Minim APD di Tengah Darurat COVID-19, Mahasiswa FK UNHAS Gelar Aksi Peduli

        Penyebaran Virus SARS-CoV-2 yang sebelumnya pertama kali ditemukan di Provinsi Wuhan Daratan China kini telah sampai ke Indonesia. Kasus COVID-19 pertama di Indonesia ditemukan pada tanggal 2 Maret 2020 dengan jumlah 2 kasus di Kota Depok. Penyebarannya terjadi kian cepat dengan terhitung hari ini tanggal 26 Maret 2020 telah mencapai jumlah 790 pasien positif. Untuk wilayah Sulawesi Selatan dilansir dari data Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan sudah terdapat 13 kasus positif dimana 1 pasien meninggal dan 12 pasien lainnya masih dalam perawatan. Selain itu, terdapat 89 Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Kasus kematian pertama di Indonesia dilaporkan pada tanggal 11 Maret 2020 dengan identitas pasien yang merupakan warga negara asing yang berusia 53 tahun.

        Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah baik itu pemerintahan pusat maupun daerah serta instansi tertentu dalam pencegahan penyebaran virus yang termasuk dalam jenis Corona Virus ini. Sebagai contoh, beberapa institusi pendidikan seperti universitas dari berbagai daerah di Indonesia telah menerapkan sistem belajar daring (sistem belajar jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi) yang dapat mengurangi perkumpulan dan interaksi dekat antara individu satu dengan individu yang lain sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyebaran virus ini. WHO serta pemerintah juga telah menganjurkan Physical Distancing agar masyarakat diharapkan melakukan aktivitas di rumah saja dan mengurangi aktivitas di luar jika tidak mendesak. Selain itu, pemerintah saat ini telah menyediakan obat yang diharapkan dapat melawan Virus Corona atau Covid-19. “Kami telah datangkan 5 ribu Avigan dan dalam proses pemesanan 2 juta, lalu kami juga telah memesan 3 juta Chloroquine, obat ini sudah dicoba oleh satu dua tiga negara dan memberikan kesembuhan”, kata Ir. H. Joko Widodo selaku Presiden RI dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat(20/3/2020).

        Namun, baru-baru ini didapatkan satu masalah dalam penanganan kasus COVID-19 di Indonesia. Dilansir dari berbagai portal berita online, diketahui beberapa rumah sakit dari berbagai daerah mengaku kekurangan APD (Alat Pelindung Diri) dalam menangani Virus Corona. Dilansir dari WHO, langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi antara lain : kebersihan tangan, peralatan untuk perlindungan pribadi atau biasa disebut APD(Alat Pelindung Diri), dan bahan-bahan pengelolaan limbah. APD atau alat pelindung diri yang standar berupa : sarung tangan, masker, dan baju coverall. Dalam penyakit yang dapat ditularkan melalui darah ataupun merupakan jenis infeksi yang berat, maka alat pelindungnya juga termasuk : pelindung wajah (Face protection), googles dan mask of facehield, sarung tangan, baju coverall, penutup kepala, serta sepatu pelindung atau booth.

       

 

        Di tengah sulitnya tenaga medis dalam menangani COVID-19 dibarengi alat pelindung diri yang minim, mendorong kepedulian para mahasiswa kedokteran Universitas Hasanuddin untuk turut memberikan bantuan. Mahasiswa angkatan pre klinik melakukan open donasi untuk membantu masalah kurangnya ketersediaan APD. “Pada dasarnya tidak ada kelompok tertentu yang mengarahkan, kegiatan ini murni didasari kepedulian teman-teman terhadap situasi yang menimpa guru-guru kita saat ini, kami merasa guru-guru kita yang sedang berjuang di garis terdepan layak mendapatkan support berupa makanan, vitamin Dan terkhusus APD yang sangat terbatas stocknya. dan untuk penyalurannya kami kan tetap koordinasikan oleh pihak-pihak RS rujukan corona, untuk penentuannya kami akan prioritaskan RS yang paling butuh.” ucap, Ahmad Taufik Fadillah Zainal selaku ketua angkatan 2017. Open donasi saat ini merupakan tahapan kedua dimana donasi yang pertama telah disumbangkan di RS. Dr. Tadjuddin Chalid, Makassar. Open donasi yang dilakukan bersifat terbuka dan tidak terbatas hanya diruang lingkup Mahasiswa Kedokteran Universitas Hasanuddin “Walaupun kegiatan ini tidak akan pernah senilai dengan keringat dan air mata guru-guru kita yang menaruhkan nyawanya. Mari Kita sama-sama memberikan support, kami sangat terbuka dan mengharap bantuan dari teman-teman diluar sana.” ucap, Ahmad Taufik Fadillah Zainal.

 

       Open donasi yang dilakukan merupakan kerja sama antara mahasiswa angkatan 2017, 2018 dan 2019. “ Sampai saat ini sumbangan dari angkatan 2018 masih berupa uang yang nantinya akan digabung dengan donasi dari kakak 2017 dan 2019 untuk disalurkan” ucap, Irawan Purnomo Aji selaku ketua angkatan 2018. Selain itu, angkatan 2019 juga ikut berpartisipasi dalam memberikan bantuan “teman teman 2019 juga mendukung terlaksananya ini open donasinya, sampai di promosikan ke grup keluarga dan grup orangtua mahasiswa juga” ucap, Muh. Ilham Mubarak selaku ketua angkatan 2019.

        Selain melakukan open donasi, salah satu badan khusus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang bergerak di bidang Tim Medis yaitu TBM Calcaneus juga turun langsung dalam memerikan bantuan. Sebagian anggota turun memberikan bantuan di IDI dan sebagiannya lagi turun langsung di RSIA Sayang Bunda. “Di IDI ada dua bagian yaitu logistik yang menghitung donasi yang masuk seperti berapa barang yang masuk dan keluar lalu nanti ditentukan mau dibagikan ke RS mana saja, dan ada bagian administrasi yaitu menghitung berapa pasien yang masuk dalam seharinya sedangkan yang turun langsung di RS akan ikut mengarahkan pasien yang masuk”, ucap Reztu Tri Octaviani Palureng selaku salah satu anggota TBM yang turun langsung di IDI dan RSIA Sayang Bunda.

        Maka saat ini, setiap individu perlu melakukan tindakan pencegahan agar terindar dari Corona Virus. WHO mengeluarkan rekomendasi tentang tindakan perlindungan dasar terhadap COVID-19, yaitu : sering mencuci tangan dengan alkohol atau sabun dan air; pertahankan jarak sosial setidaknya satu meter dengan orang lain; hindari menyentuh bagian wajah seperti mata, mulut, dan hidung; menutupi mulut dan hidung dengan siku atau tisu ketika batuk atau besin; serta segera mencari perawatan medis lebih awal jika terserang demam, batuk dan sulit bernapas. 

 

( Indah Chairunnisa & Dwi Rahmah Sari HR )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *