazah tanda lulus itu maupun salinannya diberikan kepada yang bersangkutan jika semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku sudah dipenuhi seperti pelunasan SPP, penyerahan tesis yang telah diperbaiki dan disahkan serta disetujui Dewan Penguji (apabila diperlukan perbaikan), pengembalian buku yang dipinjam dari perpustakaan atau tugas-tugas akademik lainnya.

Jika ada di antara persyaratan akademik dan administratif tersebut yang belum dipenuhi maka tanda lulus belum dapat diberikan.

 

 

3. Piagam Pengukuhan Profesi Dokter Spesialis Mata

Diberikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan Mata Indonesia ditanda tangani oleh Ketua Kolegium dan Sekretaris Kolegium setelah yang bersangkutan dinyatakan lulus Evaluasi Nasional dan telah memenuhi persyaratan administratif yang ditentukan oleh Kolegium.

 

VII. PENGAYAAN

Sebelum dimulainya pendidikan formal, semua calon PPDS yang dinyatakan lulus diharuskan mengikuti pengayaan. Pengayaan ini diselenggarakan dua kali setahun yaitu pada bulan Juni dan Desember, dan berlangsung selama satu bulan penuh. Pengayaan ini terbagi menjadi pengayaan di Bagian Ilmu Kesehatan Mata, pengayaan di Rumah Sakit pendidikan dan pengayaan di fakultas. Setelah pengayaan diharapkan PPDS memiliki bekal dan mengetahui seluk beluk pendidikan dokter spesialis Mata di FK-UNHAS.

 

VIII. PENUTUP

  1. Buku Panduan ini merupakan pedoman bagi PPDS dan staf pengajar di Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, sehingga penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan dengan lancer sesuai harapan.
  2. Hal-hal yang belum diatur dalam buku panduan ini akan dilakukan revisi tiap 3 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pelatihan Kesehatan Mata Kerjasama LCIF PERDAMI Bagian Mata Unhas Kabupaten BONE Oktober 2014