Sumber gambar : brilio.net

Impor Guru, Ancaman Bagi Generasi?

Sumber gambar : brilio.net

Beberapa hari yang lalu, dunia pendidikan sempat dihebohkan dengan kabar rencana impor guru asing oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (MENKO PMK). Puan Maharani mengatakan bahwa akan mengajak guru luar negeri untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia, Kamis (9/5/2019). Wacana ini tentu saja menuai kritikan dari berbagai kalangan terutama dari kalangan pemerhati pendidikan dan dari kalangan organisasi guru.

(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190510074624-20-393596/menko-puan-maharani-ingin-undang-guru-dari-luar-negeri )

(https://tirto.id/wacana-puan-maharani-impor-guru-asing-dikritik-organisasi-guru-dACH )

Rencana MENKO PMK, Puan Maharani tentu kurang bijak dalam menyelesaikan masalah tenaga pengajar di Indonesia, baik masalah kesediaan tenaga pengajar maupun masalah kualitas tenaga pengajar itu sendiri. Jika yang menjadi persoalan adalah jumlah tenaga pengajar maka tentu rencana ini sangat tidak solutif mengingat tingginya jumlah lulusan mahasiswa jurusan kependidikan yang kemudian bisa dijadikan tenaga pengajar. Jika yang menjadi persoalan adalah kualitas tenaga pengajar maka rencana ini lebih tidak solutif lagi atas permasalahan tersebut bahkan bisa menambah masalah baru. Ketika guru atau tenaga pengajar adalah orang asing dari negeri barat yang sekular maka yang diajarkan nantinya bukan hanya pengetahuan umum semata tapi juga akan mengajarkan tsaqofah asing dari negerinya tersebut. Tsaqofah (ilmu yang terpancar dari akidah dan ideologi) asing tentu akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kualitas sistem pendidikan dan output dari sistem pendidikan itu sendiri.  

Tsaqofah asing yang tidak sesuai dengan nilai agama dan norma-norma di Indonesia seperti paham liberalisme, materialisme, sekularisme dan isme-isme miring lainnya tentu akan mengguncang kestabilan pendidikan di Indonesia. Dengan menggunakan tenaga pengajar asing maka akan semakin memuluskan jalan tsaqofah asing (tsaqofah barat) dan pemikiran-pemikiran negatif merusak pemikiran kaum intelektual di Indonesia. Bahaya serangan tsaqofah asing telah terbukti pada masa keruntuhan peradaban Islam yaitu khilafah Usmani. Keruntuhan peradaban emas ini salah satunya disebabkan oleh adalah serangan tsaqofah asing terhadap dunia pendidikannya.

Peran guru dalam mengajarkan ilmu pengetahuan sangat penting dalam sebuah peradaban yang berkualitas emas 24 karat. Pemahaman seorang guru dan cara mengajarnya memberikan pengaruh besar bagi pemahaman siswa atau mahasiswa. Pendekatan terbaik dalam membentuk bangsa yang beradab dan peradaban tinggi adalah dengan pendidikan.

Perbaikan sistem pendidikan di Indonesia tentu tidaklah cukup jika hanya berfokus pada tenaga pengajar alias guru saja. Perbaikan kurikulum tentu lebih penting karena kurikulum yang menentukan jalan sistem pendidikan itu sendiri. Jika kurikulumnya tidak bagus maka akan memperoleh output yang tidak bagus pula. Output yang kurang bagus ini akan menjadi pengajar lagi pada kurilukum yang tidak bagus tersebut sehingga masalah ini akan menjadi siklus problema dan seperti lingkaran setan yang  siap merusak generasi masa depan. Jika kurikulumnya hanya pengekor kurikulum asing yang sekular maka akan membentuk pula mental pengekor dan terbelakang.

Sistem pendidikan Islam yang melibatkan ruh (kesadaran akan Allah SWT.) telah terbukti membentuk generasi kualitas tinggi dan peradaban emas pada masa khilafah. Sistem pendidikan Islam menjadikan tsaqofah Islam sebagai benteng pertahanan dari tsaqofah rusak di luar Islam, mampu membentuk kaum intelektual makin kokoh dan tidak terpengaruh pada pemikiran rusak. Islam sangat mendorong kaum muslim untuk menuntut ilmu baik ilmu agama maupun pengetahuan umum. Pengeluaran dana yang besar tidak menjadi masalah dalam mengelola sistem pendidikan dalam Islam. Semua orang didorong untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk kepentingan umat. Maka tidaklah heran jika pada masa Khulafahur Rasyidin, Khilafah Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Ustmani muncul penemu-penemu yang luar biasa seperti Ibnu Sina (bapak kedokteran), Al-khawarizmi (ahli matematika), Jabir Ibn-Hayyan (ahli kimia), ibnu khaldun (bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi, dan ekonomi) dan masih banyak penemu lainnya yang karyanya sangat berpengaruh pada masa sekarang. Sudah sepantasnya penguasa di Indonesia mencontoh sistem pendidikan ala Islam sehingga mampu menciptakan generasi unggul dan bisa bersaing di kancah dunia internasional. Akan tetapi penerapan sistem pendidikan yang benar-benar sesuai dengan ajaran Islam tidak bisa diterapkan pada negara kapitalis-sekuler. Penerapannya bisa sempurna jika disertai dengan perubahan pada sistem lainnya menjadi sistem berdasarkan Islam seperti sistem ekonomi, sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem pidana, dan politik luar negeri. Perubahan itu bisa diraih dengan sistem negara yang berdasarkan pula pada Islam.

 

Oleh : Zainab Said (Aktvis Back to Muslim Identity Universitas Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *