30 September 2009 pukul 16.30 WITA bertempat di Lecture Teathre 5 fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin, Badan Eksekutif Mahasiswa FKUH menyelenggarakan dialog terbuka kandidat dekan fakultas kedokteran dengan tema “Sinergitas antara dunia kelembagaan dengan dunia pendidikan”. Kegiatan tersebut hanya dihadiri oleh 3 kandidat yakni Prof.dr.Irawan Yusuf,PhD, Prof.dr.Bachtiar Murtala,Sp.Rad, Prof.dr.Suryani As’ad,M.sc,Sp.GK. Sementara seorang kandidat lainnya yaitu Dr.dr.Syahrul Rauf, Sp.OG berhalangan untuk hadir. Peserta yang hadir kurang lebih 316 orang dari kalangan mahasiswa fakuktas kedokteran, beberapa orang dari Senat Fakultas dan beberapa staf pengajar.
Dalam dialog tersebut Prof.dr.Irawan Yusuf,PhD memaparkan bahwa fungsi semua universitas adalah sama yaitu membangun peradaban dengan jalan mengembangkan IPTEK dan seni, menurutnya sinergitas antara dunia kelembangan dengan dunia pendidikan adalah hal yang mutlak. Lembaga dan dekanat bagaikan koin bermata dua, sisi pertama adalah softskill dan sisi yang lainnya adalah hardskill sehingga dapat menghasilkan dokter yang utuh.
Jika selama ini dikatakan bahwa kedua hal tersebut dikatakan tidak jalan maka ada 2 hal yang harus dilihat yaitu sisi fakultas atau pimpinan dan mahasiswa. Sering kita tidak melihat diri sendiri tapi malah lihat orang lain. Ada kondisi eksternal yang bisa terjadi pada mahasiswa maupun pimpinan sehingga hal ini tidak sinergis. Bagi beliau hal yang perlu dilakukan adalah selalu mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berusaha untuk komunikatif terhadap mahasiswa. Tekanan akademik sekarang berbeda dengan yang lalu, kita tidak bisa menyalahkan kondisi karena kondisi selalu berubah, dalam hal ini mahasiswa yang harus menyesuaikan diri. Apalagi sekarang ini sudah ada fasilitas yang mendukung. Diakhir pemaparan beliau mengatakan bahwa masalah utamanya adalah kita mau atau tidak?Bukan bisa atau tidak ?Dan kita seharusnya mengetahui posisi masing-masing.
ada dapat Sementara calon dekan kedua Prof.dr.Bachtiar Murtala,Sp.Rad berpendapat bahwa ciri-ciri mahasiswa adalah independent, cepat, kreatif, dan inisiatif yang intinya memberikan kontribusi terhadap peradaban serta segala masalah yang dikomunikasikan. Mahasiswa bukan hanya sekedar berorganisasi tetapi juga melakukan riset dan seni.
Hal ini berbeda dengan pendapat Prof.dr.Suryani As’ad,Sp.Gk yang memaparkan bahwa sebenarnya tidak perlu ada kata sinergitas antara dunia kelembagaan dengan pendidikan karena dunia kemahasiswaan ada pada dunia pendidikan itu sendiri. Dengan kehidupan kemahasiswaan kita dapat belajar sehingga dapat menjadi alumni yang diharapkan.
Setelah pemaparan pendapat kandidat, mahasiswa diberi kesempatan bertanya kepada masing-masing kandidat. Bidang pendidikan BEM FKUH memberikan 2 buah pertanyaan kepada masing-masing yakni mengenai perubahan kurikulum dari bagian ke system yang dianggap belum mapan serta bagaimana transparansi nilai akademik. Pertanyaan ini dijawab secara berurutan dari prof.Irawan bahwa system pembelajaran saat ini telah berubah yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan mindset dari mahasiswa sendiri.
Kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada skill yang membuat mahasiswa untuk mencari sendiri apa yang harus diketahuinya. Mengenai transparansi nilai beliau hanya mengatakan bahwa hal itu tergantung dari system yang ada. Prof.Bachtiar menjawab bahwa “kita sebagai mahasiswa kedokteran sudah selayaknya kita menguasai ilmu-ilmu dasar seperti anatomi dan histology, karena kalau bukan kita yang belajar siapa lagi?” Namun hal ini juga harus didukung dengan pengetahuan dasar mengenai klinik. Untuk masalah transparansi nilai beliau mengatakan mahasiswa berhak memprotes dan menyampaikan keluhan jika menemukan hal-hal yang dianggap tidak sesuai. Kita hendaknya jangan menggunakan paradigma lama. Prof.Suryani mengatakan bahwa sekarang itu sistemnya adalah student center learning dimana mahasiswa harus belajar serta mempersiapkan diri. Untuk transparansi nilai beliau mengatakan bahwa dari awal setiap system itu mempunyai criteria penilaian.
Bidang KASTRAT mengajukan pertanyaan mengenai class internasional, hubungan birokrat dengan lembaga kemahasiswaan serta dunia pendidikan yang semakin kapitalistik. Jawaban yang diajukan Prof. Irawan adalah tidak pernah mengatakan class internasional, melainkan kelas bahasa inggris, beliau juga tidak pernah menjanjikan kepada mahasiswa untuk coas mahasiswa diluar negeri, karena beliau sendirilah yang mewawancarai saat itu. Barkaitan dengan jumlah mahasiswa FK saat ini yang sangat banyak, dekan membantah hal ini. Menurutnya, fakta yang terjadi justru sebaliknya karena dimasa lalu jumlah mahasiswa FK UH bisa mencapai 2000 orang setiap tahunnya sedangkan saat ini jumlah mahasiswa ± 1800 orang. Beliau yang menjabat sebagai dekan saat ini merasa tidak pernah menintervensi pengkaderan. Mengenai dunia pendidikan yang dianggap kapitalistik, Prof. Irawan juga membantahnya karena menurutnya pengertian kapitalistik yang diajukan bidang KASTRAT berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan sebab pada kenyataannya hingga saat ini biaya yang dibayar mahasiswa jauh lebih murah dibanding dengan biaya yang seharusnya mereka tanggung. Sehubungan dengan masalah ketidakharmonisan, Prof. Irawan juga menyanggahnya sebab beliau selalu menyiapkan waktu untuk berdiskusi dengan mahasiswa.
Mengenai pertanyaan yang berkaitan dengan kelas internasional, Prof Bachtiar hanya menyatakan “masih banyak yang perlu dilakukan”. Sedangkan untuk masalah BHP, Bachtiar sependapat dengan apa yang dikatakan Irawan bahwa BHP adalah suatu mekanisme untuk menciptakan keadilan dalam pendidikan. Suryani sendiri menanggapi masalah kelas internasional, beliau sependapat dengan Prof. irawan. Beliau juga mengatakan bahwa mahasiswa telah diberikan peluang yag hendaknya dimanfaatkan dan disesuaikan, Jangan terjadi ambivalensi. Banyak info yang tidak lengakap yang pada akhirnya akan kembali pada diri sendiri.
Mengenai masalah BHP, para kandidat memberikan jawaban yang relative sama yaitu bahwa BHP adalah upaya untuk menciptakan keadilan dalam pendidikan.
Pertanyaan selanjutnya berasal dari Nasriadi (06) dan Andry (98), mereka mempertanyakan terobosan apa yang akan dilakukan dekan terpilih sehubungan dengan softskill mahasiswa, dan perlindungan terhadap mahasiswa klinik. Masing-masing kandidat menjawab sebagai berikut. Berkaitan dengan softskill prof.irawan menjawab sebenarnya kita belajar softskill sepanjang pendidikan kita. Dengan tutorial kita belajar menghargai pendapat teman, bagaimana cara memimpin, dan masih banyak lagi yang bias kita dapat. Prof.bachtiar menjawab janganlah kita melihat waktu pendidikan, tetapi lihatlah kontennya. Prof.Suryani menanggapi softskill mahasiswa dapat diperoleh dari lembaga mahasiswa. Untuk itu sebagai mahasiswa diharapkan untuk mengembangkannya. Untuk pertanyaan perlindungan terhadap mahasiswa klinik, ketiga kandidat tidak memberikan terebosan sama sekali.
By: TIM REDAKSI SINOVIA