MoU Faculty of Medicine Hasanuddin University and Faculty of Medicine, Graduate School of Medical and Dental Sciences, Niigata University

Kepercayaan dari mata
@iqbaldjawad#
Awalnya saya sangat khawatir, ketika pertama kali bertemu dengan Dekan Fakultas Kedokteran yang juga Kepala bagian Ilmu Kejiwaan FK Niigata University, Prof. Toshiyuki Someya, Ph.D dan Kepala Sekolah Pascasarjana Kedokteran dan Kedoktern Gigi, Prof. Yoichi Ajioka, Ph.D. Kekhawatiran saya beralasan karena kami, Saya dan Prof. Jayalangkara Tanra, Professor Kejiwaan Fakultas Kedokteran Unhas terlambat 15 menit dari perjanjian awal. Dalam perjalanan dari Niigata Station ke Niigata University berapa kali kami memohon maaf ke LO yg menjemput dan mohon diinfokan ke universitas dan Prof. Someya bahwa kami akan terlambat. Sampai di ruang pertemuan, saya langsung bisa menebak yang mana Prof. Someya. Kelihatan lebih muda dari umurnya. Saya membungkukkan badan, sebelum memberi kartu nama seraya memperkenalkan diri dan memohon maaf atas keterlambatan kami, begitu juga dengan Prof. Ajioka. Kami dipersilahkan duduk di depan meja yang di tengahnya ada bendera kecil Jepang dan Indonesia. Hal2 kecil yang mereka persiapkan terkadang tidak terpikirkan okeh kami.
Kekhawatiran saya hilang sama sekali digantikan sambutan yang sangat hangat. Dalam hati saya bertanya,  biasanya orang2 dari daerah  yang terkadang suhunya sangat ekstrim terutama di musim dingin seperti Niigata karakternya juga dingin, tetapi ternyata tidak. Prof. Someya meminta ijin ke kami untuk presentasi sejarah Niigata University yang berawal dari Konsorsium ilmu2 kedokteran. Dari presentasi beliau saya mengerti bahwa Sekolah kedokteran Niigata dimulai tahun 1910, lalu menjadi Niigata National Medical University pada tahun 1922 yg merupakan salah satu dari 6 sekolah kedokteran tertua di Jepang yang merupakan Bagian dari Universitas Kerajaan Jepang yang didirikan jauh sebelum Perang Dunia ke 2. Dibanding dengan umur FK Unhas yang jauh lebih muda, FK Niigata University masih meninggalkan gedung-gedung yang lama dan terawat. Gedung2nya biasa saja, tidak ada yang istimewa, hanya saja mereka mempunyai peralatan2 laboratorium dan peralatan simulasi kedokteran yang bisa dikatakan sangat canggih dan mengikuti perkembangan jaman.
Seperti lazim dilakukan oleh orang Jepang, Prof. Someya mengundang kami utk makan malam bersama di suatu rumah makan khas Jepang. Tempatnya tidak terlalu besar, untuk tidak mengatakan sangat sempit tetapi sangat bersih. Saking sempitnya kami tidak duduk berhadapan tetapi duduk sejajar menghadap chef yang sibuk mempersiapkan makanan buat kami berempat. Ada 9 jenis menu yang dikeluarkan satu persatu dan setiap menunya dalam ukuran yang kecil. Setiap jenis sebelum dimakan mendapat penjelasan dari chef dan sekali2 ditambahkan oleh Prof. Someya dan Prof. Ajioka. Selain cerita tentang makanan, pembicaraan juga mengenai budaya dan sedikit tentang keadaan pendidikan kedokteran di Jepang dan Indonesia.
Dari pembicaraan tentang budaya akhirnya kami tahu bahwa Prof. Ajioka di masa mudanya sekitar 30 tahun lalu pernah tinggal di Menteng Jakarta, mengikuti orang tuanya. Bapaknya merupakan direktur sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang perikanan. Prof. Someya pun beberapa kali mengunjungi Bali dan Yogyakarta. Seluruh pembicaraan dipenuhi gelak tawa, karena kedua Professor ini memang sangat hangat, bukan karena pengaruh alkohol yang biasa menjadi “pemicu” pembicaraan kemana2. Kedua Professor ini hanya minum uroncha dan bir 0%, mungkin untuk menghormati kami yang tidak boleh meminum minuman beralkohol.
Setelah selesai makan, sambil jalan kaki menuju ke tempat pemberhentian taxi, saya iseng bertanya ke Prof. Someya, “Sensei, apa yang membuat Sensei mau bekerjasama dengan FK Unhas khususnya dibidang ilmu kejiwaan, karena selama ini melihat presentasi tadi, hanya banyak bekerjasama dengan negara2 Russia, Mongolia dan China”?. Prof. Someya menjawab,” alasan pertama mungkin karena alasan geografis, mereka paham bahwa perubahan2 kejiwaan di negara2 subtropis berbeda dengan perubahan di negara tropis, begitupun dengan faktor2 yang mempengaruhi perubahan itu”. Alasan keduanya yang mengagetkan saya, Prof. Someya mengatakan, “saya melihat mata  Prof. Jayalangkara Tanra ketika pertama kali bertemu di Konferensi Ilmiah Kejiwaan di Jepang beberapa tahun lalu. Waktu itu Prof. Jaya cerita banyak tentang pendidikan kedokteran kejiwaan di Makassar dan mengajak untuk bekerjasama. Saya memperhatikan mata beliau yang mungkin beliau tidak tahu kalau saya memperhatikannya. Dari matanya kelihatan antusiasme untuk memajukan dunia pendidikan kedokteran kejiwaan di Indonesia”. Dalam hati kecil, saya bertanya apa hubungannya mata dengan kerjasama?. Prof. Someya melanjutkan “dari perspektif kejiwaan, mata adalah jendela hati, dari situlah terbentuk cerminan jiwa, mulut bisa tersenyum palsu tetapi bola mata mengatakan hal yang sebenarnya”. Dari pandangan mata itulah kepercayaan muncul di Prof. Someya. Saya baru sadar sejak awal bertemu, Prof. Someya selalu menanyakan banyak hal yg awalnya saya pahami sebagai suatu pertanyaan biasa, mulai dari arti nama dan nama keluarga,sampai adat kebiasaan. Mungkin begitulah cara Prof Someya, berkomunikasi dan berkenalan dengan orang2 yang ditemui.  Sebelum naik ke Taksi saya membungkukkan badan 90 derajat untuk menunjukkan terima kasih atas kehangatannya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bisa melihat antusiasme dari pandangan matanya, tetapi saya yakin ada pancaran energi yang dialirkan ke saya. Di dalam taksi menuju hotel saya berdoa, Terima kasih Tuhan, yang mempertemukan saya dengan orang2 yg tulus untuk bekerja sama, bukan dengan orang yang hanya berbasa basi dan menganjurkan bekerjasama atau seolah2 bekerjasama untuk tujuan2 yang tidak tulus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*