Prodi Psikologi FK Unhas dengan bangga menjadi tuan rumah The Third Southeast Asian Indigenous Psychology Conference (SEAIP 2023). Konferensi ini akan berlangsung selama dua hari yaitu pada tanggal 25 – 26 November 2023, dengan lokasi kegiatan yang menggabungkan pertemuan luring di Auditorium Prof. Dr. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran, dan pertemuan daring melalui Zoom Cloud Meetings.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 400 peserta dari 13 negara, termasuk Filipina, Indonesia, Vietnam, Malaysia, India, Thailand, Singapura, Kanada, Australia, Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.
Peserta dan Tamu Penting yang hadir termasuk Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Kes, Sp.PD-KGH, Sp.GK(K) selaku Dekan FK Unhas; Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.K.M. selaku Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset dan Inovasi; Dr. Ichlas N. Afandi, S.Psi, M.A., Ketua Program Studi Psikologi FK Unhas; Ahmad Ridfah, S,Psi., M.Psi., Psikolog (Ketua HIMPSI Sulsel); serta Dr. Rosleny Marliani, M. Si., CPP, dan Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si selaku Perwakilan Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hadir pula dalam rangkaian kegiatan ini para scientific committee: Dr. Lee Boon-Ooi (chair), Dr. Rachel Ting Sing Kiat (co-chair), Dr. Andrian Liem, Dr. Elizabeth Jones, Dr. Rozel Balmores-Paulino, Maireen Joy N. Perez, Dr. Myreen P. Cleofe, Dr. Maria Theresa B. Gallardo dan Dr. Muhammad Tamar.
Secara umum tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu untuk memberdayakan peneliti Psikologi Indigenous di Asia Tenggara, khususnya peneliti pemula/peneliti muda, mengatasi isu-isu yang relevan secara budaya di Asia Tenggara melalui metodologi penelitian Psikologi Indigenous, mengungkap lokal wisdom/indigenous knowledge yang dianut oleh penduduk asli atau penduduk minoritas di Asia Tenggara serta membangun pusat penelitian untuk penelitian Psikologi Indigenous yang kolaboratif dan multidisipliner di Asia Tenggara.
Sedangkan tujuan khusus kegiatan SEAIP 2023 ini adalah membahas paradigma penelitian terkini/mutakhir tentang resiliensi di Asia Tenggara, mengintegrasikan indigenous resources dalam studi terkait resiliensi, memberdayakan peneliti pemula (early career researcher) untuk melakukan studi-studi resiliensi dengan metodologi indigenous, mempromosikan keragaman budaya dalam ketahanan komunal serta selaras dengan salah satu SDGs Goals, yaitu Kota dan komunitas yang berkelanjutan.
Konferensi ini diharapkan memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pengetahuan Psikologi Indigenous di Asia Tenggara dan memperkuat kolaborasi antara peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang Psikologi.