DILAN 1991- Melanggar moralkah?

Film Dilan 1991 merupakan Film karya anak bangsa. Diangkat dari novel karya sang pemenang penghargaan Writer of The Year oleh Ikapi tahun 2017, Pidi Baiq. Ketika membahas Dilan 1991, tentu kita akan teringat kembali film pendahulunya, yaitu Dilan 1990 yang meraih 6,2 juta penonton dalam 45 hari penayangan. Hal ini merupakan pencapaian besar yang tak lepas dari kualitas dan adegan humor dan romantis yang berhasil menyentuh hati para penonton dilan 1990. Film Dilan 1991, hadir dengan warna kisah romantis hingga kesedihan dalam film ini berhasil meraih 2.082.000 penonton dalam waktu 3 hari.

Namun ditengah kesuksesannya, film ini juga menuai kontra dari beberapa kelompok mahasiswa di Makassar yaitu Aliansi Mahasiswa Indonesia (AWASI), Aliansi Peduli Pendidikan Nasional, dan DPP Laskar 98 Indonesia. Dalam tuntutannya DPP Laskar 98 Indonesia dalam surat SOMASI no: 038-02/FT/DPP_LASKAR/II/2018 mengharapakan pihak penyelenggara film untuk memberhentikan penayangan film Dilan 1991 karena mempertontonkan adegan (tindakan) amoral dan mencederai filosofi pendidikan bangsa.

Untuk memediasi hal ini, pihak mahasiswa tolak Dilan 1991, pihak film Dilan 1990, pihak lembaga sensor film dan Pihak XXI Makassar mengadakan pertemuan di bioskop CGV, Daya Grand Square mall. yang didahului dengan menonton film Dilan 1991 dan pembahasan adegan-adegan dalam film dilan 1991.

Ditemui di XXI MP Makassar, Ahmad Yani selaku pihak XXI Makassar mengatakan “Kami sudah melakukan bertemu dan mediasi dengan sekelompok mahasiswa yang menganggap bahwa film ini merusak moral di bioskop CGV. Kami mendegar tuntutan mereka dan ada pihak lembaga sensor film dan juga pihak film Dilan 1991 yang memberikan penjelasan”.

Adapun dari pihak film Dilan 1991 yaitu dr. Irfan yang mewakili Produser film Ody Mulya dari Maxima Pictures, “Kami telah melakukan mediasi di CGV yang dihadiri oleh Lembaga Sensor Film, Ody Hidayat sebagai produser film, mahasiswa yang menggugat, dan pemilik bioskop di Sulawesi Selatan juga turut hadir karna mereka dikirimi surat oleh mahasiswa”

Membahas tentang tuntutan beberapa kelompok mahasiswa yang ingin film Dilan 1991 diberhentikan karena adegan yang tidak sesuai moral. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, adegan (tindakan) yang seperti apa dalam film dilan yang melanggar moral sesuai yang menjadi tuntutan mahasiswa. dr. Irfan mengungkapkan “Mahasiswa itu mempermasalahkan adegan yang ada di film Dilan 1990, yaitu adegan tawuran, pemukulan, melawan guru, dan dijelaskanlah bahwa ini ceritanya tentang geng motor, kita ini mau angkat kehidupan nyata ke film. Ada juga yang mempermasalahkan Ridwan Kamil hadir dalam film ini karena beliau adalah politikus. Bahkan ada yang mempertanyakan kenapa Dilan dan Milea pacaran pakai baju SMA, jawabannya karena inikan cerita asmara anak SMA. Intinya mereka berpendapat bahwa film Dilan 1991 tidak sesuai dengan budaya Sulawesi-Selatan”.

Mahasiswa kontra film Dilan 1991 melakukan aksi dibeberapa tempat, yaitu mall Panakkukang dan mall Ratu Indah. Menanggapi tentang aksi demo dari mahasiswa kontra dilan 1991, dr. Irfan mengungkapkam “Kita hargai pendapat mereka, aturan yang kita anut yaitu aturan yang berlaku di Indonesia jadi silahkan kalau mau demo namun harus sesuai dengan koridornya. Namun jangan paksa orang untuk tidak menonton, jangan paksa pemilik bioskop untuk tidak memutar film. Jika tuntutannya adalah masalah moral maka kita akan terus berbeda pendapat karna moral itu tergantung latar belakang dan pendapat masing-masing orang. Jika kelayakan suatu film maka menentukan yaitu lembaga sensor film.”

Dalam penjelasaannya Pak Ahmad Yani juga memberikan petunjuk kepada pihak yang ingin film Dilan 1991 diberhentikan, “Saya memutar film Dilan 1991 dibioskop tidak meyalahi prosedur dan undang-undang yang ada. Lagipula ada regulasi yang harus dilalui yaitu pihak kepolisian dan lembaga sensor film (LSF) kalau ingin film Dilan 1991 diberhentikan penayangannya dibioskop”.

Para mahasiswa melakukan aksi demo di XXI mall panukkang, kamis (28/2/2019), diduga aksi ini sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa karena film tersebut diputar di Makassar. Aksi ini merugikan pihak XXI karena terjadi kerusakan yang merugikan XXI mall panakkukang. “Dampak dari demo ini kami mengalami kerugian karena ada kerusakan barang, kami punya barang bukti berupa barang yang rusak serta rekaman kejadian tersebut. Untuk langkah selanjutnya akan kami konsultasikan dengan pihak kepolisian”, ungkap Ahmad Yani.

Walaupun ada aksi penolakan dari sekelompok mahasiswa namun hal ini tampak tidak mengurangi antusias penonton untuk menyaksikan film Dilan 1991, dilihat dari penjulan tiket film Dilan 1991 di Makassar. Antusiasme juga terlihat dari salah satu penonton film Dilan 1991 di bioskop XXI Nipah mall, “film ini menyuguhkan alur cerita yang menarik dengan kisah percintaan sederhana yang indah namun tidak dapat bersama. Adegan-adegan dalam film ini masih dalam batas wajar dan tidak melanggar moral sesuai dengan yang saya dengar dalam tuntutan para mahasiswa yang demo film dilan”, ungkap Nisam.

(N,J,U)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *