Panik Berlebihan Saat Membaca Berita Covid-19, Waspada Gejala Psikomatis

      Penyebaran Virus Corona yang kian hari bertambah banyak di Indonesia menyebabkan rasa cemas dan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat. Baik itu masyarakat yang lokasi tempat tinggalnya sudah termasuk zona merah, bahkan masyarakat yang lokasi tempat tinggalnya masih zona hijau juga dilanda kecemasan yang sama. Bahkan, rasa cemas tersebut sudah dalam tingkat yang berlebihan yang menimbulkan perasaan paranoid bagi masyarakat. Pernahkah anda merasa sesaat setelah membaca berita mengenai COVID-19 lantas tubuh anda tiba-tiba merasakan gejala penyakit tersebut? Atau bahkan ketika anda merasa sakit tenggorokan lantas anda langsung khawatir dan cemas telah terinfeksi Virus Corona ?

      Gejala psikosomatis, pernahkah anda mendengar kata tersebut ? Dikutip dari Patient info, psikomatik berarti pikiran (jiwa) dantubuh (soma) yaitu penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Psikomatik merupakan kondisi ketika pikiran memengaruhi tubuh sehingga memicu munculnya keluhan fisik tanpa adanya penyakit.Lantas, apa hubungan psikosomatis dengan kasus COVID-19?.

      Semakin hari semakin banyak informasi yang menyebar perihal COVID-19, dari informasi yang akurat hingga HOAX. Keadaan ini menumbulkan rasa cemas yang tak berdasar dari individu yang kurang mengerti sehingga mendorong terjadinya gejala psikosomatis. Dr. Andri mengatakan pada TVOne(28/3/2020) “Orang yang mengalami gejala mirip COVID-19 yang merasa dirinya takut misalnya bertemu dengan orang, bias dibilang wajar. Karena, salah satunya terlalu banyaknya informasi yang didapat”. Beliau dalam waktu yang sama juga menyarankan pada media untuk menyabarkan gejala-gejala yang perlu dikhawatirkan serta yang tidak perlu dikhawatirkan agar tidak adanya kekhawatiran yang berlebihan yang menimbulkan rasa paranoid di masyarakat. “Kecemasan yang meningkat dapat menimbulkan gejala psikosomatis missal gejala merasa nafas berat, jantung berdebar-debar, dan membuat seseorang berpikir sepertinya itu adalah gejala penyakit corona” lanjutnya. Dokter ahli jiwa ini juga menjelaskan gejala kecemasan ini timbul akibat aktifitas nge-gas dannge-rem saraf autonom pad aotak yang tidak seimbang. Sehingga, gejala-gejala yang ada dipikiran bias timbul sebagai gejala fisik.Tapi apabila dilakukan pemeriksaan fisik, tidak ditemukan kelainan. Kembali lagi,itu akibat informasi yang terlalu banyak dibarengi kecemasan yang berlebihan  sehingga gejalanya disamakan dengan wabah yang sekarang ini sedang berlangsung. 

      Psikolog Prita Tyas pada Kompas (3/4/2020) mengatakan “Ketika merasakan gejala, kita harus menyadari apa yang kita rasa dan apa yang kita pikir.Apabila kita menyadari merasa cemas  dan overthinking, bisa melakukan istirahat terlebih dahulu atau take a break. Kalau kondisi membaik ketika cemas berkurang, berarti kita bias bilang itu efek dari psikosomatis akibat pikiran yang kemana-mana”.Psikolog muda ini juga menjelaskan apa yang terjadi pada system tubuh kita ketika mengalami psikosomatis. Dalam wawancara tersebut, beliau menjelaskan bahwa proses melihat, membaca, dan mendengar baik dari berita atau video membuat kita mendapat banyak serangan dan menimbulkan ketakutan pada covid-19. Yang kedua, perubahan rutinitas lalu perubahan pada bisnis dan pekerjaan akibat work from home dapat menimbulkan efek yang akhirnya jadi beban pikiran. Pada strukturotak, ada yang dimaksud dengan amygdala, ketika amygdala kelebihan beban bias membuat kita overthinking, cemas, pikiran tidak rasional, dan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Pada saat itulah ada kemungkinan timbulnya gejala psikosomatis. Hal yang paling penting mengatasi rasa kecemasan yang berlebihan tersebut adalah dengan berpikir yang rasional dibarengi menjaga imun,jaga kesehatan, dan mematuhi aturan pemerintah dan anjuran dari tenaga kesehatan.

      Tarisa dalam penelitiannya yang berjudul “COVID-19 dan Kecenderungan Psikosomatis” menyimpulkan, psikosomatis akan menyerang individu dengan merespon keadaan lingkungan dengan kecemasan yang berlebihan. Informasi tentang Covid-19 menjadi penyebab individu terjangkit psikosomatis karena ketegangan, kecemasan, dan kepanikan yang dirasa. Untuk meminimalisir tingkat psikosomatis, individu dapat mengganti resppn negative menjadi positif seperti selalu berusaha membersihkan diri dan penyerahan diri pada Tuhan.

       Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa rasa cemas itu wajar selama tidak berlebihan dan tetap berpikir rasional. Gejala cemas yang berlebihan dapat membuat otak kita “sakit” sehingga merasakan gejala tertentu yang sebenarnya tidak ada.Namun, tetap harus waspada dan hati-hati dibarengi dengan usaha-usaha perlindungan diri dari penularan COVID-19.

Sumber (TVONE)

Sumber gambar ( https://mmc.tirto.id/image/otf/700×0/2018/01/10/ilustrasipsikomatis–istockphoto_ratio-16×9.jpg)

( DHR)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × one =