Mengenal Rancangan Vaksin Corona Virus Disease-19 (COVID-19)

      Pandemi Corona Virus Disease-19 (COVID-19) menjadi permasalahan kesehatan utama dunia saat ini. Virus yang berasal dari Wuhan ini telah menjadi pandemi dunia setelah menyerang hampir seluruh negara. Dampak yang ditimbulkan pun tidak main-main. Banyak negara menerapkan sistem lockdown terhadap seluruh aktivitas keseharian warganya termasuk Indonesia, melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) disertai dengan penerapan protokol kesehatan demi mencegah peningkatan angka positif COVID-19. Namun, tentu tidak efektif jika mengandalkan aturan lockdown terus-menerus tanpa adanya upaya yang lebih pasti dalam mengendalikan penyebaran COVID-19 ini. Sama seperti menghadapi penyakit infeksius lainnya, peneliti dunia sedang berupaya untuk menciptakan vaksin dalam menangani kasus COVID-19 ini.

      Vaksin adalah immunoterapi yang digunakan dalam mencegah penyebaran penyakit infeksius dengan membentuk sistem imunitas tubuh sejak dini. Apabila tubuh seseorang yang telah diberikan vaksin di kemudian hari terpapar suatu patogen, tubuh orang yang telah diberika vaksin tersebut dapat memberikan respons perlawanan terhadap patogen. Dalam pembuatan vaksin, diperlukan berbagai tahapan tes (trial) untuk menguji kemutakhiran vaksin. Tes diawali dengan preclinical testing pada hewan seperti tikus atau monyet. Apabila tahap preclenical tersting berhasil, dapat dilanjutkan dengan trial fase I, yaitu menguji vaksin terhadap beberapa orang dengan dosis dan tingkat keamanan yang tinggi untuk mendorong terbentuknya sistem imun manusia. Kemudian, dilanjutkan dengan trial fase II, yaitu tes dilakukan terhadap ratusan orang dari kalangan anak-anak hingga dewasa, dengan tujuan yang sama pada fase I. Jika hasil tes menunjukkan respons yang positif, maka tes dilanjutkan dengan trial fase III. Pada trial fase III dilakukan uji coba terhadap ribuan orang, kemudian dilihat dan dibandingkan hasilnya dengan orang-orang yang hanya mendapatkan plasebo atau vaksin kosong. Uji coba disempurnakan dengan pengujian terhadap orang coba dari berbagai negara sebagai pembuktian akhir keamanan vaksin, lalu tiap-tiap negara akan menetapkan kesimpulan apakah vaksin dapat disebarluaskan di negaranya atau tidak.

      Saat ini peneliti telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan farmasi dunia dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan India turut ambil bagian dalam upaya produksi vaksin COVID-19. World Health Organization (WHO) sendiri mengunggulkan 2 perusahaan besar yaitu Moderna dari Amerika Serikat dan Astra Zeneca dari Inggris dalam mengembangkan kandidat vaksin COVID-19 ini. Perusahaan Moderna sedang mengembangkan vaksin yang diberi nama mRNA-1273. Saat ini, pengembangan vaksin tersebut berada pada trial fase II. Rencananya, pengujian akan memasuki trial fase III pada pertengahan Juli nanti jika memberikan respons positif pada orang coba. Perusahaan yang berada di Massachusets, Amerika Serikat ini berencana menyediakan vaksin COVID-19  100 mikrogram dengan dosis mencapai  1 Miliar di tahun depan.

      Perusahaan Astra Zeneca yang berasal dari Inggris, saat ini sedang mengupayakan pengujian vaksinnya yang telah mencapai trial fase III. Kandidat vaksin ini diberi nama AZD1222, dalam pengembangannya perusahaan ini bekerjasama dengan Universitas Oxford. Astra Zaneca telah terikat perjanjian dengan Eropa melalui Inclusive Vaccine Alliance (IVA) yang dipelopori oleh Jerman, Perancis, Italia, dan Belanda untuk memasok vaksin sebanyak 400 juta dosis di akhir tahun ini. Astra Zeneca juga memiliki kesepakatan serupa dengan Amerika Serikat melalui Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dan Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) untuk menyediakan 700 juta dosis vaksin, serta 1 miliar dosis lainnya dengan  Serum Institute of India untuk memasoknya ke negara dengan pendapatan rendah-menengah.

      Selain Perusahaan terkemuka Amerika Serikat dan Inggris, Bharat biotech, salah satu perusahaan farmasi di India juga sedang mengupayakan pengujian klinis untuk vaksin COVID-19 yang diberi nama Covaxin. Perusahaan yang berkantor pusat di Kota Hyderabad ini sedang melakukan trial  fase I, dan berencana melanjutkan ke trial fase II pada Juli 2020 nanti. Uji klinis ini dikembangkan bersama dengan Indian Council of Medical Research National Institute of Virology. Sedangkan Prancis, melalui perusahaan Sanofi juga merencanakan pengembangan kandidat vaksin COVID-19. Sanofi berencana  menghasilkan 600 juta dosis vaksin per tahun dan akan digandakan ke depannya. Amerika Serikat melalui Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA), lembaga di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat, telah berinvestasi sejak awal dengan memberikan dana senilai US$ 30 juta untuk pelaksanaan program Sanofi ini.  Namun, pengembangan baru akan dimulai pada paruh kedua tahun ini dan menargetkan ketersediaannya pada akhir tahun 2021.

Sumber : 

Sumber gambar : https://img.antaranews.com/cache/360×240/2020/05/06/shutterstock_1644424099.jpg

(Andi Muhammad Hanif A.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *