KUSTA APAKAH MENULAR?

Kusta merupakan penyakit granulomatosa menahun  yang disebabkan oleh  bakteri tahan asam mycobacterium lepra complex (Mycobacterium leprae and Mycobacterium lepromatosis). Mekanisme penularannya bAergantung pada tingkat  infektivitas host dan juga frekuensi serta durasi kontak terhadap host. Masa inkubasi biasanya berkisar antara 3 hingga 5 tahun untuk kusta tuberkuloid dan sampai 12 tahun untuk kusta lepromatosa. Penyakit ini bisa menular melalui kontaminasi lesi kulit, sekret pernapasan,dan transmisi vertical.

Kerentanan individu untuk tertular kusta sangat bervariasi dan multifaktorial. Berikut adalah beberapa faktor resiko dari penyakit ini :

a. kontak dekat dengan yang baru saja didiagnosis pasien, terutama pasien dengan kusta multibasiler (MB)

b. paparan armadillo (hewan mamalia dengan plasenta kecil)

c. usia antara 5 hingga 15 tahun >30 tahun pada saat terpapar

d. imunosupresi dan imunodefisiensi

e. predisposisi genetic

Manifestasi klinik dari penyakit kusta sangat bervariasi dan tergantung pada respon imunologis setiap individu terhadap infeksi. Kulit, sistem saraf perifer, dan sistem retikuloendotelial terlibat; namun, sistem lain, seperti saluran pernapasan bagian atas, tulang dan sendi, mata, testis, dan kelenjar adrenal juga dapat terpengaruh.  

Adapun tanda dan gejala seseorang menderita kusta antara lain

a. kulit mengalami bercak putih seperti panu pada awalnya hanya sedikit tetapi lama kelamaan semakin lebar dan banyak,

b. adanya bintil-bintil kemerahan yang tersebar pada kulit

c. ada bagian tubuh tidak berkeringat

d. rasa kesemutan

e. muka berbenjol-benjol dan tegang (face leomina)

f. mati rasa karena kerusakan saraf tepi

Gejala-gejala ini tidak selalu nampak, namun kita harus waspada apabila terdapat luka yang tidak terasa sakit bahkan bila ditekan atau bila ada luka yang tak kunjung sembuh dalam jangka waktu yang lama. Kusta dikenal sebagai penyakit yang menakutkan karena deformitas atau cacat tubuh yang diakibatkanya.

Perkiraan studi bahwa keterlibatan okular terjadi pada 70% hingga 75% dari penderita kusta dan kebutaan terjadi pada 5% dari pasien. Komplikasi mata kusta terjadi sebagai akibat dari kerusakan langsung pada mata saraf (oftalmikus dan wajah) ataupun  invasi basiler ke bilik mata depan. Ini bisa menyebabkan komplikasi okular yang signifikan,seperti lagophthalmos, keratitis, kerusakan sensasi kornea, katarak, dan atrofi iris. Sementara itu, manifestasi klinik pada hidung dapat berupa Obstruksi nasal, epistaksis, perforasi septum, dan sadel deformitas hidung.

Kusta juga tediri dari beberapa tipe, diantaranya :

a. Kusta tipe Pausi Bacillary (PB) atau kusta kering. Cirinya biasa terdapat bercak berwarna putih seperti panu dan mati rasa, permukaan bercak kering dan kasar, tidak berkeringatm tidak tumbuh rambut/bulu, bercak apda kulit 1-5 tempat. Hasil pemeriksaan bakteriologis negatid dan tipe kusta ini tidak menular.

b. Tipe Multi Bacillary atau kusta basah. Ditandai dengan adanya bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, hasil pemeriksaan bakteriologi positif. Tipe ini sangatlah menular.

Adapun cardinal sign  utama dalam mendiagnosis  penyakit kusta adalah:

a. Hilangnya sensasi pada lesi kulit

b. Pembesaran saraf perifer

c. Apusan kulit positif

Pengobatan pada penderita kusta adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai penularan. Namun, adanya stigma buruk yang melekat pada masyarakat terhadap penderita kusta membuat pasien dan keluarganya tidak dapat menjalani kehidupan sosial sebagaimana mestinya dan membuat pengobatannya juga terhambat.  para pasien menjadi enggan untuk berobat sebab takut penyakitnya diketahui orang dan mebuatnya terkucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Hal ini tentu saja berlanjutnya mata rantai penularan kusta. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah penderita kusta tetap diperlakuakan secara adil layaknya manusia agar penularan dari penyakit ini juga bisa dicegah.

Referensi :

Maymone, M. B. C. et al. (2020) ‘Leprosy: Clinical aspects and diagnostic techniques’, Journal of the American Academy of Dermatology. Elsevier Inc., 83(1), pp. 1–14. doi: 10.1016/j.jaad.2019.12.080.

Alemu Belachew, W. and Naafs, B. (2019) ‘Position statement: LEPROSY: Diagnosis, treatment and follow-up’, Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, 33(7), pp. 1205–1213. doi: 10.1111/jdv.15569.

Kemenkes RI (2018) ‘Hapuskan Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta’, InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, pp. 1–11.

 
TAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *