HAPPY ANNIVERSARY MYRC

Tanggal 23 Maret akan selalu menjadi tanggal bersejarah untuk semua anggota MYRC, karena pada tanggal itulah sebuah organisasi kecil yang diberi nama MYRC atau Medical Youth Research Club berhasil didirikan. Dengan bermodalkan semangat dan keyakinan sebagai pondasi awal, merangkak perlahan dari kaki yang awalnya masih sering goyah, tidak ada yang menyangka bahwa hingga sekarang organisasi ini akan menjadi sebuah organisasi besar yang sudah dikenal luas dengan segala capaian luar biasa di dalamnya.

Hari itu tepatnya tanggal 23 Maret 2021, terhitung 19 tahun sudah MYRC hadir dan melahirkan begitu banyak sosok hebat serta karya-karya yang luar biasa. 23 Maret 2002 hingga sekarang 23 Maret 2021 adalah waktu yang tidak singkat untuk sebuah organisasi berdiri, berkembang lalu bertahan dengan semua hal yang terjadi didalamnya. Menjadi satu-satunya organisasi di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang bergerak dalam bidang keilmiahan, tentunya menjadikan MYRC sebagai rumah juga wadah untuk mahasiswa-mahasiswa yang cinta akan penelitian ataupun hal-hal yang berbau ilmiah. Selain itu, nyatanya kehadiran MYRC juga begitu berpengaruh terhadap eksistensi dari Fakultas Kedokteran sendiri.

Nah kira-kira apa pendapat juga harapan-harapan dari pendiri serta ED (Executive Director) MYRC 3 tahun terakhir? Yuk kita baca sama-sama !!

undraw_pie_graph_x9dy.png

DID YOU KNOW ??

Kalian pernah gak nonton film Alice in Wonderland? Nah kalian juga perlu tahu nih ada loh sebuah sindrom yang disebut Alice in Wonderland Syndrome. Seperti apa yah kira-kira? Simak perjelasan berikut!

Pertama kali ditemukan pada tahun 1955, Alice in Wonderland Syndrome (AIWS) adalah gangguan persepsi yang ditandai dengan distorsi persepsi visual (metamorfopsi), skema tubuh, dan pengalaman waktu. Nama tersebut mengacu pada buku anak-anak terkenal oleh Lewis Carroll, Alice’s Adventures in Wonderland dimana Alice merasa bagian tubuhnya tumbuh lebih besar atau lebih kecil padahal sebenarnya tidak.

Selama 60 tahun terakhir, gejala AIWS telah mencakup 42 gejala visual dan 16 gejala somestetik dan nonvisual lainnya. Yang termasuk gejala visual misalnya achromatopsia, akinetopsia, arugopsia, chloropsia, dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk gejala somestetik dan nonvisual seperti, aschematia, derealisasi, depersonalisasi, dan lain lain

Sebagian besar gejala AIWS dikaitkan dengan sistem saraf pusat yang merespons secara selektif jenis input sensorik tertentu (untuk penglihatan, terutama area kortikal V1-V5). Misalnya area V4 dari korteks visual ekstrastriate yang merespons warna secara selektif, sedangkan area V5 merespons gerakan. Kedua area juga merespon terhadap bentuk dan kedalaman, tetapi hilangnya fungsi V4 secara bilateral menyebabkan achromatopsia (ketidakmampuan untuk melihat warna) dan hilangnya V5 secara bilateral menyebabkan akinetopsia (ketidakmampuan untuk melihat gerakan).

Dari beberapa kasus yang dilaporkan, ada sangat banyak etiologi dari AIWS. Tetapi, penyebab tersering adalah migren (27,1%), diikuti oleh infeksi (22,9%), terutama oleh EBV (15,7%). Adapun penyebab lain seperti: lesi otak (7,8%), obat-obatan (6%), gangguan kejiwaan (3,6%), epilepsi (3%), penyakit pada sistem saraf tepi (1,2%), dan lainnya (3%). Pada sekitar 20% pasien tidak ditemukan adanya penyebab dari AIWS. Pada 65% kasus AIWS terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun

Sebagian besar kasus AIWS nonklinis dan klinis dianggap jinak, dalam artian bahwa gejala sembuh total seringkali terjadi, terkadang secara spontan dan dalam kasus lain terjadi setelah pengobatan yang tepat. Namun, dalam kasus klinis dengan kondisi kronis yang mendasari (seperti migrain dan epilepsi), gejala cenderung berulang sejalan dengan fase aktif penyakit. Pengobatan yang dilakukan biasanya berdarsarkan etiologi yang mendasarinya. Dalam praktik klinis, sindrom ini sebagian besar melibatkan peresepan antiepilepsi, profilaksis migrain, agen antivirus, atau antibiotik.

Nah, menarik bukan? Ternyata kondisi Alice seperti dalam kisanhya memang benar benar ada. Meskipun sebenarnya kasusnya masih sangat sedikit.

Referensi :

Blom JD. Alice in Wonderland syndrome. Neurol Clin Pract. 2016;6(3):259–70.

Mastria G, Mancini V, Viganò A, Di Piero V. Alice in Wonderland Syndrome: A Clinical and Pathophysiological Review. Biomed Res Int. 2016;2016.

Ffytche DH, Blom JD, Catani M. Disorders of visual perception [Internet]. Vol. 81, Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry. J Neurol Neurosurg Psychiatry; 2010 [cited 2021 Jan 25]. p. 1280–7. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20972204/

 

MY GATHERING – 19 Years Memories of MYRC

Roda kepengurusan sebuah organisasi tentu akan terus berlanjut, begitupun dengan MYRC. Dipilih, dijalankan, lalu diakhiri menjadi siklus yang normal dalam keberlangsungan suatu organisasi, yang artinya dalam suatu kurun waktu yang sudah ditentukan roda kepengurusan itu harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Dari keadaan inilah lalu lahir alumni, satu kata yang mengikat semua anggota MYRC dimulai dari angkatan awal hingga sekarang.

MY Gathering lalu hadir sebagai suatu kegiatan yang pertama kali diadakan oleh MYRC dengan tujuan untuk mengumpulkan alumni MYRC. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk menjaga silaturahmi agar bisa menciptakan kedekatan dan keakraban antar anggota MYRC. Pelaksanaan MY Gathering kali ini berdekatan dengan ulang tahun dari MYRC. Awalnya pihak panitia berencana untuk mengadakannya di tanggal yang sama dengan hari ulang tahun MYRC. Akan tetapi karena tanggal 23 Maret jatuh di hari kerja, maka dengan pertimbangan agar senior-senior bisa tetap ikut meramaikan kegiatan tersebut, akhirnya MY Gathering diadakan pada hari Jumat tapi tetap diminggu yang sama dengan tanggal 23 Maret.

MY Gathering kali ini mengangkat tema “19 Years Memories of MYRC” dan diadakan secara online melalui via zoom mengingat situasi sekarang yang belum memungkinkan untuk pelaksanaan secara offline. Rangkaian acara ataupun pembahasan di dalamnya juga tidak lepas dari seputar MYRC. Tentu ini juga bisa menjadi tempat bagi kita sebagai junior untuk belajar banyak hal dari senior yang sudah berpengalaman sekaligus mungkin bisa cari link untuk penelitian dengan kakak-kakak (hehehe). Ada 3 orang pemateri yang diundang, yaitu dr. Rusdina Bte Ladju, Ph.D. Excecutive Director MYRC Angkatan 1, dr. Ekachaeryanti Zain, Sp.KJ. Anggota MYRC Angkatan 4, dan dr. Muhammad Dwi Wahyu Excecutive Director MYRC Angkatan 11. Pemateri-pemateri diberi kesempatan berbicara pada saat sharing session seputar MYRC, menceritakan pengalaman-pengalaman ataupun kisah-kisahnya selama menjadi anggota MYRC.

 

MY EVENT – Rapat HSF (Hasanuddin Scientific Fair) 2021

HSF atau Hasanuddin Scientific Fair adalah salah satu program kerja unggulan dari MYRC FK Unhas. Kegiatan ini adalah satu bentuk kompetisi ilmiah tingkat nasional yang diikuti oleh semua universitas di Indonesia. Selain hanya karena merupakan satu proker yang harus dilaksanakan, tujuan lain dari HSF adalah bahwa diharapkan dengan adanya kompetisi ilmiah seperti ini bisa menambah ilmu serta pengalaman dari semua peserta khususnya anggota MYRC  mengenai kompetisi ilmiah nasional. Juga diharapkan bahwa dengan adanya kompetisi-kompetisi seperti ini, anggota MYRC bisa mengembangkan bakat dan kompetensi yang dimiliki.

Karena merupakan salah satu kompetensi ilmiah bergengsi yang ada di Indonesia, persiapan pelaksanaan HSF tentu tidak main-main. Setidaknya dari pihak panitia membutuhkan waktu persiapan 6 bulan lamanya. Dan pada tanggal 29 Maret 2021 kemarin menjadi rapat perdana dari HSF 2021. Dalam rapat ini, beberapa agendanya adalah memperkenalkan panitia-panitia yang akan bekerja, juga memaparkan beberapa pilihan tema yang bisa digunakan sebagai tema dari HSF 2021. Setelah rapat perdana itu, mulailah dilaksanakan rapat rutin seperti yang dilakukan pada tanggal 9 dan 15 April 2021. Di dalam rapat rutin, pembahasan yaitu terkait apa saja progress yang sudah dilakukan dari setiap divisi dan apa saja target selanjutnya yang akan dilakukan. Rapat perdana ataupun rapat rutin HSF selalu dihadiri oleh senior-senior yang tentu sangat berperan besar untuk senantiasa memberikan saran dan masukan agar bisa mempermudah pelaksanaan nantinya.

Semangat teman-teman, harus selalu ada usaha maksimal untuk hasil terbaik ^^

 

MY JUHSSI
Journal Reading part 1

Berkecimpung di dunia kesehatan khususnya kedokteran tentu menuntut kita untuk bisa selalu meng-update pengetahuan dan ilmu yang dimiliki sesuai dengan perkembangan ilmu terbaru. Tentunya salah satu sumber yang bisa membantu kita untuk mencapai hal tersebut adalah dengan membaca jurnal. Namun membaca jurnal pun diperlukan suatu kemampuan agar makna dan informasi didalamnya bisa kita pahami.

Oleh karena itu, MYRC mengadakan satu proker yaitu MY JUHSSI dalam hal ini Journal Reading agar bisa menjadi wadah bagi mahasiswa kedokteran Universitas Hasanuddin untuk belajar bagaimana sih caranya agar kita bisa mempresentasikan dan memahami isi dari jurnal dengan baik. Journal Reading dilaksanakan pada tanggal 17 April 2021 dan dimulai pada pukul 09.00 WITA. Kegiatan dilakukan via zoom dan diikuti oleh sekitar 78 orang yang berasal dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas. Journal Reading dimulai dengan pengerjaan pretest oleh seluruh peserta lalu dilanjutkan dengan pemberian materi The Art of Reading a Journal Article oleh dr Ekachaeryanti Zain, Sp. KJ. Fokus utama dari materi adalah mengenai critical appraisal yang dijelaskan kepada peserta. Setelah pemberian materi, ada sesi ice breaking berupa game word search yang setelahnya dilanjutkan dengan sesi latihan. Adapun rangkaian acara terakhir dari kegiatan itu adalah sesi tanya jawab oleh peserta dan pemateri.

Dan yang istimewa dari kegiatan ini adalah selain dapat ilmu peserta juga akan mendapatkan poin kemahasiswan sebanyak 250 poin. Wahhhh keren !!

Nama Lengkap
Angkatan MYRC (Jika Anggota)
Apakah MY MOMENT ini menambah pengetahuan anda mengenai MYRC?
Feedback