(24/09/19) Mahasiswa unhas melakukan aksi "Tolak Revisi UU KPK" (Sumber gambar: Tim LPM Sinovia)

Suara Mahasiswa- REFORMASI BELUM TUNTAS oleh Imam Mobilingo

 

(24/09/19) Mahasiswa unhas melakukan aksi “Tolak Revisi UU KPK”. (Sumber gambar: Tim LPM Sinovia)

              Tepat 20 tahun yang lalu mahasiswa berkumpul menyatukan aspirasi demi menyalakan api perjuangan melawan para pemimpin yang dzolim dan kemudian berakhir dengan pendudukan gedung DPR RI serta mendesak presiden untuk turun dari jabatannya, akhirnya menjadi seruan kepada rakyat untuk berpesta-pora atas kemenangan pada hari itu, namun apakah hari ini kita sepakat dan sependapat bahwa orde baru sudah runtuh dan reformasi telah bangkit ?.

Catatan kelam orde baru merupakan mimpi buruk yang sampai saat ini membuat mereka yang peduli dan berkeinginan untuk menciptakan tatanan negara yang mampu melindungi rakyatnya serta menjunjung tinggi keadilan.

             Korupsi, kolusi, dan nepotisme merupakan salah satu proyek besar orde baru dimana rakyat hanya mendapatkan ampas kopi dari mereka yang berpesta dengan dasi rapi serta setelan sepatu layaknya sang raja. Penjarahan, pemerkosaan, dan pembunahan layaknya berita harian yang terpampang nyata. Penembakan pada beberapa mahasiswa trisakti yang pada hari itu menyuarakan seruan perdamaian dan keadilan merupakan pelangaran Hak asasi kemanusiaan yang sampai saat ini tidak pernah tuntas, mereka yang menjadi tokoh utamanya masih bebas dan tertawa bersama seolah-olah hanya sebuah anekdot. Lantaskah kita siap menerima kenyataan bahwa “REFORMASI BELUM TUNTAS?”.

            Kini kita dihadapkan dengan sebuah kenyataan, dimana pemerintah dengan terang-terangan membuat jeruji besi untuk para koruptor menjadi lunak, dan menghalangi para pemberantas korupsi dengan peraturan yang seolah-olah pro-rakyat. Layaknya sebuah kanker, hari demi hari terus menggerogoti tubuh ibu pertiwi, terpatri akan sebuah kemewahan dunia meloloskan mereka yang mencuri uang rakyat dan membungkam mereka yang berjuang demi keadilan.

            RUU KPK yang disahkan menuai banyak kritikan dari berbagai kalangan yang dinilai mampu melemahkan KPK dan memperkuat barisan para koruptor, istana dan senayan serentak kompak untuk bersama-sama membuat perlindungan atas kejahatan mereka, permohonan untuk bertemu serta berdiskusi yang dilontarkan mahasiswa kepada DPR tidak pernah diindahkan dan pada akhirnya berujung pada pembungkaman.

            “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata, LAWAN” (WijiThukul 1986). Pada tangga 24 September 2019 seluruh mahasiswa Indonesia melakukan aksi turun kejalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kejahatan yang terstruktur, sistematis, dan massif ini. Khusunya mahasiswa yang berada dimakassar. Kini kami tidak lagi berbicara tentang agent of change, social of control dan iron stok diruang kelas ataupun majelis ilmu keorganisasian namun kami turun kejalan untuk mengaplikasikan. Bukan tentang eksistensi ataupun egoism siapa yang paling hebat namun tentang eksistensi dari sebuah keadilan dalam menuntaskan dosa kepada generasi kami untuk menyelesaikan amanat reformasi. Penembakan gas air mata, pengejaran, dan pemukulan yang kami terima hari ini adalah harga yang pastas dibayar untuk sebuah perubahan.

Maka dari itu saya menghimbau kepada seluruh mahasiswa Indonesia :Api Perjuangan telah dinyalakan kembali, reformasi harus kembali, mari satukan barisan untuk dia yang kitasebut INDONESIA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *